<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="24834">
 <titleInfo>
  <title>Identifikasi Spesies Jamur Penyebab Tinea Kruris Di Perjan RS Dr. Hasan sadikin Bandung Dan RSUP Subang Jawa Barat</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Kurniawati, Yuli</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Bandung</placeTerm>
   <publisher>magister kedokteran spesialis</publisher>
   <dateIssued>2003</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd"></form>
  <extent>xv,; 87 hlm,;29 cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Tinea kruris adalah dermatofitosis pada daerah lipat paha, genital, pubis, &#13;
perineum dan perianal, dapat bersifat akut maupun kronik dan umumnya disertai rasa &#13;
gatal. Prevalensi tinea kruris di Indonesia belum lengkap namun dari sebagian besar &#13;
daerah merupakan dermatofitosis yang paling sering dijumpai. Jamur penyebab &#13;
berbeda di berbagai tempat, penyebab yang paling sering ditemukan adalah &#13;
Trichophyton rubrum (T. rubrum), Epidermophyton floccosum (E.floccosum) dan &#13;
T. mentagrophytes. Faktor predisposisi tinea kruris antara lain adalah faktor suhu dan &#13;
kelembaban udara yang tinggi. &#13;
&#13;
Dilakukan penelitian untuk mengetahuijamur penyebab tinea kruris di Perjan &#13;
RS. dr. Hasan Sadikin Bandung dan RSUD Subang Jawa Barat. Penelitian ini &#13;
dilaksanakan secara survei, dianalisis secara deskriptif, menggunakan metode cross &#13;
sectional dengan subyek penelitian sebanyak 100 orang yaitu masing-masing 50 &#13;
orang dari kedua rurnah sakit tersebut. &#13;
&#13;
Kriteria tinea kruris ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis &#13;
dan pemeriksaan sediaan langsung KOH dan kultur jamur. &#13;
&#13;
Dari hasil penelitian, karakteristik kedua kelompok subyek penelitian &#13;
berdasarkan jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, pekerjaan dan status gizi &#13;
homogen. Penderita laki-laki (61 %) lebih banyak dari perempuan. Kelompok usia &#13;
terbanyak 15-24 tahun (32%) dan usia 45-64 tahun (30%). &#13;
&#13;
Hasil pemeriksaan sediaan langsung KOH didapatkan 95% positif Kultur &#13;
positif didapatkan pada 89 orang (89%). Pada 5 penderita dengan pemeriksaan &#13;
sediaan langsung KOH negatif, semuanya menunjukkan kultur positif Sensitivitas &#13;
pemeriksaan sediaan langsung KOH terhadap kultur adalah 94,4% dengan akurasi &#13;
84 %, sedangkan sensitivitas pemeriksaan kultur didapatkan 88, 42%. &#13;
&#13;
Hasil kultur di Perjan RS dr. Hasan Sadikin Bandung terbanyak adalah &#13;
T. rubrum 39 isolat (78%), 3 isolat diantaranya disertai dengan Candida Spp, &#13;
kemudian E. floccosum 3 (6%), T terestre 3 (6%) sedangkan di RSUD Subang &#13;
didapatkan T rub rum 37 isolat (74%), 8 isolat diantaranya disertai dengan spesies &#13;
lain, lalu E. floccosum 6 (12%), 3 isolat diantaranya disertai dengan spesies lain, &#13;
kemudian T. soudanense 2 (4%) dan T. mentagrophytes 1 (2%). Akumulasi spesies &#13;
jamur yang paling ban yak didapatkan dari hasil kultur di kedua temp at adalah &#13;
T. rubrum 76%, lalu E. floccosum 9%. Spesies jamur penyebab tinea kruris di kedua &#13;
tempat penelitian ini hampir sama. Spesies jamur penyebab tinea kruris di RSUD &#13;
Subang tampak lebih beragam dibandingkan dengan di Perjan RS dr. Hasan Sadikin &#13;
Bandung. &#13;
&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility">Kurniawati, Yuli</note>
 <subject authority="">
  <topic>Kriteria tinea kruris ditegakkan berdasarkan anamn</topic>
 </subject>
 <classification>616.5 Kur i</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>Perpustakaan Universitas Padjadjaran Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi</physicalLocation>
  <shelfLocator>616.5 Kur i/R.13.15</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">01001030700003</numerationAndChronology>
    <sublocation>Perpustakaan Pusat (REF.13.15)</sublocation>
    <shelfLocator>616.5 Kur i/R.13.15</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>20%252Fscan0001.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>24834</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2017-04-01 17:38:32</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2018-07-04 10:45:45</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>