
Text
Analisis Pengaruh Kota terhadap Perekonomian Jawa Barat (1974 - 1998)
Abstrak :
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) sumbangan pertumbuhan faktor-faktor produksi dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan D939 D939 Perpustakaan Sekolah Pascasarjana Tersedia -
Perpustakaan Sekolah PascasarjanaJudul Seri -No. Panggil D939Penerbit : ., Deskripsi Fisik -Bahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi NONETipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab Rusli Ghalib -
Abstrak :
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) sumbangan pertumbuhan faktor-faktor produksi dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonom, (2) perilaku perubahan struktur ekonomi, meliputi: (a) pengaruh pembangunan terhadap urbanisasi, kesempatan kerja, efisiensi aglomerasi dan efisiensi urbanisasi, (b) pembentukan sector-sektor ekonomi kunci perkotaan yang memiliki keterkaitan ke depan dan ke belakang baik, dan (c) proses konsentrasi ekonomi. Untuk maksud tersebut digunakan sejumlah model: (1) model Neo Klasik untuk pertumbuhan regional dari Philip McCann (2001), (2a) model-model pengaruh pembangunan terhadap urbanisasi, pasar tenaga kerja, efisiensi ekonomi agglomerasi, dan efisiensi ekonomi urbanisasi dari Komei Sasaki, dkk (1997), serta model pengukuran kesenjangan pendapatan antar wilayah dari Williamson (1965), (2b) model analisis Input Output metoda keterkaitan ekonomi ke depan dan kebelakang dari Sritua Arif (1993), dan (2c) konsentrasi ekonomi, khususnya model LQ dan model Shift-Share dari Avron Bendavid (1991).Hasil yang diperoleh: (1) sumbangan terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah studi besumber dari pertumbuhan tenaga kerja, diikuti perubahan teknologi, dan pertumbuhan modal pada urutan ke tiga. Namun, dilihat dari sudut pengaruhnya, modallah yang lebih besar pengaruhnya, pengaruh tenaga kerja mendekati inelastis sempurna. (2) Semakin terindustrialisasi suatu WP semakin terurbanisasi WP tersebut. Kebanyakan WP urbanisasi cenderung menambah pengangguran, hanya pada awal-awal pembangunan urbanisasi mengurangi pengangguran. Jika sektor pertanian berhasil, umumnya WP akan memacu urbanisasi (mendukung pendapat Sukanto). Industrialisasi selama periode studi cenderung menghasilkan efisiensi aglomerasi dan efisiensi urbanisasi, tetapi tidak menghasilkan kesenjangan pendapatan antar WP yang mencolok. Seluruh wilayah studi telah terindustrialisasi walau dengan derajat yang berbeda-beda. Tiga WP yang paling terindustrialisasi adalah Botabek, diikuti Banten, dan Bandung Raya. Peranan sektor pertanian dalam menarik modal melalui aktivitas perdagangan cenderung menurun, sebaliknya peranan sektor industri dan sector jasa cenderung meningkat. Pertumbuhan ekonomi di WP-WP dipengaruhi oleh unsur sumbangan wilayah referensi, unsur kinerja pertumbuhan sektoral, dan unsur persaingan antar wilayah.
The objective of this study are to find (1) contribution of economic factors toward each region's economic growth, (2) behavior of the process of change on its economic structures, including (a) influence of development toward urbanization, job oportunity, agglomeration and urbanization efficiency, (b) the formation of urban key sectors that has good forward and backward linkage, and (c) economic concentration process. For that purpose we use several models: (1) Neo-classical model for regional growth from Philip McCann(2001), (2a) Influence of development models to urbanization, urbanization to labor market, labor market, agglomeration economic efficiency, and urbanization economic efficiency from Komei Sasaki, et.al (1997), and interregional income disparities measurement model from Williamson (1965), (2b) Input-Output analysis model, using forward and backward linkage from Sritua Arif (1993), and (2c) Economic concentration, especially LQ model and Shift-Share model from Avron Bendavid..The results obtained are: (1) The greatest contribution to economic growth of the region in study comes from labor growth, followed by technological change, and capital growth. (2)The more industrialized a DR (Development Region) is, the more urbanized it is. For most DRs urbanization tend to increase unemployment, although initially it looks like urbanization is decreasing it. If agricultural sector is successfull, the urbanization in most DRs concerned will be triggered (agreeing with Sukanto (1994)). Industrializaton during period of study (1974-1998) tend to create agglomeration efficiency and urbanization efficiency, but not creating large inter-DRs income disparities. All of the region in study have been industrialized although with uneven levels. The most industrialized is Botabek DR, followed by Banten, and Bandung Raya. Contribution of agricultural sector in attracting capital through trading activities tend to be decreasing, while the role of industrial and service sectors tend to be increasing. Economic growth of the DRs are influenced by component of grants from the referenced regional level and component of interregional competition.
Suteki-Tech.Com | Email Us | ©2004-Present Suteki Global Informatika -
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






