
Text
Peran Subsektor Perkebunan Kelapa pada Perekonomian Wilayah dan Pendapatan Rumah Tangga Petani di Provinsi Gorontalo
Abstrak :
Penelitian ini dilakukan di Provinsi Gorontalo bulan Juli - Desember 2003 dengan menggunakan metode survei. Untuk mengkaji peran ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan D911 D911 Perpustakaan Sekolah Pascasarjana Tersedia -
Perpustakaan Sekolah PascasarjanaJudul Seri -No. Panggil D911Penerbit : Bandung., 2005 Deskripsi Fisik -Bahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi NONETipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab Mahludin H.Baruwadi -
Abstrak :
Penelitian ini dilakukan di Provinsi Gorontalo bulan Juli - Desember 2003 dengan menggunakan metode survei. Untuk mengkaji peran subsektor perkebunan kelapa dalam perekonomian wilayah digunakan data sekunder yaitu data luas lahan dan produksi serta data PDRB tahun 1993 sampai tahun 2000. Untuk mengkaji peran kelapa pada pendapatan rumah tangga petani digunakan data primer dari 210 petani kelapa rakyat sebagai responden pada 2 Kawasan Industri Masyarakat Perkebunan (Kimbun) di 2 kabupaten yaitu Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Bone Bolango. Hasil studi menunjukkan bahwa kelapa memiliki keunggulan dibandingkan dengan komoditas perkebunan lain di Provinsi Gorontalo karena lebih menyebar pada setiap wilayah, merupakan tanaman spesialisasi wilayah dan merupakan basis pada sebagian besar wilayah kecamatan. Dilihat dari perannya sebagai penyumbang PDRB kelapa masih dapat diunggulkan karena kontribusinya secara nyata sama atau melebihi subsektor pertanian lainnya, akan tetapi dari tahun ke tahun sumbangan subsektor ini pada perekonomian wilayah mengalami penurunan. Secara mikro ketergantungan petani pada kelapa cukup tinggi karena 53,56 persen pendapatan rumah tangga berasal dari usahatani kelapa. Meskipun demikian pendapatan rumah tangga yang hanya bersumber dari kelapa saja menyebabkan ketimpangan yang tinggi dalam distribusi pendapatan, adanya sumber pendapatan lain yang bersumber dari usahatani di luar kelapa dan pendapatan luar usahatani telah memberikan perbaikan dalam struktur dan distribusi pendapatan rumah tangga petani kelapa. Dalam mengalokasikan waktu kerja petani pada usahatani kelapa dipengaruhi secara positif dan nyata oleh jumlah tanaman yang menghasilkan, pendapatan yang diperoleh dari kelapa, pendapatan lain yang diperoleh dari luar usahatani kelapa, pengalaman petani dalam usahatani kelapa, jumlah tenaga kerja produktif dalam keluarga dan jumlah tanggungan. Faktor pendapatan di luar usahatani berpengaruh negatif dan nyata pada alokasi waktu kerja petani sedangkan umur tanaman yang menghasilkan, umur petani dan tingkat pendidikan pengaruhnya pada alokasi waktu kerja petani dalam usahatani kelapa adalah positif tetapi tidak nyata. Adanya surplus tenaga kerja dalam usahatani kelapa serta peluang penciptaan lapangan kerja melalui agroindustri berbahan baku kelapa mengindikasikan penelitian ini mendukung asumsi-asumsi yang dikemukakan model dua-sektor Lewis dalam teori perubahan struktural pembangunan ekonomi.
This research was conducted in Gorontalo province in July through December 2003 by using survey method. To study the role of coconut estate subsector on regional economy used data secundary of area and production coconut, and also data of PDRB in 1993 through 2000. To study the role of coconut estate subsector on household income farmer used primary data from 210 farmers in two areas of the estate crop society industry (Kimbun) in two regencies, Gorontalo regency and Bone Bolango regency. The study result showed that coconuts have some superiorities compared with the other estate crop commodities in Gorontalo Province because it spread in every area, also coconut was an area specialization plants, the economy base in most of the districts area, friendliness to environment and have labour surplus. In its role as PDRB donator of coconuts, it could still be proposed as superior because its contribution significantly was the same or exceeded the other agriculture subsector, nevertheless its development from year to year faced some decline. In the micro way, the farmers' dependence on coconuts was quite high because 53.56 percent of household income comes from coconut farm. However, the household income which only come from coconut can case a high imbalance in the income distribution, another income source was available from farm besides coconuts and the other farm income had already given improvement in structure and distribution of the household income of coconut farmers. To allocate the farmers work time on the coconut farm was influenced positively and significantly by a number of mature plants, income gained from coconuts, another income gained besides coconuts farm, the farmers experience in coconuts farm, number of productive labour in family and number of dependency trap. The factor of income besides agriculture influenced negatively and significantly on the allocation of farmers work time, while the age of mature plants, the farmers age and education level influenced on the allocation of farmers work time in coconuts farm was positive but not significant. Existence of labour surplus in coconut farm and also opportunity of creation of employment with agroindustry of coconut indicaton that this study support assumption of two-sector Lewis'model in structural change theory of development of economics.
Suteki-Tech.Com | Email Us | ©2004-Present Suteki Global Informatika -
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






