Detail Cantuman

No image available for this title

Text  

Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L.) yang Diberi Pupuk Organik Difeermentasi dan Pupuk Nitrogen Bervariasi Dosis Tanpa Atau dengan Inokulasi Azospirillum sp.


Abstrak
Penelitian dilaksanakan untuk mengkaji respons tanaman kentang (Solanum tuberosum L.) terhadap pemberian pupuk organik difermentasi ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    D875D875Perpustakaan Sekolah PascasarjanaTersedia
  • Perpustakaan
    Sekolah Pascasarjana
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    D875
    Penerbit : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    -
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    NONE
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    -
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Abstrak
    Penelitian dilaksanakan untuk mengkaji respons tanaman kentang (Solanum tuberosum L.) terhadap pemberian pupuk organik difermentasi (porasi) bersama pupuk N tanpa atau dengan pemberian inokulan Azospirillum sp. serta untuk menentukan dosis optimum porasi dan pupuk N tanpa atau dengan masukan inokulan Azospirillum sp. Percobaan telah dilakukan di dua lokasi, yaitu Pangalengan, Jawa Barat, mulai bulan Mei 2002 sampai bulan September 2002 dan Kebun Percobaan PT. Biofarma, Cisarua, Jawa Barat, mulai bulan Juni 2003 sampai bulan Oktober 2003 berupa percobaan lapangan. Kedua percobaan yang sama berupa percobaan trifaktor dan dilaksanakan dengan Rancangan Acak Kelompok. Faktor pertama adalah porasi (0, 7,5, 15,0, dan 22,5 t ha-1), faktor kedua adalah pupuk N (0, 86, 172, dan 258 kg ha-1 N) dan faktor ketiga adalah inokulan Azospirillum sp. (tanpa atau dengan pemberian inokulan Azospirillum sp.), sedangkan kombinasi perlakuan diulang tiga kali. Hasil percobaan menunjukkan bahwa: (1) perkembangan karakteristika tumbuh tanaman rata-rata tujuh-harian (, , , dan ), baik di Pangalengan maupun di Cisarua, lebih cepat akibat masukan porasi dan pupuk N dengan dosis meningkat bersama masukan inokulan Azospirillum sp. dibandingkan dengan tanpa masukan inokulan Azospirillum sp, sedangkan nilai , , , dan tertinggi dicapai pada pemberian porasi 7,5 sampai 22,5 t ha-1 bersama pupuk 0 sampai 172 kg ha-1 N dengan masukan inokulan Azospirillum sp.; (2) konsentrasi N, P, dan K tanaman lebih tinggi dengan meningkatnya dosis porasi dan pupuk N bersama dengan pemberian inokulan Azospirillum sp., baik di Pangalengan maupun di Cisarua, sedangkan konsentrasi N tertinggi diperoleh dengan masukan porasi 22,5 t ha-1 dan pupuk 258 kg ha-1 N di Pangalengan dan 172 kg ha-1 N di Cisarua bersama masukan inokulan Azospirillum sp., dan konsentrasi P dan K tanaman tertinggi, baik di Pangalengan maupun di Cisarua diperoleh dengan pemberian porasi 22,5 t ha-1 dan pupuk 172 kg ha-1 N bersama masukan inokulan Azospirillum sp.; (3) komponen hasil (jumlah per petak umbi yang berukuran < 60 g, 60 sampai 80 g, dan > 80 g, dan jumlah umbi total) meningkat dengan meningkatnya pemberian porasi dan pemberian pupuk N yang meningkat pula bersama pemberian inokulan Azospirillum sp.; semua komponen hasil lebih tinggi dengan masukan porasi 22,5 t ha-1 dan pupuk 172 kg ha-1 N bersama masukan inokulan Azospirillum sp., kecuali di Cisarua jumlah umbi berukuran 60 sampai 80 g dengan masukan pupuk 258 kg ha-1 N, dan jumlah umbi berukuran > 80 g dengan pemberian porasi 15 t ha-1 bersama pupuk 258 kg ha-1 N; (4) dosis optimum porasi dan pupuk N tanpa inokulan Azospirillum sp. di Pangalengan masing-masing 15,287 t ha-1 dan 228,519 kg ha-1 N memberikan hasil maksimum dengan bobot umbi 6,028 kg per petak atau 25,117 t ha-1, sedangkan dengan masukan inokulan Azospirillum sp. dosis optimum porasi dan pupuk N masing-masing 16,464 t ha-1 dan 190,110 kg ha-1 N dengan hasil maksimum bobot umbi 6,493 kg per petak atau 27,054 t ha-1; di Cisarua dosis optimum porasi dan pupuk N tanpa masukan inokulan Azospirillum sp. masing-masing 17,020 t ha-1 dan 151,157 kg ha-1 N yang memberikan hasil maksimum dengan bobot umbi 7,023 kg per petak atau 29,263 t ha-1, sedangkan dengan pemberian inokulan Azospirillum sp. dosis optimum porasi dan pupuk N masing-masing 19,382 t ha-1 dan 136,163 kg ha-1 N dicapai hasil maksimum dengan bobot umbi 7,077 kg per petak atau 29,488 t ha-1; (5) komponen hasil yang berpengaruh terhadap hasil umbi kentang di Pangalengan adalah jumlah per petak umbi kentang berukuran < 60 g dan jumlah per petak umbi kentang total, dan di Cisarua adalah jumlah per petak umbi kentang berukuran > 80 g.

    A research was conducted to study response of potato plant to the application of fermented organic matter ('porasi') and N fertilizer without or with inoculation of Azospirillum sp. and also to determine optimal rate of application of 'porasi' and N fertilizer without or with inoculant Azospirillum sp. Two field experiments were carried out in two locations, namely in Pangalengan, West Java, from May 2002 to September 2002, and experimental station of PT. Biofarma, Cisarua, West Java, from June 2003 to Oktober 2003. The two similar experiments were done in a Randomized Block Design of factorial pattern of three factors: (1) 'porasi' (0, 7.5, 15.0, and 22.5 t ha-1), (2) N fertilizer (0, 86, 172, and 258 kg ha-1 N), (3) Azospirillum sp. (without and with inoculant of Azospirillum sp.). The treatment combinations were replicated three times. Results of the experiments showed that: (1) development of average seven day periods of growth characteristics (LAI, NAR, CGR, and TGR), both in Pangalengan and Cisarua, were faster due to application of 'porasi' and N fertilizer of increasing rates with inoculant of Azospirillum sp. compared to those without inoculant of Azospirillum sp., whereas the highest LAI, NAR, CGR, and TGR were reached due to application of 7.5 to 22.5 t ha-1 'porasi' and 0 to 172 kg ha-1 N fertilizer and inoculation of Azospirillum sp.; (2) nitrogen, phosphorus, and potassium contents were higher as rates of 'porasi' and N fertilizer increased and with inoculation of Azospirillum sp., both in Pangalengan and Cisarua, whereas the highest N concentration was obtained due to application of 22.5 t ha-1 'porasi' and application of 258 kg ha-1 N fertilizer in Pangalengan and 172 kg ha-1 N fertilizer in Cisarua with inoculation of Azospirillum sp., and the highest phosphorus and potassium concentration were obtained by application of 22.5 t ha-1 'porasi' and application of 172 kg ha-1 N fertilizer with inoculation of Azospirillum sp., either in Pangalengan or Cisarua; (3) yield components (number of individual tuber per plot of < 60 g, of 60 to 80 g, of > 80 g, and number of total tubers) increased due to increasing rates of 'porasi' and N fertilizer application with inoculation of Azospirillum sp.; all yield components were higher due to application of 22.5 t ha-1 of 'porasi' and application of 172 kg ha-1 N fertilizer with inoculation of Azospirillum sp., except in Cisarua number of individual tuber per plot of 60 to 80 g due to application of 258 kg ha-1 N fertilizer and number of tuber per plot of > 80 g due to application of 'porasi' of 15.0 t ha-1 with N fertilizer of 258 kg ha-1; (4) the optimum rate of 'porasi' and N fertilizer without inoculation of Azospirillum sp. was 15.287 t ha-1 and 228.519 kg ha-1 N, respectively, to obtain maximum yield in Pangalengan of 6.028 kg per plot or 25.117 t ha-1, whereas with inoculation of Azospirillum sp. the optimum rate of 'porasi' and N fertilizer was 16.464 t ha-1 and 190.110 kg ha-1 N, respectively, with maximum yield of 6.493 kg per plot or 27.054 t ha-1; in Cisarua the optimum rate of 'porasi' and N fertilizer without inoculation of Azospirillum sp. to obtain maximum yield was 17.020 t ha-1 and 151.157 kg ha-1 N, respectively, with maximum yield of 7.023 kg per plot or 29.263 t ha-1, whereas with inoculation of Azospirillum sp. the optimum rate of 'porasi' and N fertilizer was 19.382 t ha-1 and 136.163 kg ha-1 N, respectively, with maximum yield of 7.077 kg per plot or 29.488 t ha-1; (5) yield components affected yield are number of individual tuber per plot of < 60 g and number of total tuber in Pangalengan, and number of tuber per plot of > 80 g in Cisarua.

    Suteki-Tech.Com | Email Us | ©2004-Present Suteki Global Informatika
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi