Detail Cantuman

No image available for this title

Text  

D104- Potensi Buah Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.) Sebagai Imunomodulator: Formulasi, Desain Produksi Sediaan Kapsul Lunak, dan Aspek Ekonominya (Damaris Br. Hutapea; Prof. Dr. Yasmiwar Susilawati, M.Si; Riezki Amalia, M.Si., Ph.D)


Salah satu tumbuhan yang terdapat di hutan Indonesia yang berpotensi sebagai obat herbal adalah Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.). Buah ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    FFUP20260188D104Tersedia
  • Perpustakaan
    Fakultas Farmasi
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    D104
    Penerbit Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran : Jatinangor.,
    Deskripsi Fisik
    -
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    D104
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    -
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Salah satu tumbuhan yang terdapat di hutan Indonesia yang berpotensi sebagai obat herbal adalah Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.). Buah Andaliman mengandung senyawa fenolik dan flavonoid yang diketahui dapat memodulasi respons imun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan potensi ekstrak buah Andaliman sebagai imunomodulator dengan melakukan pengujian aktivitas imunomodulator secara in vitro, pemeriksaan parameter standar ekstrak, mendapatkan struktur senyawa aktif, profil kandungan kimia ekstrak, formulasi emulsi ekstrak, desain produksi kapsul lunak, parameter standar dan stabilitas sediaan kapsul lunak dan pengkajian aspek ekonomi sediaan kapsul lunak andaliman sebagai kandidat imunomodulator. Pada penelitian ini, dilakukan proses ekstraksi buah Andaliman dengan pelarut etanol 70% kemudian ditetapkan parameter spesifik dan non spesifik serta profilnya menggunakan FTIR. Pengujian parameter spesifik telah ditetapkan meliputi parameter fisik yaitu bentuk, warna, pH, total solid (TS) dan berat jenis, dan parameter mkrobiologi yaitu Angka lempeng total (ALT), Angka kapang kamir (AKK), jumlah bakteri Eschericia coli dan Salmonella sp. Penetapan parameter non spesifik meliputi berat jenis, susut pengeringan, kadar air, kandungan abu total dan kandungan abu tidak larut asam. Pengujian isolat dari ekstrak Andaliman dilakukan menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan spektroskopi UV-Vis, FT-IR, MS, dan NMR. Penguijian kandungan senyawa ekstrak Andaliman dilakukan menggunakan LC-HRMS/MS dan GC-MS, serta pengujian senyawa secara kuantitatif menggunakan HPLC dan Spektrofotometri UV-Vis. Stabilitas ekstrak Andaliman dan Andaliman kapsul lunak diuji dengan penyimpanan pada suhu 25°C ± 2°C dan kelembaban relatif 60% ± 5% selama 12 bulan. Ekstrak Andaliman diformulasikan menjadi emulsi yang stabil, kemudian dienkapsulasi menjadi sediaan kapsul lunak. Aktivitas imunomodulator ekstrak Andaliman dan emulsinya diuji dengan mengukur viabilitas sel limfosit menggunakan metode WST-8. Berdasarkan analisis LC-HRMS/MS ekstrak etanol andaliman mengandung flavonoid dan senyawa fenolik terbanyak, diikuti oleh asam lemak dan alkaloid, dan beberapa senyawa kontaminan berasal dari kelompok ftalat, dan diketahui terdapat sebelas senyawa yang berpotensi bertindak sebagai agen imunomodulator yaitu (2E,4E)- N-(2-metil propil) dodeka-2,4-dienamida, asam trans-3-indolakrilat, kuersetin, etil-morfin, asam α-linolenat, L-isoleusin, asam D- (+)-pipekolinat, asetilkolin, kaempferol, asam α-eleostearat, isorhamnetin. Berdasarkan analisis GC-MS, diketahui ekstrak Andaliman mengandung minyak atsiri yaitu geranil asetat 41,23%, d-limonen 30,29%, geraniol 7,29%, citronellal 4,86%, 3-carene 3,75%, bicyclo (3,1,1) hept-2-ene, 3,6,6-trimethyl 1,68%, linalool 1,43%, terpineol 1,07%, caryophyllene 1,06%, dan 2-propenoic acid, 3-phenyl-methyl ester 0,96%. Senyawa-senyawa fenolik, flavonoid dan minyak atsiri tersebut diketahui memiliki potensi sebagai immunomodulator. Dari Isolasi ekstrak Andaliman menggunakan eluen etil asetat/n-heksana/asam format (7:3:0,5), kemudian dilakukan pengujian isolat, diperoleh spot KLT menunjukkan Rf sebesar 0,62 yang sama dengan spot quercetin, pengujian spektrum UV-Vis dengan absorbansi maksimum pada panjang gelombang 369,5 nm menunjukkan adanya sistem aromatik terkonjugasi yang menjadi ciri khas senyawa quercetin, pengujian spektrum FTIR mengandung gugus fungsional seperti eter aromatik C-O (1022,00); aromatik C=C (1452,62 dan 1418,17); keton aromatik C=O (1653,57); aromatik CH (2945,42 dan 2830,59); dan OH aromatik yang melebar (3324,37) yang mendukung struktur molekuler senyawa quercetin, serta spektrum NMR menunjukkan puncak-puncak spektrum mirip senyawa quercetin. Hasil analisis spektroskopi meliputi UV-Vis, FT-IR, NMR, dan spektrometri massa mengkonfirmasi bahwa senyawa yang diisolasi diidentifikasi sebagai 3,3′,4′,5,7-pentahydroxyflavone, yang umumnya dikenal sebagai quercetin, dengan rumus molekul C15H10O7. Berdasarkan analisis menggunakan HPLC dan Spektrofotometri UV-Vis diketahui kandungan ekstrak andaliman meliputi kadar total fenolik sebesar 4%, total flavonoid sebesar 0,35%, dan quercetin sebesar 0,13%. Berdasarkan pengembangan formulasi emulsi ekstrak Andaliman diperoleh emulsi F3.3F menujukkan stabilitas paling baik, dimana fase minyak mengandung 30% MCT dan 5 % Gellucire (gliserida lauroil-PEG-32) dan fase air mengandung 35% pengemulsi Polysorbat- (Tween) 80 dan 30% ekstrak Andaliman. Stabilitas ini disebabkan oleh keberadaan pengemulsi Tween-80, yang memiliki fungsi pembasahan yang unggul, deterjensi yang kuat, dan sifat pengemulsi yang baik dibandingkan dengan pengemulsi PEG yang digunakan pada formulasi F3.3E. Berdasarkan pengujian viabilitas sel diketahui nilai viabilitas sel limfosit dengan perlakuan ekstrak andaliman sebesar173,697% pada 15,625 ppm; 174,923% pada 31,25 ppm; 168,457% pada 62,5 ppm, menunjukkan nilai yang lebih baik daripada perlakuan dengan asam kojat sebesar 144,375% pada 15,625 ppm; 137,891% pada 31,25 ppm; 146,345% pada 62,5 ppm, yang digunakan sebagai standar agen imunomodulator. Viabilitas sel limfosit dengan perlakukan emulsi Andaliman sebesar 136,386 pada 15,625 ppm; 133,673% pada 31,25 ppm; 121,038 pada 62,5%. Stabilitas ekstrak Andaliman dan sediaan Andaliman kapsul lunak telah diuji dan diperoleh hasil yang stabil selama penyimpanan 12 bulan pada suhu 25°C ± 2°C dan kelembaban relatif 60% ± 5%. Nilai ekonomis Andaliman kapsul lunak ditetapkan berdasarkan perhitungan Harga Pokok Produk (HPP) dan Harga Jual Produk (HJP) didapat 70% lebih rendah dibandingkan produk Imunomodulator berbahan herbal yang ada di pasar, nilai Tingkat komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 78,85% lebih tinggi dari standar e-catalog sebesar 40%, hal ini berpotensi meningkatkan daya saing produk tersebut di pasar. Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak Andaliman dapat ditetapkan parameter kualitasnya sebagai bahan baku ekstrak bahan alam, ekstrak mengandung yang berpotensi kuat sebagai agen imunomodulator dan formulasinya dalam bentuk emulsi yang dienkapsulasi menjadi sediaan kapsul lunak memiliki stabilitas yang baik, serta produk tersebut memiliki nilai ekonomis yang berpotensi meningkatkan daya saing produk tersebut di pasar.
    Kata kunci: andaliman, ekstrak, imunomodulator, emulsi, kapsul lunak.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi