
Text
T366- Analisis Utilitas Biaya Kombinasi Aspirin-Klopidogrel Dibandingkan Dengan Aspirin-Ticagrelor Pada Pasien Sindrom Koroner Akut di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung (Ideasha Aslama; Rano Kurnia Sinuraya, M.KM., Ph.D; Neily Zakiyah, M.Sc., Ph.D; Dr. Triwedya Indra Dewi, Sp.JP)
Sindrom koroner akut (SKA) merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas kardiovaskular. Dual antiplatelet therapy (DAPT) menggunakan kombinasi ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan FFUP20260146 T366 Tersedia -
Perpustakaan Fakultas FarmasiJudul Seri -No. Panggil T366Penerbit Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran : Jatinangor., 2026 Deskripsi Fisik -Bahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi T366Tipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek -Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab - -
Sindrom koroner akut (SKA) merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas kardiovaskular. Dual antiplatelet therapy (DAPT) menggunakan kombinasi aspirin dengan penghambat reseptor P2Y12 seperti klopidogrel atau ticagrelor direkomendasikan sebagai terapi standar setelah fase akut. Ticagrelor memiliki efektivitas klinis yang lebih baik, namun biaya terapi yang lebih tinggi sehingga menimbulkan pertimbangan efesiensi pembiayaan dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis utilitas biaya kombinasi aspirin-ticagrelor dibandingkan aspirin-klopidogrel pada pasien pasca SKA yang sedang menjalani perawatan rawat jalan. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain studi cross-sectional dilakukan pada pasien pasca SKA di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung. Analisis dilakukan pada perspektif rumah sakit dan BPJS Kesehatan. Kualitas hidup diukur dengan menggunakan kuesioner EQ-5D-5L dan dikonversi menjadi quality-adjusted life years (QALY). Total sampel pada penelitian ini adalah 104 pasien terdiri dari 73 pasien kelompok aspirin-klopidogrel dan 31 pasien kelompok aspirin-ticagrelor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai utilitas pada kelompok ticagrelor dan klopidogrel masing-masing adalah 0,951 dan 0,739 keduanya menunjukkan perbedaan yang signifikan. Total biaya pada perspektif rumah sakit pada kelompok ticagrelor Rp. 56.018.750 sedangkan pada kelompok klopidogrel Rp. 44.989.050, sedangkan pada perspektif BPJS pada masing-masing kelompok adalah Rp. 47.648.000 dan Rp. 46.251.300. Nilai ICUR pada perspektif rumah sakit Rp. 52.026.886 per QALY sedangkan untuk perspektif BPJS Rp. 6.588.207 per QALY. Kesimpulan pada penelitian ini adalah terapi DAPT aspirin-ticagrelor merupakan terapi yang cost-effective meskipun dengan biaya yang lebih tinggi namun memberikan efektivitas yang lebih baik.
Kata kunci: Cost Utility Analysis, Dual Antiplatelet Therapy, Incremental Cost Utility Ratio, Quality Adjust Life Years, Sindrom koroner akut.
-
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






