
Text
T365- Analisis Kualitatif Penggunaan Antibiotik Tanpa Resep di Kota Gorontalo (Khairunnisa Yahya; Dr. Dika Pramita Destiani, M.Farm; Rano Kurnia Sinuraya, M.KM., Ph.D)
Latar Belakang: Resistensi antibiotik merupakan ancaman kesehatan global yang terus meningkat, dan salah satu penyebab utamanya adalah penggunaan ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan FFUP20260145 T365 Tersedia -
Perpustakaan Fakultas FarmasiJudul Seri -No. Panggil T365Penerbit Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran : Jatinangor., 2026 Deskripsi Fisik -Bahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi T365Tipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek -Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab - -
Latar Belakang: Resistensi antibiotik merupakan ancaman kesehatan global yang terus meningkat, dan salah satu penyebab utamanya adalah penggunaan antibiotik tanpa resep. Kota Gorontalo termasuk daerah dengan prevalensi penggunaan antibiotik tanpa resep yang tinggi serta memiliki karakteristik distribusi antibiotik yang banyak diperoleh melalui warung dan jalur informal. Fenomena ini melibatkan berbagai pihak, yaitu konsumen, penjual antibiotik, dan regulator yang berperan dalam pengawasan peredaran obat.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana konsumen, penjual (apotek, toko obat, dan warung), dan regulator memaknai praktik penggunaan antibiotik tanpa resep di Kota Gorontalo, memahami latar belakang interpersonal, organisasi, dan komunitas yang memengaruhi praktik tersebut, serta mengeksplorasi pengendalian praktik penggunaan antibiotik tanpa resep yang dilakukan oleh regulator.
Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Informan terdiri atas konsumen, penjual (apoteker/tenaga teknis kefarmasian, pegawai toko obat, dan pemilik warung), serta regulator dari Dinas Kesehatan Kota Gorontalo dan Balai Besar POM. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan snowball sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam menggunakan pedoman wawancara berbasis Social Ecological Model (SEM) dan dianalisis menggunakan Atlas.ti 9. Keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber, member checking, dan peer debriefing.
Hasil: Penelitian melibatkan 26 informan yang terdiri atas konsumen, penjual (apotek, toko obat, dan warung), serta regulator. Analisis menghasilkan 51 kode yang dikelompokkan ke dalam beberapa subtema dan tema berdasarkan Social Ecological Model (SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumen, penjual, dan regulator memaknai praktik penggunaan antibiotik tanpa resep secara berbeda. Apotek, toko obat, dan regulator umumnya memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai antibiotik, sedangkan masyarakat dan sebagian penjual warung masih menunjukkan berbagai miskonsepsi mengenai fungsi, aturan penggunaan, dan risiko resistensi antibiotik. Penelitian ini juga menggambarkan latar belakang interpersonal, organisasi, dan komunitas yang memengaruhi praktik penggunaan antibiotik tanpa resep. Pada level interpersonal, praktik tersebut berkaitan dengan hubungan keluarga, orang terdekat, tenaga kesehatan informal, serta informasi dari internet. Pada level organisasi, praktik tersebut berkaitan dengan kondisi pelayanan kefarmasian, kemudahan memperoleh antibiotik, tekanan dari konsumen, serta pertimbangan operasional dalam pelayanan. Sementara itu, pada level komunitas, praktik tersebut berkaitan dengan kebiasaan masyarakat menggunakan antibiotik tanpa resep serta keberadaan sarana penjualan obat yang memudahkan akses terhadap antibiotik. Pengendalian praktik penggunaan antibiotik tanpa resep dilakukan melalui pengawasan, pembinaan, edukasi, inspeksi, dan penindakan oleh regulator. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi berbagai tantangan, seperti tingginya permintaan masyarakat, distribusi antibiotik melalui jalur informal, serta kesenjangan antara regulasi dan praktik di lapangan.
Kesimpulan: Praktik penggunaan antibiotik tanpa resep di Kota Gorontalo dimaknai secara berbeda oleh konsumen, penjual, dan regulator. Penelitian ini menggambarkan latar belakang interpersonal, organisasi, dan komunitas yang memengaruhi praktik penggunaan antibiotik tanpa resep, sementara pengendaliannya masih menghadapi berbagai tantangan dalam implementasi kebijakan. Oleh karena itu, diperlukan penguatan edukasi kepada masyarakat, peningkatan pengawasan distribusi antibiotik, optimalisasi pelayanan kefarmasian, serta kolaborasi lintas sektor untuk mendukung penggunaan antibiotik yang rasional.
Kata kunci: antibiotik, penggunaan antibiotik tanpa resep, resistensi antibiotic.
-
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






