Detail Cantuman

No image available for this title

Text  

T357- Penghambatan Domain BRCA1-BRCT Termutasi oleh Senyawa Bawang Dayak (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb): Studi Insilico dan In Vitro Sel Kanker Payudara MCF-7 (Itqan Athaya Al Khalily; Dr. Sandra Megantara, M.Farm; Dr. Diah Lia Aulifa, M.Si)


Bawang Dayak (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb.) secara tradisional telah digunakan sebagai tanaman obat dan berpotensi sebagai sumber senyawa ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    FFUP20260069T357Tersedia
  • Perpustakaan
    Fakultas Farmasi
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    T357
    Penerbit Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran : Jatinangor.,
    Deskripsi Fisik
    -
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    T357
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    -
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Bawang Dayak (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb.) secara tradisional telah digunakan sebagai tanaman obat dan berpotensi sebagai sumber senyawa bioaktif antikanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas sitotoksik fraksi E. bulbosa terhadap sel kanker payudara MCF-7 serta mengintegrasikan temuan tersebut dengan prediksi In Silico yang menargetkan protein BRCA1-BRCT sebagai pendekatan preliminary screening. Sebanyak 500 gram simplisia kering bawang Dayak diekstraksi menggunakan pelarut etanol 96% sebanyak 5L selama 5 × 24 jam dan kemudian disaring, dan pelarutnya diuapkan menggunakan rotary evaporator pada suhu 50 °C hingga diperoleh ekstrak berkonsistensi kental berwarna ungu kemerahan dengan rendemen sebesar 10,784%. Selanjunya 30 gram ekstrak kental bawang dayak difraksinasi menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat, dan air masing masing sebanyak 300 mL kemudian disaring, dan pelarutnya diuapkan menggunakan rotary evaporator pada suhu 50 °C hingga diperoleh fraksi berkonsistensi kental berwarna ungu kecoklatan dengan masing masing rendemen sebesar (5,93%; 3,76%; dan 58,06%). Aktivitas sitotoksik diuji pada fraksi menggunakan menggunakan uji MTT, dan nilai IC₅₀ dihitung melalui analisis regresi nonlinier. Analisis statistik dilakukan untuk membandingkan efek sitotoksik antar fraksi. Fraksi paling aktif dikarakterisasi menggunakan LC–MS/MS. Fraksi etil asetat menunjukkan aktivitas sitotoksik paling kuat dengan nilai (IC₅₀=78,68 ppm), SEANGKAN fraksi n-heksana (IC₅₀ =148,1 ppm) dan fraksi air (IC₅₀= 3130 ppm) .Analisis LC–MS/MS pada fraksi etil asetat mengungkap keberadaan senyawa epikatekin galat, asam klorogenat, oxyresveratrol, eleutherinol, eleutherine, isoliquiritigenin. selanjutnya Molecular docking dan simulasi dinamika molekuler dilakukan untuk mengevaluasi interaksi ligan dengan domain BRCT protein BRCA1. Simulasi molecular docking dilakukan untuk menilai mode dan afinitas pengikatan, dengan fokus pada energi ikat, konstanta inhibisi, pembentukan ikatan hidrogen, serta interaksi hidrofobik. Pose hasil docking terbaik selanjutnya dianalisis melalui simulasi dinamika molekuler (MD) selama 150 ns menggunakan perangkat lunak Amber yang sebelumnya dipreparasi pada situs CHARMM-GUI untuk mengevaluasi kestabilan kompleks berdasarkan parameter RMSD, RMSF, luas permukaan yang dapat diakses pelarut (SASA), radius girasi (RoG), serta dinamika interaksi ligan–protein. Di antara 22 fitokimia yang dilakukan penambatan moleculer, Hasil In Silico menunjukkan bahwa epikatekin galat (−6,73 kkal/mol; Ki 11,69 µM) dan asam klorogenat (−6,61 kkal/mol; Ki 14,33 µM) berikatan secara stabil pada domain BRCT protein BRCA1 melalui ikatan hidrogen dan interaksi hidrofobik, terutama melibatkan residu kunci Arg1699, Leu1701, dan Glu1836, serta mempertahankan kestabilan kompleks selama simulasi dinamika molekuler (RMSD < 0,5 nm, dengan nilai SASA dan Rg yang relatif konstan), sebanding dengan ligan kontrol olaparib.
    Kata kunci: Bawang Dayak, kanker payudara, MCF-7, BRCA1-BRCT, Sitotoksisitas
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi