
Text
D92- Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Pencarian Pengobatan Masyarakat Indonesia (Indah Laily Hilmi; Prof. Irma Melyani Puspitasari, S.Si., M.T., Ph.D; Prof. Rizky Abdulah, Ph.D; Sofa Dewi Alfian, S.Farm., M.K.M., Ph.D)
Latar Belakang dan Tujuan:
Perilaku pencarian pengobatan dalam Model Andersen dipengaruhi oleh faktor predisposisi, pendukung, dan kebutuhan. ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan FFUP20260050 D92 Tersedia -
Perpustakaan Fakultas FarmasiJudul Seri -No. Panggil D92Penerbit Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran : Jatinangor., 2026 Deskripsi Fisik -Bahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi D92Tipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek -Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab - -
Latar Belakang dan Tujuan:
Perilaku pencarian pengobatan dalam Model Andersen dipengaruhi oleh faktor predisposisi, pendukung, dan kebutuhan. Di Indonesia, preferensi pencarian pengobatan banyak dipengaruhi oleh faktor sosial budaya, persepsi terhadap penyakit, serta akses layanan kesehatan. Sebagian besar penelitian masih bergantung pada data sekunder, berfokus pada wilayah tertentu, atau hanya menelaah satu jalur pengobatan. Dinamika pemilihan layanan pada era pascapandemik setelah COVID-19 cenderung mengombinasikan berbagai macam pengobatan tetapi belum tergambarkan secara menyeluruh. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi perilaku pencarian pengobatan masyarakat Indonesia dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhinya berdasarkan data sekunder serta data primer.
Metode:
Penelitian ini menggunakan desain potong lintang menggunakan data sekunder dari data Indonesian Family Life Survey (IFLS-5) tahun 2014 dengan total 2.471 responden dan data primer melalui survei terhadap 2.729 responden di Indonesia pada tahun 2024. Analisis data sekunder menggunakan regresi logistik biner dan data primer menggunakan regresi logistik multinomial.
Hasil:
Data sekunder menunjukkan bahwa 80,7% responden mencari pengobatan ke fasilitas formal dan 19,3% ke fasilitas informal. Faktor yang signifikan mempengaruhi pencarian pengobatan meliputi suku (Bugis OR=9,18; Sunda OR=3,94; Betawi OR=2,27; Minang OR=2,02; Madura OR=0,29), pekerjaan pensiunan (OR=2,96), tidak merokok (OR=1,60), pendapatan 3 km (OR = 1,84), biaya (out-of-pocket) ≤Rp100.000 (OR=1,96), serta penyakit kronis tunggal (OR=1,39).
Data primer menunjukkan pencarian pengobatan yang lebih beragam yaitu ke fasilitas formal (52,5%), swamedikasi (18,9%), fasilitas majemuk (13,3%), dan fasilitas informal (3,7%). Pada fasilitas formal, faktor yang signifikan mempengaruhi meliputi usia >50 tahun (OR=2,53), usia 20–30 (OR=1,73), usia 31–40 (OR=1,72), perempuan (OR=1,57), suku Batak (OR=3,88), religiusitas tinggi (OR=2,01), pendapatan Rp 1.500.000–2.500.000 (OR=2,09) dan Rp2.500.001–3.500.000 (OR=2,46), biaya (out-of-pocket) >Rp100.000 (OR=10,02), status kesehatan kurang sehat (OR=6,92), serta penyakit kronis (OR=4,66). Pada fasilitas informal, faktor signifikan meliputi suku Batak (OR=12,34), suku Jawa (OR=2,56), suku lainnya (OR=2,50), pendidikan tinggi (OR=2,42), pemeriksaan kesehatan (OR=1,80), pendapatan Rp2.500.001–3.500.000 (OR=3,93) dan >Rp3.500.000 (OR=2,12), tinggal di pedesaan (OR=1,75), biaya >Rp100.000 (OR=8,45), status kesehatan kurang sehat (OR=7,60), serta penyakit kronis (OR=4,85). Pada swamedikasi, faktor signifikan mencakup suku Jawa (OR=1,74), pendidikan tinggi (OR=1,57), tidak menikah (OR=1,63), religiusitas tinggi (OR=2,04), pendapatan Rp2.500.001–3.500.000 (OR=2,50), biaya >Rp100.000 (OR=3,30), serta status kesehatan kurang sehat (OR=5,37). Pada fasilitas majemuk, faktor signifikan meliputi jenis kelamin perempuan (OR=1,48), suku Batak (OR=6,23), suku lainnya (OR=2,67), suku Jawa (OR=1,92), tidak menikah (OR=1,79), pendapatan Rp 1.500.000–2.500.000 (OR=2,10) dan Rp2.500.001–3.500.000 (OR=2,48), akses ≤3 km (OR=1,47), biaya >Rp100.000 (OR=13,93), status kesehatan kurang sehat (OR=7,55), serta penyakit kronis (OR=6,42).
Simpulan:
Berdasarkan data sekunder tahun 2014 dan data primer 2024, sebagian besar masyarakat Indonesia masih memilih fasilitas formal untuk pencarian pengobatan. Faktor yang mempengaruhi pencarian pengobatan baik di tahun 2014 maupun di 2024 adalah suku, pendapatan, aksesibilitas, biaya (out-of-pocket), dan jenis penyakit. Pada tahun 2024 faktor lain yang mempengaruhi adalah usia, jenis kelamin, pendidikan, status pernikahan, daerah tempat tinggal, status kesehatan, tingkat religiusitas, dan pemeriksaan kesehatan. Temuan ini memberikan gambaran bagi pembuat kebijakan, tenaga kesehatan, dan peneliti dalam mengembangkan intervensi terarah untuk meningkatkan akses dan pemanfaatan layanan kesehatan, guna memperbaiki status kesehatan dan pemerataan kesehatan di Indonesia.
Kata kunci: IFLS-5, Indonesia, perilaku pencarian pengobatan
-
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






