
Text
D83- Model Telefarmasi Untuk Mengurangi Risiko Interaksi Obat Pada Pengobatan Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 (Ida Lisni; Prof. Dr. Keri Lestari, M.Si; Dr. Lucia Rizka Andalusia, M.Farm)
Latar Belakang dan Tujuan: Manajemen diabetes menghadapi tantangan yang saling terkait seperti polifarmasi dan kompleksitas kepatuhan, yang ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan FFUP20260003 D83 Tersedia -
Perpustakaan Fakultas FarmasiJudul Seri -No. Panggil D83Penerbit Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran : Jatinangor., 2025 Deskripsi Fisik -Bahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi D83Tipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek -Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab - -
Latar Belakang dan Tujuan: Manajemen diabetes menghadapi tantangan yang saling terkait seperti polifarmasi dan kompleksitas kepatuhan, yang menghambat pemberian perawatan yang efektif. Telefarmasi sangat berpotensi untuk merevolusi perawatan diabetes dengan meningkatkan peran penting apoteker. Namun, studi tentang model telefarmasi yang dirancang spesifik untuk negara Indonesia masih sedikit. Tujuan dari penelitian ini adalah memprediksi risiko interaksi obat pada pengobatan pasien diabetes melitus tipe 2 di Indonesia, merancang model telefarmasi untuk mengurangi risiko interaksi obat dan mengontrol kadar gula darah, serta menganalisis efektivitas model telefarmasi tersebut.
Metode: Sebuah database dikembangkan dengan mengintegrasikan pemindai interaksi obat ke dalam aplikasi telefarmasi InaTTI. Aplikasi ini terhubung dengan Patient Medication Record (PMR) dan akun WhatsApp pasien untuk memfasilitasi layanan konseling farmasi jarak jauh. Efektivitas model telefarmasi dianalisis menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan kelompok kontrol non-ekivalen, yang dilaksanakan di Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung, Indonesia. Studi ini membandingkan dua kelompok pasien diabetes melitus tipe 2 yang mengikuti program Prolanis pada bulan April–Oktober 2023: kelompok kontrol (sebelum implementasi telefarmasi) dan kelompok uji (setelah implementasi telefarmasi). Pada kelompok kontrol, potensi interaksi obat diidentifikasi secara manual menggunakan aplikasi Medscape, dan pasien menerima konseling secara konvensional. Pada kelompok uji, deteksi interaksi obat dilakukan secara otomatis melalui aplikasi InaTTI yang terintegrasi, dan konseling diberikan melalui WhatsApp oleh apoteker. Analisis dilakukan secara prospektif terhadap data resep dan kadar glukosa darah puasa untuk mengevaluasi perubahan deteksi interaksi obat dan kontrol glikemik. Uji statistik yang digunakan meliputi Mann-Whitney U, Chi-square, dan regresi logistik multivariable untuk mengidentifikasi perbedaan yang signifikan antar kelompok. Semua analisis dilakukan menggunakan IBM SPSS versi 22.0, dengan tingkat signifikansi ditetapkan pada p < 0,05. Selain itu, untuk menilai tingkat akseptabilitas layanan telefarmasi, digunakan kuesioner daring yang mencakup aspek kemudahan akses, kenyamanan penggunaan, efisiensi waktu, peningkatan pengetahuan, serta manfaat kesehatan yang dirasakan oleh pasien.
Hasil: Berdasarkan hasil identifikasi terhadap pedoman terapi antidiabetes di Indonesia, ditemukan sebanyak 3.845 potensi interaksi obat, dengan golongan sulfonilurea menunjukkan proporsi interaksi tertinggi (5,41–6,87%). Efek interaksi obat yang paling umum adalah risiko hipoglikemia dan hiperglikemia dengan Tingkat keparahan moderat. Uji efektivitas model telefarmasi yang dikembangkan melibatkan analisis 250 resep (kelompok kontrol) dan 255 resep (kelompok uji). Hasilnya menunjukkan deteksi interaksi obat yang lebih signifikan pada kelompok uji dibandingkan dengan kelompok kontrol (p = 0,000). Dalam evaluasi kontrol gula darah, tindak lanjut dilakukan pada 207 pasien (kelompok kontrol) dan 178 pasien (kelompok uji). Regresi multivariabel menunjukkan bahwa pasien yang menerima konseling telefarmasi 3,653 kali lebih mungkin mencapai kadar glukosa darah puasa yang terkendali dibandingkan dengan pasien yang menerima konseling konvensional, setelah disesuaikan dengan jenis kelamin (p = 0,000). Penerima konseling telefarmasi menyatakan akseptabilitas yang tinggi, dengan lebih dari 90% melaporkan pengalaman positif dalam semua aspek layanan.
Simpulan: Penelitian ini menemukan bahwa pengobatan pasien diabetes melitus tipe 2 di Indonesia memiliki risiko potensi interaksi obat, terutama hipoglikemia dan hiperglikemia, dengan tingkat keparahan moderat. Model telefarmasi yang dikembangkan berhasil mengurangi interaksi obat melalui integrasi penelusur interaksi obat dan konseling farmasi via WhatsApp. Model ini juga menunjukkan dampak positif terhadap pendeteksian interaksi obat dan kontrol glukosa darah dalam
praktik sehari-hari.
Kata kunci: apoteker, diabetes melitus tipe 2, interaksi obat, kontrol gula darah, telefarmasi -
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






