Detail Cantuman

No image available for this title

Text  

D079- Korelasi Polimorfisme Genetik Terhadap Respon Kemoterapi Platinum dan Kualitas Hidup Pasien Kanker Paru Kenis Karsinoma Bukan Sel Kecil (Nadiya Nurul Afifah; Prof. Melisa Intan Barliana, Ph.D; Dr. Indra Wijaya, SpPD-KHOM; Hideru Obinata, Ph.D)


Permasalahan pada Kanker Paru jenis Karsinoma Bukan Sel Kecil (KPKBSK)
bukan hanya tingginya insiden maupun peningkatan kasus baru, pasien ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    FFUP20250079D079Tersedia
  • Perpustakaan
    Fakultas Farmasi
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    D079
    Penerbit Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran : Jatinangor.,
    Deskripsi Fisik
    -
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    D079
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    -
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Permasalahan pada Kanker Paru jenis Karsinoma Bukan Sel Kecil (KPKBSK)
    bukan hanya tingginya insiden maupun peningkatan kasus baru, pasien KPKBSK
    diketahui memiliki angka kelangsungan hidup yang rendah yang disebabkan oleh
    diagnosis dan terapi yang terlambat serta efektivitas terapi yang kurang optimal.
    Kemoterapi berbasis platinum diketahui sebagai lini pertama kemoterapi
    konvensional pada KPKBSK. Platinum memiliki interval Overall Response yang
    cukup besar. Polimorfisme genetik pada gen yang berperan dalam farmakokinetik
    dan farmakodinamik menjadi salah satu penyebab perbedaan sensitivitas individu
    terhadap platinum. Studi ini bertujuan untuk menganalisis korelasi polimorfisme
    genetik pada pasien KPKBSK terhadap respon kemoterapi dan kualitas hidup. Studi
    dilakukan di RS. Kanker Dharmais dan RS Paru Dr. H.A Rotinsulu Bandung.
    Analisis genotipe gen ERCC1 rs11615, ERCC2 rs13181, GSTP1 rs1695, dan
    ABCC2 rs717620 dari sampel whole blood dilakukan dengan menggunakan DNA
    Sekuensing, evaluasi respon kemoterapi secara objektif dinilai melalui kriteria
    RECIST 1.1 dari hasil CT-Scan Thorax, sedangkan kualitas hidup (Quality of Life/
    QoL) pasien post-kemoterapi diukur dengan kuisioner EORTC QLQ-C30.
    Hubungan antar variabel dianalisis menggunakan pendekatan bivariat, yaitu uji chi-
    square atau uji fisher. Selanjutnya dilakukan analisis lanjutan dengan multivariat
    regresi logistik. Sedangkan korelasi polimorfisme dan kualitas hidup dianalisis
    menggunakan uji T Independent atau Uji Mann-Whitney. Sebanyak 59 sampel
    inklusi dilibatkan dalam studi farmakogenetik ini. Hasil penelitian menunjukkan
    bahwa polimorfisme ERCC1 rs11615 dan GSTP1 rs1695 memiliki hubungan
    signifikan terhadap respon kemoterapi berbasis-platinum berdasarkan kriteria
    RECIST 1.1 (OR = 3,529; CI: 1,051–11,855; P = 0,041). Sedangkan polimorfisme
    genetik tidak terbukti memiliki korelasi langsung terhadap skor Global Health
    Status/QoL (P>0.05). Namun, terdapat korelasi signifikan antara nilai RECIST 1.1
    dengan skor Global Health Status/QoL (OR = 5,649; CI: 1,411–22,615; P = 0,014;
    aOR = 7,113; P = 0,01). Domain EORTC QLQ-C30 yang menunjukkan korelasi
    kuat dengan Global Health Status adalah fungsi kelelahan (r = -0,613; P < 0,001).
    Penelitian ini membuktikan bahwa pada populasi pasien KPKBSK di Indonesia
    terdapat variasi genetik pada gen ERCC1 rs11615, ERCC2 rs13181, GSTP1 rs1695,
    dan ABCC2 rs717620; dan terdapat hubungan antara polimorfisme pada ERCC1
    rs11615 dan GSTP1 rs1695 terhadap respon kemoterapi. Hasil penelitian ini
    berpotensi digunakan sebagai skrining awal untuk profil genetik pasien sebelum
    pemberian kemoterapi berbasis platinum, khususnya pada pasien kanker paru
    bukan sel kecil (KPKBSK).
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi