
Text
D78- Aktivitas Penghambatan Resistensi Insulin Ekstrak Daun Erythrina subumbrans [Hassk.] Merr. Pada Jaringan Adiposa Tikus Wistar Yang Diinduksi Fruktosa Melalui Pengukuran TNF-α dan Adiponektin (Elis Susilawati; Prof. Dr. Sri Adi Sumiwi, MS; Prof. Dr. Jutti Levita, M.Si; Dr. Yasmiwar Susilawati, M.Si)
Erythrina subumbrans, merupakan tanaman Asia, secara tradisional digunakan untuk mengobati demam dan edema. Studi tentang E. subumbrans sangat ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan FFUP20250064 D78 Tersedia -
Perpustakaan Fakultas FarmasiJudul Seri -No. Panggil D78Penerbit Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran : Jatinangor., 2024 Deskripsi Fisik -Bahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi D78Tipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek -Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab - -
Erythrina subumbrans, merupakan tanaman Asia, secara tradisional digunakan untuk mengobati demam dan edema. Studi tentang E. subumbrans sangat terbatas, namun telah diketahui adanya kandungan metabolit sekunder alkaloid, pterokarpan, flavanon, dan triterpen pada kulit kayu, ranting, dan akar yang memiliki aktivitas antidiabetes dan antimikroba. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas E. subumbrans sebagai antiinflamasi secara in vitro dan in vivo, kemampuan memperbaiki kondisi resistensi insulin dengan paramater kadar Tumor Necrosis Factor Alpha (TNF-α), adiponektin, Free Fatty Acid (FFA), serta mengevaluasi gambaran morfologi jaringan adiposa tikus Wistar yang diinduksi fruktosa 60%.
Penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahap. Tahap pertama adalah pengumpulan daun E. subumbrans yang diambil dari Ciamis, Jawa Barat, dan diekstraksi menggunakan pelarut etanol 96% (selanjutnya disebut EES), penapisan fitokimia, dan analisis fitokimia ekstrak yang terdiri dari penentuan kadar fenolik total dengan pereaksi Folin–Ciocâlteu, penentuan kadar flavonoid total dengan metode spektrofotometri UV-Vis, dan analisis kandungan senyawa dengan Liquid Chromatography-Tandem Mass Spectrometry (LC-MS/MS). Hasil penelitian tahap ini menunjukkan bahwa terdeteksi adanya kandungan metabolit sekunder alkaloid, flavonoid, saponin, tannin, polifenol, kuinon dan steroid/triterpenoid. Kadar fenolik total sebesar 2,7638±0,0430 mg GAE/g, kadar flavonoid total 1,9626±0,0152 mg QE/g dan kandungan kuersetin 0,246 μg/mL pada m/z 301,4744.
Tahap kedua adalah uji antiinflamasi secara in vitro dengan metode stabilisasi membran Human Red Blood Cell (HRBC) dan in vivo menggunakan metode edema pada telapak kaki tikus dengan induksi putih telur 1%. Hasil pengujian in vitro menunjukkan bahwa EES menghambat hemolisis pada HRBC dengan IC50 sebesar 75,61 ± 0,366 μg/mL, sedangkan IC50 natrium diklofenak adalah 49,97 ± 0,001 μg/mL. Hasil in vivo menunjukkan penghambatan edema pada dosis EES 100 mg/kgBB (43,70%), 200 mg/kgBB (50,73%) dan 400 mg/kg BB (64,03%) jika dibandingkan dengan kelompok positif (Natrium diklofenak 4,5 mg/kg BB) penghambatan edema sebesar 54,64%. Semua kelompok secara signifikan mengurangi edema pada kaki tikus dalam waktu 180 menit.
Tahap ketiga adalah optimasi model untuk mendapatkan model resistensi insulin pada tikus putih jantan Wistar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fruktosa 60% yang diberikan selama 60 hari menyebabkan peningkatan bobot badan (241,25g) dibandingkan dengan kelompok normal (240,00 g). Peningkatan kadar glukosa darah puasa (103,25 mg/dL) yang signifikan dibandingkan dengan kelompok normal (95,00 mg/dL) (p=0,011). Terjadi perbedaan nilai Konstanta Tes Toleransi Insulin (KTTI) (3,75) yang signifikan dibandingkan dengan kelompok normal (7,28) (p=0,032). Terjadi penurunan kadar serum adiponektin (1,013 mg/L) dibandingkan kelompok normal (1,159 mg/L). Terjadi peningkatan kadar serum TNF-α (134,667 ng/L) yang signifikan dibandingkan kelompok normal (58, 667 ng/L) (p=0,003) dan berdasarkan hasil histologi pada jaringan sel adiposa terjadi pembesaran diameter sel adiposa putih (76,26 mm) dibandingkan dengan kelompok normal (70,78 mm) serta terjadi pengecilan diameter sel adiposa coklat (33,50 mm) dibandingkan dengan kelompok normal (44,68 mm).
Tahap keempat adalah pengujian aktivitas penghambatan resistensi insulin EES menggunakan tikus Wistar sebanyak 30 ekor yang dibagi secara acak: kelompok normal, kelompok induksi (fruktosa 60%), kelompok pembanding metformin 45 mg/kb BB, kelompok EES 100 mg/kg BB, kelompok EES 200 mg/kg BB dan kelompok EES 400 mg/kg BB. Pengujian dilakukan selama 60 hari dengan parameter yang diukur adalah bobot badan, Kadar Glukosa Darah (KGD) puasa, Konstanta Tes Toleransi Insulin (KTTI), kadar TNF-α, adiponektin, dan FFA, serta mengevaluasi gambaran histologi jaringan adiposa melalui jumlah dan diameter White Adipose Tissue (WAT) dan Brown Adipose Tissue (BAT). Serum diambil dari sinus retro-orbital. EES secara signifikan mengurangi persen kenaikan bobot badan pada EES 100 mg/kg BB sebesar 29%, EES 200 mg/kg BB sebesar 14%, dan EES 400 mg/kg BB sebesar 11% dan metformin sebesar 9% dibandingkan dengan kelompok negatif (fruktosa 60%) sebesar 38%. EES mampu menurunkan kadar TNF-α (0,538±0,026 untuk EES 100 mg/kg BB; 0,434±0,038 untuk EES 200 mg/kg BB; 0,434±0,017 untuk EES 400 mg/kg BB; dan 0,892±0,269 untuk metformin) dibandingkan dengan kelompok negatif (fruktosa 60%) sebesar 1,550±0,110. EES mampu meningkatkan kadar adiponektin (0,243±0,019 untuk EES 100 mg/kg BB; 0,272±0,019 untuk EES 200 mg/kg BB; 0,217±0,018 untuk EES 400 mg/kg BB; dan 0,227±0,000 untuk metformin) dibandingkan dengan kelompok negatif (fruktosa 60%) sebesar 0,112±0,006. EES mampu mengurangi kadar FFA (0,340±0,018 untuk EES 100 mg/kg BB; 0,402±0,036 untuk EES 200 mg/kg BB; 0,458±0,054 untuk EES 400 mg/kg BB; dan 0,614±0,055 untuk metformin) dibandingkan dengan kelompok negatif (fruktosa 60%) sebesar 0,568±0,035. Serta, secara signifikan mempengaruhi pembentukan BAT yang serupa dengan metformin. Semua tikus dalam kelompok EES dan metformin meningkatkan sensitivitas insulin yang dibuktikan dengan nilai KTTI yang lebih tinggi (3,01 ± 0,91 untuk EES 100 mg / kg BB; 3,01 ± 1,22 untuk EES 200 mg / kg BB; 5,86 ± 3,13 untuk EES 400 mg / kg BB; dan 6,44 ± 2,58 untuk metformin) dibandingkan dengan kelompok negatif (fruktosa 60%) tanpa pengobatan (KTTI = 2,62 ± 1,38).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa ekstrak Erythrina subumbrans [Hassk.] Merr. memiliki aktivitas dalam memperbaiki kondisi resistensi insulin yang diinduksi fruktosa 60%.
Kata kunci: Adiponektin, Adiposa, E. subumbrans, FFA, KTTI, resistensi insulin, TNF-α.
-
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






