Detail Cantuman

No image available for this title

Text  

D77- Eksplorasi Aktivitas Antimikroba dan Uji Toksisitas Akut Ekstrak dan Fraksi Auricularia nigricans (SW.) Bikerbak Looney, Auricularia auricula-Judae (Bull.) Quel, Agaricus bisporus (J.E Lange) IMB dan Lentinus edodes (Ika Kurnia Sukmawati; Prof. Dr. Anas Subarnas, M.Sc; Prof. Dr. Sri Adi Sumiwi, MS; Dr. Tina Rostinawati, M.Si)


Penyakit infeksi merupakan keadaan masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh yang dapat mengancam kesehatan manusia. Penyakit infeksi umumnya disebabkan ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    FFUP20250063D77Tersedia
  • Perpustakaan
    Fakultas Farmasi
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    D77
    Penerbit Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran : Jatinangor.,
    Deskripsi Fisik
    -
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    D77
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    -
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Penyakit infeksi merupakan keadaan masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh yang dapat mengancam kesehatan manusia. Penyakit infeksi umumnya disebabkan oleh bakteri, fungi, virus, protozoa dan mikroorganisme lainnya. Infeksi dapat diobati dengan terapi antibiotik, namun masih banyak antibiotik yang digunakan tidak tepat sehingga menyebabkan bakteri menjadi resisten dan infeksi meluas Infeksi yang disebabkan oleh fungi dapat diobati dengan menggunakan obat antifungi. Selain antibiotika dan antifungi yang umum digunakan secara klinis, banyak bahan alam yang memiliki potensi sebagai antibakteri ataupun antifungi, diantaranya adalah jamur. Pada penelitian ini telah dilakukan pengujian aktivitas antibakteri dan antifungi empat jenis jamur, yaitu jamur kuping hitam (Auricularia nigricans (Sw.) Bikerbak Looney), jamur kuping merah (Auricularia auricula-judae (Bull.) Quel), jamur kancing (Agaricus bisporus (J.E Lange) Imb) dan jamur shitake (Lentinus edodes. Tujuannya adalah untuk mengeksplorasi potensi jenis-jenis jamur tersebut sebagai antibakteri ataupun antifungi melalui pengujian antibakteri terhadap bakteri non klinis dan bakteri klinis hasil isolasi dari pasien Infeksi Saluran Kemih (ISK), pengujian antifungi, dan pemeriksaan perubahan morfologi sel bakteri dan sel fungi serta pengujian toksisitas. Pengujian aktivitas antimikroba ekstrak dan fraksi jamur dilakukan dengan metode cakram kertas dan mikrodilusi. Perubahan morfologi sel bakteri dan sel fungi diamati dengan Scanning Electron Microscopy (SEM), toksisitas secara invitro dengan metode Microculture Tetrazolium Technique Assay (MTT Assay) dan in vivo dilakukan terhadap hewan percobaan.
    Hasil penelitian menyatakan bahwa bakteri yang diisolasi dari pasien ISK adalah Eschericia coli (E. coli) dan Acetonobacter baumani (A.baumani), kedua bakteri menunjukkan resistensi untuk semua antibiotik uji kecuali doksisiklin dan siprofloksasin. Fraksi n-heksan jamur kuping hitam pada konsentrasi 25.000 µg/mL memiliki aktivitas terbaik pada bakteri E. coli dengan diameter hambat 14 mm. Fraksi metanol air jamur kuping merah pada konsentrasi 25.000 µg/mL memiliki aktivitas terbaik pada jamur Microsporum gypseum (M. gypseum) dengan diameter hambat 15 mm. Ekstrak etanol jamur kancing pada konsentrasi 100.000 µg/mL memiliki aktivitas terbaik pada bakteri E. coli isolate klinik. Jamur shitake menunjukkan potensi sangat kuat terhadap Aspergillus flavus (A. flavus) dari ekstrak pada konsentrasi 10.000 µg/mL dan 25.000 µg/mL, fraksi n heksan pada konsentrasi 25.000 µg/mL dan 50.000 µg/mL serta fraksi metanol air pada konsentrasi 10.000 µg/mL, 25.000 µg/mL dan 100.000 µg/mL dengan diameter hambat ≥ 20 mm. Nilai KHM terbaik dari jamur kuping hitam adalah fraksi metanol air pada konsentrasi 6250 µg/mL dengan nilai KBM 6250 µg/mL pada bakteri E. coli isolat klinik. Nilai KHM terbaik dari jamur kuping adalah Fraksi N heksan pada konsentrasi 195,31 µg/mL dengan nilai KBM >12.500 pada bakteri E. coli. Nilai KHM terbaik dari ekstrak etanol jamur kancing pada konsentrasi 1000 µg/mL dengan KBM 12.500 µg/mL pada Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA), sementara KHM terbaik pada fungi adalah Fraksi etil asetat dengan konsentrasi 3125 µg/mL dengan nilai KFM >12.500 pada M. gypsum. Nilai KHM terbaik dari jamur shitake adalah fraksi etil asetat dan fraksi n heksan pada konsentrasi yang sama 256 µg/mL dengan nilai KBM >12.500 µg/mL terhadap bakteri Propionibacterium acnes (P acne), untuk fungi KHM terbaik dari fraksi N heksan terhadap A. flavus dengan konsentrasi 1562 µg/mL dan KFM 12.500 µg/mL.
    Hasil SEM menunjukkan paparan ekstrak etanol jamur kuping hitam dan fraksi n heksan jamur kuping merah terhadap E. coli menyebabkan perubahan morfologi sel ke bentuk yang lebih kecil karena penyusutan dan hilangnya struktur normal serta deformasi bentuk sel dari bentuk batang menjadi bentuk yang tidak beraturan. Fraksi metanol air jamur kancing terhadap E. coli isolat klinik menunjukkan kerusakan struktur sel yang tampak patah-patah (fragmentasi) sehingga terjadi terjadi deformasi bentuk sel bakteri. Paparan fraksi metanol air jamur shitake terhadap MRSA menunjukkan bahwa MRSA secara koloni mengalami lisis pada struktur dinding sel bakteri sehingga terjadinya deformasi koloni yang menyebabkan keterpisahan masing – masing sel dari koloni utama sel.
    Lethal Concentration (LC) 50 dari jamur kuping hitam sebesar 1063,7785 µg/mL, jamur kancing sebesar 1011,0374 µg/mL, jamur kuping merah serta jamur shitake memperoleh nilai LC 50 yang tidak terukur dimana hal tersebut menunjukkan bahwa semua ekstrak jamur memiliki toksisitas yang rendah terhadap sel fibroblast. Hasil pengujian toksisitas secara in vivo didapatkan bahwa ekstrak jamur kuping hitam, jamur kuping merah, jamur kancing dan jamur shitake dengan dosis tunggal secara peroral pada dosis 300 mg kg/bb, 2000 mg kg/bb, dan dosis paling tinggi 5000 mg/kg BB tidak menimbulkan kematian pada tikus, sehingga nilai Lethal Dosis (LD) 50 ekstrak semua jamur > 5000 mg/kgBB yang menunjukkan hasil tidak toksik. Golongan senyawa yang terdeteksi dalam ekstrak jamur kuping hitam adalah alkaloid, flavonoid dan steroid. Pada jamur kuping merah dan jamur kancing terdeteksi golongan senyawa alkaloid, flavonoid, tanin dan triterpenoid, sedangkan pada jamur shitake terdeteksi alkaloid, flavonoid dan tanin.
    Kesimpulan: Jamur kuping hitam, jamur kuping merah, jamur, dan jamur shiitake menunjukkan potensi aktivitas antimikroba yang baik. Temuan ini mengindikasikan bahwa keempat jenis jamur tersebut berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai agen antibakteri dan antifungi yang efektif.
    Kata kunci: Auricularia nigricans, Auricularia auricula, Agaricus bisporus, Lentinus edodes, antimikroba.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi