
Text
D76- Studi Aktivits Antihipertensi, Toksisitas Subkronis, dan Analisis Farmakokinetika Penggunaan Amlodipin Bersama Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L.) dan Amlodipin Bersama Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) Pada Tikus (Nur Azizah; Prof. Dr. Eli Halimah, MS; Prof. Irma Melyani Puspitasari, M.T., Ph.D; Prof. Dr. Aliya Nur Hasanah, M.Si)
Hipertensi, atau tekanan darah tinggi, merupakan salah satu masalah Kesehatan paling umum di seluruh dunia dan merupakan faktor utama penyakit ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan FFUP20250062 D76 Tersedia -
Perpustakaan Fakultas FarmasiJudul Seri -No. Panggil D76Penerbit Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran : Jatinangor., 2024 Deskripsi Fisik -Bahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi D76Tipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek -Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab - -
Hipertensi, atau tekanan darah tinggi, merupakan salah satu masalah Kesehatan paling umum di seluruh dunia dan merupakan faktor utama penyakit kardiovaskular. Penderita hipertensi seringkali menggunakan obat antihipertensi dan herbal secara bersamaan untuk menurunkan tekanan darah. Amlodipin merupakan obat antihipertensi yang saat ini banyak digunakan oleh penderita hipertensi, dan penggunaan amlodipin secara bersamaan dengan herbal dapat menurunkan tekanan darah, sementara itu buah mengkudu (Morinda citrifolia L.) dan daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) merupakan herbal yang mampu menurunkan tekanan darah. Penggunaan amlodipin bersama buah mengkudu dan amlodipin bersama belimbing wuluh dapat menurunkan tekanan darah, namun penggunaan bersama tersebut dapat menyebabkan interaksi obat-herbal melalui perubahan efek farmakologi dan farmakokinetik serta menimbulkan efek toksik.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mengevaluasi efek antihipertensi, toksisitas subkronis, dan efek farmakokinetik dari penggunaan amlodipin (AML) bersama ekstrak buah mengkudu (EBM) dan penggunaan amlodipin (AML) bersama ekstrak daun belimbing wuluh (EDBW) pada hewan uji tikus Wistar. Metode penelitian yang dilakukan adalah eksperimental pre and post control group design. Standardisasi EBM dan EDBW telah dilakukan untuk menghasilkan ekstrak yang bermutu melalui penentuan parameter spesifik, nonspesifik, dan skrining fitokimia. Uji aktivitas antihipertensi dilakukan pada hewan uji tikus Wistar jantan dengan penginduksi NaCl 8% selama 21 hari, dan dosis masing-masing kelompok perlakuan yaitu : 1) kontrol normal, 2) control negatif (NaCl 8%), 3) kontrol positif (NaCl 8% + AML 1 mg/kg BB), 4) NaCl 8% + EBM 45 mg/kg BB, 5) NaCl 8% + EDBW 29 mg/kg BB, 6) NaCl 8%+AML 1 mg/kg BB + EBM 45 mg/kg BB), dan 7) NaCl 8% + AML 1 mg/kg BB+EDBW 29 mg/kg BB. Tekanan darah sistolik (TDS), tekanan darah diastolik (TDD), dan rerata tekanan darah arteri (RTDA) tikus diukur pada hari ke-0 sebagai baseline, hari ke-21 setelah induksi, hari ke-28 (setelah selama 7 hari perlakuan), dan pada hari ke-35 (setelah selama 14 hari perlakuan) dengan menggunakan alat CODA™. Uji toksisitas dilakukan selama 28 hari, uji ini mengacu pada BPOM dan OECD 407 dengan beberapa penyesuaian. Tikus yang digunakan yaitu tikus Wistar jantan dan betina dengan masing-masing kelompok terdiri dari: 1) Kontrol, 2) AML 1 mg/kg BB, 3) EBM 45 mg/kg BB, 4) EDBW 29 mg/kg BB, 5) AML 1 mg/kg BB + EBM 45 mg/kg BB, 6) AML 1 mg/kg BB + EDBW 29 mg/kg BB, 7) satelit AML 1 mg/kg BB + EBM 45 mg/kg BB, dan 8) satelit AML 1 mg/kg BB + EDBW 29 mg/kgBB. Sementara itu, uji farmakokinetik dilakukan terhadap tikus Wistar jantan yang dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan: 1. AML, 2. AML + EBM, dan 3. AML + EDBW. Sampel darah diambil pada Cmin dan Cmax melalui vena sinus orbital pada mata tikus, dan analisis farmakokinetik dilakukan menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi/KCKT (verifikasi dan pengukuran sampel). Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan Two-way Anova untuk uji aktivitas antihipertensi, One-way Anova untuk untuk uji toksisitas, dan uji t-berpasangan untuk analisis farmakokinetik, dengan signifikansi p < 0,05. Sementara itu, analisis probabilitas (q) digunakan untuk mengetahui adanya efek sinergis, aditif, atau antagonis dari penggunaan AML Bersama EBM dan AML bersama EDBW.
Hasil standardisasi EBM dan EDBW telah memenuhi standar sesuai yang dipersyaratkan Farmakope Herbal Indonesia dan Materia Medika melalui nilai parameter spesifik dan nonspesifiknya. Hasil skrining fitokimia yang dilakukan menunjukkan bahwa keduanya mengandung senyawa fenol, tanin, flavonoid, saponin, triterpenoid dan alkaloid. Hasil uji aktivitas antihipertensi menunjukkan bahwa penggunaan AML bersama EBM dapat meningkatkan efek antihipertensi dibandingkan dengan penggunaan AML tunggal dan penggunaan EBM tunggal, tetapi perbedaan efeknya tidak bermakna secara statistik (p > 0,05). Hal ini dapat dilihat dari nilai TDS, TDD, dan RTDA, dimana penggunaan AML bersama EBM terjadi penurunan TDS, TDD, dan RTDA sebesar -32,60 mmHg ± 2,73, -24,00 mmHg ± 5,83, dan -25,20 mmHg ± 2,68, sedangkan pada penggunaan AML tunggal sebesar -29,40 mmHg ± 1,52, -20,00 mmHg ± 3,24, dan -22,80 mmHg ± 1,48; dan pada penggunaan EBM tunggal sebesar -28,40 mmHg ± 1,82, -21,20 mmHg ± 4,15, dan -23,20 ± 3,70. Untuk hasil uji aktivitas antihipertensi penggunaan AML bersama EDBW menunjukkan bahwa penggunaan tersebut dapat meningkatkan efek antihipertensi dibandingkan dengan penggunaan AML Tunggal dan EDBW tunggal, dan terdapat perbedaan efek antihipertensi yang berbeda bermakna secara statistik (p < 0,05). Hal ini dapat dilihat dari nilai TDS, TDD, dan RTDA , dimana pada penggunaan AML bersama EDBW terjadi penurunan TDS, TDD, dan RTDA sebesar -48 ,00 mmHg ± 2,83, -37,80 mmHg ± 3,42, dan -41,20 mmHg ± 3,27, sedangkan pada penggunaan AML tunggal sebesar -29,40 mmHg ± 1,52, -20,00 mmHg ± 3,24, dan -22,80 mmHg ± 1,48; dan pada penggunaan EDBW tunggal sebesar -38,60 mmHg ± 2,61, -31,20 mmHg ± 2,68, dan -41,20 mmHg ± 3,27. Sementara itu, berdasarkan hasil analisis model probabilitas efek penggunaan AML bersama EBM dan AML bersama EDBW menunjukkan adanya efek aditif dengan q-value 1 – 1,08.
Hasil uji toksisitas subkronis menunjukkan bahwa penggunaan AML Bersama EBM dan penggunaan AML bersama EDBW tidak mempengaruhi berat badan, parameter hematologi, dan berat organ tikus jantan dan betina (p > 0,05). Penggunaan AML bersama EBM dan AML bersama EDBW pada tikus jantan dan betina secara statistik menunjukkan efek toksik yang lebih besar dibandingkan dengan penggunaan AML tunggal (p < 0,05). Hal ini dilihat dari nilai SGOT, SGPT, BUN, dan kreatinin pada tikus jantan dan betina, dimana penggunaan AML bersama EBM pada tikus jantan terjadi peningkatan SGOT, SGPT, BUN dan keratinin sebesar 176,00 U/L ± 2,49, 74,26 U/L ± 4,71, 37,39 mg/dL ± 1,83, dan 0,63 mg/dL ± 0,04, pada tikus betina sebesar 168,40 U/L ± 9,20, 81,32 U/L ± 3,56, 34,74 mg/dL ± 5,29, dan 0,71 mg/dL ± 0,02. Pada penggunaan AML Bersama EDBW terjadi peningkatan SGOT, SGPT, Bun, dan kreatinin pada tikus Jantan sebesar 176,63 U/L ± 6,64, 63,10 U/L ± 5,40, 34,80 mg/dL ± 3,39, dan 0,55 mg/dL ± 0,09, dan pada tikus betina sebesar 175,01 U/L ± 5,33, 61,95 U/L ± 6,51, 26,23 mg/dL ± 2,80, dan 0,44 mg/dL ± 0,04. Sementara itu nilai SGOT, SGPT, BUN, dan kreatinin pada penggunaan AML jantan sebesar 161,68 U/L ± 2,28, 56,23 U/L ± 4,14, 45,33 mg/dL ± 3,79, dan 0,71 mg/dL ± 0,04, dan pada tikus betina sebesar 170,53 U/L ± 6,06, 79,48 U/L ± 4,65, 47,46 mg/dL ± 1,84, dan 0,87 mg/dL ± 0,07. Hasil analisis histologi organ menunjukkan bahwa penggunaan AML Bersama EBM dan penggunaan AML bersama EDBW menyebabkan kerusakan pada hati, ginjal, jantung, limpa, dan paru; dan kerusakan berat (> 50%) ditemukan pada organ hati. Kerusakan organ tersebut tidak menunjukkan adanya perbaikan meskipun penggunaanya dihentikan (irreversible).
Hasil analisis farmakokinetik menunjukkan bahwa penggunaan AML Bersama EBM secara statistik menurukan parameter Cmax, AUC, dan Cp dibandingkan dengan penggunaan AML tunggal (p < 0,05). Hal ini dapat dilihat dari nilai Cmax, AUC, dan Cp pada penggunaan AML bersama EBM sebesar 2,4792 µg/mL ± 0,0805, 105,9957 mg.h/L ±3,4413 dan 4,4165 mcg/mL ± 0,1434. Pada penggunaan AML bersama EDBW secara statistik meningkatkan parameter Cmax, AUC, dan Cp dibandingkan dengan penggunaan AML tunggal (p < 0,05). Ini dapat dilihat dari nilai Cmax, AUC, dan Cp pada penggunaan tersebut sebesar 3,1087 µg/mL ± 0,0121, 132,9108 mg.h/L ± 0,5180 dan 5,5379 mcg.mL ± 0,0216. Sementara itu Cmax, AUC, dan Cp AML yaitu sebesar 2,9740 µg/mL ± 0,0112, 127,1490 mg.h/L ± 0,4785 dan 5,2979 mcg/mL. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan amlodipine (AML) bersama ekstrak buah mengkudu (EBM) dan penggunaan amldoipin (AML) bersama ekstrak daun belimbing wuluh (EDBW) mempengaruhi farmakokinetik amlodipin (AML)
Penelitian ini membuktikan bahwa penggunaan AML bersama EBM dan penggunaan AML bersama EDBW memiliki efek antihipertensi dan menimbulkan efek aditif, menyebabkan efek toksik terhadap fungsi hati, fungsi ginjal, dan kerusakan berat pada organ hati, serta menyebabkan interaksi farmakokinetik. Oleh karena itu penggunaan amlodipin secara bersamaan dengan kedua ekstrak tersebut dalam menurunkan tekanan darah perlu dihindari
Kata kunci: Amlodipin, antihipertensi, farmakokinetik, toksisitas, obat-herbal interaksi
-
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






