Detail Cantuman

No image available for this title

Text  

T330- Hambatan dan Dukungan Dalam Pelayanan Pengobatan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) di Salah Satu Kota di Jawa Barat: Sebuah Studi Kualitatif (Firda Shafira Nurfadila; Prof. Ivan Surya Pradipta, M.Sc., Ph.D; Dr. Dika Pramita Destiani, M.Farm)


Latar Belakang: Salah satu strategi dan intervensi dari WHO dalam menurunkan insiden tuberkulosis (TB) adalah memberikan terapi pencegahan ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    FFUP20250061T330Tersedia
  • Perpustakaan
    Fakultas Farmasi
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    T330
    Penerbit Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran : Jatinangor.,
    Deskripsi Fisik
    -
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    T330
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    -
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Latar Belakang: Salah satu strategi dan intervensi dari WHO dalam menurunkan insiden tuberkulosis (TB) adalah memberikan terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) kepada kelompok berisiko yaitu kontak serumah dan orang dengan HIV (ODHA). Data di lapangan menunjukan capaian dari program ini masih sangat rendah yaitu ≤10% dan diperkirakan terdapat hambatan sehingga program ini belum dikatakan berhasil.
    Tujuan: Mengeksplorasi hambatan dan dukungan dalam pelayanan pengobatan TPT dilihat dari perspektif tenaga kesehatan puskesmas dan orang dengan infeksi laten tuberkulosis(ILTB).
    Metode: Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dilakukan dari Agustus sampai Desember 2024 berlokasi di 5 puskesmas salah satu kota di Jawa barat. Penelitian ini melibatkan tenaga kesehatan (apoteker, dokter, perawat,) pimpinan (kepala puskesmas, wasor TB) dan orang dengan ILTB (kontak serumah dan ODHA). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan grup. Pertanyaan mangacu pada kerangka teori dari Flottop et al, 2013 yang meliputi tujuh domain antara lain pedoman, individu, pasien, interaksi professional, insentif dan sumber daya, kapasitas perubahan organisasi serta sosial, politik dan legal. Analisis menggunakan bantuan atlas.ti 9.0. Keabsahan data ditentukan berdasarkan saturasi informasi dan triangulasi data.
    Hasil: Peneliti mewawancarai 30 responden dan mengeksplorasi 45 kode hambatan dan dukungan. Beberapa hal yang menjadi hambatan diantaranya ketidakmampuan investigasi kontak, minimnya dukungan lintas sector dan insentif serta rendahnya prioritas untuk melakukan program TPT. Selanjutnya, minimnya persuasi tenaga kesehatan, rendahnya motivasi, pengetahuan dan aksesibilitas orang ILTB, tidak ada kerjasama dengan swasta serta logistik TPT yang tidak stabil. Kemudian beban kerja tinggi, kurangnya kepatuhan terapi, stigma negatif TB, kurangnya promosi dan sosialisasi TPT. Selain itu, efek samping obat, dan ketidaknyamanan ruang tunggu masih dilaporkan menjadi hambatan pelayanan TPT. Dukungan meliputi ada kader TB, dukungan pemeriksaan rontgen, akses pedoman, pengetahuan dari petugas kesehatan, kerjasama antar puskesmas, komunikasi puskesmas dengan dinkes, komunikasi di internal puskesmas serta dukungan KDS untuk ODHA.
    Kesimpulan: Hambatan yang dilaporkan dimulai dari investigasi sampai monitoring, hal ini mengidentifikasikan pelayanan TPT masih belum berjalan maksimal. Adapun dukungan dalam pelayanan TPT diantaranya hubungan antar petugas kesehatan berjalan baik, serta adanya pemeriksaan rontgen gratis. Dari hambatan dan dukungan yang telah dihasilkan, diambil tiga hambatan yang diprioritaskan yaitu logistik, investigasi kontak dan pelatihan tenaga Kesehatan yang dapat digunakan sebagai dasar mengusulkan dan mengembangkan strategi bagi petugas kesehatan dan pemerintah daerah guna meningkatkan keberhasilan program TPT.
    Kata kunci: Pelayanan ILTB, Program TPT, TB, Puskesmas.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi