
Text
D74- Pengembangan Sistem Penghantaran Berbasis Lipid dari Ekstrak dan Fraksi Daun Perepat (Sonneratia alba) Untuk Meningkatkan Aktivitasnya Sebagai Antimalaria (Mayang Kusuma Dewi; Prof. Dr. rer. nat. Anis Yohana Chaerunisa, M.Si; Prof. Dr. rer. nat. Muhaimin, M.Si; Prof. Dr. Eng. I. Made Joni, M.Sc)
Ekstrak daun perepat (S. alba) memiliki aktivitas antimalaria, di mana naftokuinon merupakan komponen aktif utamanya. Namun, ketersediaan hayati yang ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan FFUP20250057 D74 Tersedia -
Perpustakaan Fakultas FarmasiJudul Seri -No. Panggil D74Penerbit Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran : Jatinangor., 2024 Deskripsi Fisik -Bahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi D74Tipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek -Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab - -
Ekstrak daun perepat (S. alba) memiliki aktivitas antimalaria, di mana naftokuinon merupakan komponen aktif utamanya. Namun, ketersediaan hayati yang rendah membatasi keefektifannya. Untuk memperbaiki hal tersebut, dikembangkan sistem penghantaran berbasis lipid fitosom dan NLC. Penelitian ini berfokus pada formulasi fitosom dan NLC dengan zat aktif S. alba dengan menggunakan desain Box-Behnken untuk meningkatkan aktivitas antimalarianya. Fitosom diproduksi menggunakan metode antisolvent precipitation sedangkan NLC diproduksi dengan menggunakan metode melt emulsification ultrasonication dan dioptimalkan dengan 3 faktor, 3 tingkat model Box-Behnken. Ukuran partikel, potensial zeta, dan efisiensi enkapsulasi dinilai sebagai respon. Formula optimum fitosom dan NLC dikarakterisasi lebih lanjut, meliputi uji morfologi dengan TEM, uji pelepasan in vitro dengan kantong dialisis, dan uji aktivitas antimalaria secara in vivo pada tikus BALB/c yang terinfeksi P. berghei. Formulasi fitosom yang optimal menggunakan rasio fosfolipid dan ekstrak 1:3, suhu refluks 50o C, dan waktu refluks 2,62 jam. Fitosom-ekstrak memiliki ukuran partikel sebesar 471,8 nm, potensial zeta -54,1 mV, dan EE 82,4%. Formula optimum fitosom-ekstrak digunakan juga sebagai formula optimum fitosom-fraksi. Dimana fitosom-fraksi menunjukkan ukuran partikel sebesar 233,4 nm, potensial zeta -61,5 mV, dan EE sebesar 87,08%. Sedangkan formulasi NLC yang optimal menggunakan rasio lipid padat dan lipid cair 8,16 : 1,84, konsentrasi surfaktan sebesar 5%, dan waktu sonikasi selama 19,3 menit. NLC-ekstrak memiliki ukuran partikel sebesar 237.3 nm, potensial zeta -57,1, dan EE 87,93%. Sama halnya dengan fitosom, formula optimum NLC-ekstrak juga digunakan sebagai formula optimum fitosom-fraksi. Dimana NLC-fraksi menunjukkan ukuran partikel sebesar 222.4 nm, potensial zeta -63.3 mV, dan EE sebesar 91,97%. Analisis TEM mengonfirmasi bahwa fitosom memiliki bentuk sferis. Sedangkan NLC memiliki bentuk oval dan sferis. Uji pelepasan in vitro pada media PBS pH 7,4 fitosom-fraksi, NLC-fraksi, fitosom-ekstrak, NLC-ekstrak, fraksi, dan ekstrak berturut-turut sebesar 95,89%, 89,61%, 86,17%, 81,57%, 46,89%, dan 37,70%. Sedangkan pelepasan in vitro pada media HCl 1,2 sebesar 38,24%, 36,30%, 35,23%, 32,89%, 30,92%, dan 28,60%. Secara keseluruhan, formulasi fitosom dan NLC menunjukkan stabilitas yang baik. Selain itu, fitosom dan NLC menunjukkan aktivitas antimalaria yang jauh lebih besar dibandingkan dengan ekstrak dan fraksi dalam keadaan bebas. Aktivitas antimalaria dengan penghambatan terbesar yaitu pada kontrol positif, fitosom-fraksi, NLC-fraksi, fitosom-ekstrak, NLC-ekstrak, fraksi, ekstrak, dan kontrol negatif sebesar 100%, 84,51%, 81,98%, 80,12%, 80,05%, 60,54%, 53,38%, dan 0%. Temuan ini menunjukkan bahwa formulasi sistem penghantaran berbasis lipid dalam bentuk fitosom dan NLC dapat meningkatkan aktivitas antimalaria dari ekstrak dan fraksi S. alba.
Kata kunci: Antimalaria; S. alba; fitosom; NLC, and Box-Behnken
-
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






