
Text
D069- Efek Neuprotektif Kombinasi Kaemferol dan Levodopa Pada Model Hewan Parkinson Secara In Silico, In Vivo dan In Vitro (Umil Mahfudin; Prof. Dr. Anas Subarnas, M.Sc; Gofarana Wilar, M.Si., Ph.D)
Penyakit Parkinson (PP) adalah kelainan neurodegeneratif yang relatif umum, terutama
mempengaruhi pergerakan. Prevalensi Parkinson cenderung ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan FFUP20250009 D069 Tersedia -
Perpustakaan Fakultas FarmasiJudul Seri -No. Panggil D069Penerbit Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran : Jatinangor., 2024 Deskripsi Fisik -Bahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi D069Tipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek -Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab - -
Penyakit Parkinson (PP) adalah kelainan neurodegeneratif yang relatif umum, terutama
mempengaruhi pergerakan. Prevalensi Parkinson cenderung meningkat seiring
bertambahnya usia, dan bervariasi antar populasi dan wilayah. Secara global,
diperkirakan sekitar 1% hingga 2% orang berusia di atas 60 tahun terkena penyakit
Parkinson. Penderita Parkinson sampai saat ini sekitar 200.000-400.000 Penyakit
Parkinson diperkirakan menyerang 876.665 orang di Indonesia dari total jumlah
penduduk sebesar 238.452.952. Total kasus kematian akibat penyakit Parkinson di
Indonesia menempati peringkat ke-12 di dunia atau peringkat ke-5 di Asia dengan
prevalensi mencapai 1100 kematian. Penyakit Parkinson (PP) tidak memiliki obat yang
dapat menyembuhkan secara langsung, tetapi terdapat berbagai metode pengobatan
dan manajemen gejala yang dapat membantu mengurangi dampaknya serta
meningkatkan kualitas hidup penderita. Obat untuk PP termasuk antikolinergik,
levodopa, agonis reseptor dopamin, inhibitor enzim pendegradasi dopamine, dan agen
neuroprotektif. Namun, obat-obatan yang sudah ada pada dasarnya hanya memperbaiki
gejala dan tidak dapat mencegah perkembangan penyakit PP, selain itu kemanjuran
obat Parkinson yang menurun setelah 3-5 tahun. Penggunaan jangka panjang mungkin
juga menyebabkan komplikasi motorik, seperti dystonia dan End-dose phenomena
dimana efek dari dosis obat Parkinson seperti levodopa mulai memudar sebelum waktu
dosis berikutnya. Permasalahan yang muncul dalam pengobatan penyakit Parkinson
menjadi salah satu tantangan untuk pengembangan obat Parkinson. Oleh karena itu,
diperlukan pengembangan obat dengan multi-target serta toksisitas rendah, baik yang
berasal dari alam maupun sintesis. Kaempferol merupakan salah satu contoh flavonoid
yang memiliki berbagai aktivitas farmakologi seperti anti kanker, anti inflamasi, anti
oksidan, anti depresi, anti-epilepsi, dan neuroprotektif. Studi kaempferol sebagai anti
Parkinson dikaitkan dengan kemapuan aktivitas antioksidan. Stres oksidatif
disebabkan oleh ketidakseimbangan antara agen oksidatif dan anti-oksidan dalam
tubuh, dan terjadi akumulasi ROS yang berlebihan yang dapat menyebabkan
sitotoksisitas. Akumulasi stres oksidatif merupakan pencetus degenerasi saraf
dopaminergik pada pasien PP. Kombinasi kaempferol dengan anti Parkinson lainnya
dapat menjadi salah satu pengembangan obat Parkinson dengan multi-target. Aktivitas
kombinasi levodopa dan kaempferol dalam penangan PP masih belum banyak
diketahui, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh kaempferol
iii
terhadap reseptor yang terlibat dalam penyakit Parkinson, efek neuroprotektif, evaluasi
penurunan stress oksidatif pada model hewan Parkinson yang diinduksi dengan
neurotoxin 1-methyl-4-phenyl-1,2,3,6-tetrahydropyridine (MPTP). Penelitian diawali
dengan pengujian studi molecular docking kaempferol pada beberapa reseptor target.
Tahapan pada studi molecular docking meliputi identifikasi reseptor target, validasi
metode molecular docking, penapisan virtual pada senyawa uji, dan pemodelan
farmakopor menggunakan perangkat lunak autodock 4.0.1. kemudian penelitian
dilanjutkan dengan uji aktivitas antiparkinson pada mencit Swiss Webster. Hewan
diaklimatisasi selama 1 minggu sebelum dilakukkan percobaan, kemudian dilakukan
pengujian rotaroad test, beam walk test, Novel Object Recognition Test, Y-Maze Test,
Locomotor Test, Tail Suspension Test. Mencit secara acak dibagi menjadi tujuh
kelompok berikut (lima mencit per kelompok) : Kelompok I (kelompok Normal,
diberikan larutan Normal salin); Kelompok II ( Kelompok Kontrol negatif, diinduksi
MPTP 30 mg/kg bb); Kelompok III (diberikan levodopa dan diinduksi MPTP);
Kelompok IV (diberikan kaempferol 25 mg/kg bb dan diinduksi MPTP); Kelompok V
(diberikan kaempferol 50 mg/kg bb dan diinduksi MPTP); Kelompok VI (diberikan
kombinasi Levodopa+kaempferol 50 mg/kg bb diberikan dan diinduksi MPTP);
Kelompok VII (diberikan kombinasi Levodopa+carbidopa dan diinduksi MPTP).
Model mencit PP untuk kelompok II-VII dihasilkan dari penyuntikan MPTP berturut-
turut dengan dosis 30 mg/kg setiap 24 jam dari hari ke 0 hingga hari ke 15. Pemberian
sediaan uji diberikan secara proral selama 15 hari. Setelah 30 menit pemberian sediaan
uji, pada setiap harinya mencit dilakukan pengujian rotaroad test, beam walk test,
Novel Object Recognition Test, Y-Maze Test, Locomotor Test, Tail Suspension Test.
Studi molecular docking berdasarkan nilai Root Mean Standard Deviation
(RMSD),temuan analisis dari database Protein Data Bank, pendekatan yang digunakan
untuk menentukan struktur reseptor menunjukan bahwa reseptor target yang dapat
digunakan adalah transcription faktor Nrf2, A2A Adenosine, dan catechol-O-methyl
transferase. Kaempferol menunjukkan efek potensial pada dua dari tiga pengujian
(adenosin A2A dan reseptor COMT) yang ditunjukkan oleh nilai pengikatan energi
bebas terendah (masing-masing -5,42 kkal/mol, -7,16 kkal/mol, dan -8,33 kkal/mol).
Senyawa dengan nilai energi bebas yang lebih negatif umumnya menunjukkan afinitas
pengikatan yang lebih tinggi dan dengan demikian potensi penghambatan yang lebih
tinggi. Sehingga berdasarkan hasil penelitian ini dapat diprediksi bahwa kaempferol
memiliki aktivitas sebagai agen antiparkinson karena memiliki afinitas dengan protein
target enzim A2A Adenosine dan COMT. Kaempferol juga memiliki nilai konstanta
penghambatan yang lebih rendah pada faktor transkripsi Nrf2, adenosin A2A, dan
reseptor COMT (masing-masing 106,06 μM, 5,63 μM, dan 779,51 nM). Kaempferol
dan senyawa penuntun memiliki gugus fungsi yang serupa sesuai dengan komponen
penting interaksi antara residu asam amino. Pemodelan farmakofor mengungkapkan
bahwa gugus fungsi hidroksil berinteraksi kuat dengan residu asam amino penting dari
reseptor. Pengujian aktivitas neuroprotektif kombinasi levodopa dan kaempferol pada
model hewan Parkinson dilakukan evaluasi pengamatan uji perilaku kognitif dan
motorik. Pengamatan uji perilaku kognitif meliputi Y Maze test dan novel object
recognition, sedangkan pengamatan uji perilaku motorik meliputi locomotor, tail
iv
suspension test, rotarod test, dan beam walking test. Hasil uji rotaroad test menunjukan
seluruh kelompok uji (levodopa, kaempferol 25 dan 50, kombinasi
levodopa+kaemferol 50, levodopa+carbidopa menunjukan nilai rotaroad yang lebih
rendah namun tidak berbeda bermakna bila dibandingkan dengan kelompok kontrol
negatif (P -
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






