Detail Cantuman

No image available for this title

Text  

T314- Analisis Utilitas Biaya Hemodialisis Dibandingkan CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis) Pada Pasien Penyakit Ginjal Tahap Akhir Dengan Komorbid Hipertensi (Wening Wulandari; Prof. Auliya A. Suantika, M.BA., Ph.D; Neily Zakiyah, M.Sc., Ph.D; Cherry Rahayu, M.KM)


Hipertensi merupakan penyebab utama dan komorbid terbanyak pasien Penyakit Ginjal Tahap Akhir (PGTA). Berdasarkan data Indonesian Renal Registry ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    FFUP20240132T314Tersedia
  • Perpustakaan
    Fakultas Farmasi
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    T314
    Penerbit Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran : Jatinangor.,
    Deskripsi Fisik
    -
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    T314
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    -
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Hipertensi merupakan penyebab utama dan komorbid terbanyak pasien Penyakit Ginjal Tahap Akhir (PGTA). Berdasarkan data Indonesian Renal Registry (IRR) tahun 2018, komorbid hipertensi pada pasien PGTA sebanyak 22.672 kasus. Pada pasien PGTA dengan komorbid hipertensi yang terpenting dari perspektif terapeutik yaitu mengontrol tekanan darah dan melakukan Terapi Pengganti Ginjal (TPG). Hemodialisis (HD) dan Continuous Ambulatory Peritoneal Dilaysis (CAPD) merupakan TPG yang sering digunakan di Indonesia, tetapi pemilihan modalitas terapi CAPD di Indonesia saat ini masih sedikit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui utilitas biaya tindakan HD dan CAPD pada pasien PGTA dengan komorbid hipertensi yang melakukan perawatan rutin di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung. Pengumpulan data dilakukan secara cross sectional dari data primer (kuesioner EQ-5D-5L) dan data sekunder (data rekam medis dan data rincian biaya) periode Januari-Desember 2023. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan secara statistik kualitas hidup pasien HD (0,91) dan CAPD (0,88). Total biaya yang didapatkan selama satu tahun perawatan (rawat inap dan rawat jalan) dilihat dari perspektif rumah sakit sebesar Rp 277.467.200 untuk tindakan HD dan Rp 121. 312.725 untuk tindakan CAPD. Berdasarkan perspektif BPJS dilihat dari besaran tarif INA CBGs untuk tindakan HD Rp. 320.851.595 dan tindakan CAPD Rp 159.193.100. Nilai Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER) per peningkatan satu unit Quality Adjusted Life Years (QALY) menghasilkan penghematan biaya sebesar Rp 796.706.505 dilihat dari perspektif rumah sakit dan Rp 824.788.240 dilihat dari perspektif BPJS. Hasil penelitian menunjukkan efektivitas QALY, biaya HD, biaya dokter, dan biaya CAPD merupakan parameter yang berpengaruh terhadap nilai ICER. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tindakan CAPD memiliki kualitas hidup lebih rendah dan biaya lebih rendah dibandingkan HD.


    Kata Kunci : Dialisis, EQ-5D-5L, Quality-Adjusted Life Years (QALY), Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER), Health-Related Quality of Life (HRQoL)
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi