Detail Cantuman

No image available for this title

Text  

4538- Perilaku Pencarian Pengobatan Oleh Ibu Dalam Penanganan Diare Pada Anak Balita Berdasarkan Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Tahun 2017 (Maria Elizabeth; Sofa Dewi Alfian, M.K.M., Ph.D; Neily Zakiyah, M.Sc., Ph.D)


Penyakit diare adalah penyebab kematian kedua yang paling sering terjadi pada kalangan anak-anak yang berusia kurang dari lima tahun. Kematian anak ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    FFUP202400954538Tersedia
  • Perpustakaan
    Fakultas Farmasi
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    4538
    Penerbit Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran : Jatinangor.,
    Deskripsi Fisik
    -
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    4538
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    -
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Penyakit diare adalah penyebab kematian kedua yang paling sering terjadi pada kalangan anak-anak yang berusia kurang dari lima tahun. Kematian anak akibat diare disebabkan karena pengobatan yang tidak tepat. Dengan itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat perilaku pencarian pengobatan yang dilakukan oleh setiap ibu ketika anaknya terkena diare dan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku tersebut berdasarkan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017. Studi ini menggunakan pendekatan observasional dengan metode cross sectional yang digunakan dalam menganalisis 2094 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis yang dilakukan yaitu analisis deskriptif, analisis bivariat dan regresi logistik multinomial. Hasil analisis ini menunjukkan sebanyak 1400 (66.9%) responden mencari pengobatan ke fasilitas kesehatan formal, 374 (17.9%) responden tidak melakukan pengobatan, 237 (11.3%) responden mencari pengobatan ke tempat non-formal, dan 83 (4%) responden melakukan pengobatan mandiri. Responden yang tinggal di pedesaan memiliki risiko 1.747 kali lebih tinggi (OR: 1.747 [95% CI 1.090 – 2.798], p: 0.020) untuk melakukan pengobatan mandiri dan 1.351 kali lebih tinggi (OR: 1.351 [95% CI 1.019 – 1.791], p: 0.037) untuk mencari pengobatan ke tempat non formal. Responden yang tidak sekolah memiliki risiko 2.824 kali lebih tinggi (OR: 2.824 [95% CI 1.335 – 5.975], p: 0.007) untuk tidak melakukan pengobatan. Responden yang pendidikan terakhirnya SD memiliki risiko 1.741 kali lebih tinggi (OR: 1.741 [95% CI 1.053 – 2.879], p: 0.031) untuk mencari pengobatan ke tempat non formal. Responden yang berasal dari kuintil kekayaan terbawah memiliki risiko 2.442 kali lebih tinggi (OR: 2.442 [95% CI 1.418 – 4.207], p: 0.001) untuk mencari pengobatan ke tempat non formal dan responden yang berasal dari kuintil kekayaan menengah bawah memiliki risiko 1.850 kali lebih tinggi (OR: 1.850 [95% CI 1.041 – 3.290], p: 0.036) untuk mencari pengobatan ke tempat non formal. Responden yang jarak ke fasilitas kesehatannya menjadi kendala memiliki risiko 1.508 kali lebih tinggi (OR: 1.508 [95% CI 1.095 – 2.077], p: 0.012) untuk tidak melakukan pengobatan. Responden yang tidak tahu bahwa oralit dapat mengatasi diare memiliki risiko 2.549 kali lebih tinggi (OR: 2.549 [95% CI 1.771 – 3.668], p: 0.000) untuk tidak melakukan pengobatan dan 2.237 kali lebih tinggi (OR: 2.237 [95% CI 1.439 – 3.478], p: 0.000) untuk mencari pengobatan ke tempat non formal. Faktor yang signifikan mempengaruhi perilaku pencarian pengobatan diantaranya adalah pendidikan terakhir, kuintil kekayaan, jarak ke fasilitas kesehatan, dan pengetahuan ibu mengenai oralit. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan landasan untuk dilakukannya intervensi kesehatan dalam fokus menurunkan angka kematian akibat diare pada balita di Indonesia.
    Kata kunci : Perilaku pencarian pengobatan, diare pada balita, faktor determinan, SDKI 2017
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi