
Text
T306- Aktivitas Antihiperglikemia Ekstrak dan Fraksi Bawang Merah Brebes (Allium ascalonicum L.) Melalui Penghambatan Enzim α-Glukosidase dan Pada Tikus Wistar Yang Diinduksi Sukrosa (Tiara Ramadaini; Prof. Dr. Sri Adi Sumiwi, MS; Dr. Ellin Febrina, M.Si)
Kuersetin merupakan senyawa flavonol yang dapat menurunkan kadar glukosa darah dengan mekanisme penghambatan enzim α-glukosidase. Senyawa kuersetin ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan FFUP20240053 T306 Tersedia -
Perpustakaan Fakultas FarmasiJudul Seri -No. Panggil T306Penerbit Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran : Jatinangor., 2024 Deskripsi Fisik -Bahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi T306Tipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek -Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab - -
Kuersetin merupakan senyawa flavonol yang dapat menurunkan kadar glukosa darah dengan mekanisme penghambatan enzim α-glukosidase. Senyawa kuersetin ditemukan pada bawang merah Brebes (Allium ascalonicum L.) yang dapat dimanfaatkan sebagai antihiperglikemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas ekstrak dan fraksi bawang merah Brebes sebagai antihiperglikemia dengan mekanisme penghambatan enzim α-glukosidase. Simplisia diekstraksi menggunakan etanol 70% lalu difraksinasi dengan pelarut n-heksan, etil asetat, n-butanol, dan air. Didapatkan ekstrak A. ascalonicum (EAA), fraksi n-heksan (FNH), fraksi etil asetat (FEA), fraksi n-butanol (FNB), dan fraksi air (FAA).
Metode penelitian dimulai tahap identifikasi tanaman yaitu skrining fitokimia, kromatografi lapis tipis (KLT), kadar flavonoid total, kadar fenolik total, dan residu pelarut. Selanjutnya, dilakukan tahap uji in vitro terhadap serbuk aseton usus tikus untuk melihat daya hambat dan IC50 sampel dengan variasi konsentrasi EAA 250, 500, 1000, dan 2000 ppm dan variasi konsentrasi FNH, FEA, FNB, FAA mulai dari 125, 250, 500, dan 1000 ppm Kemudian uji in vivo dengan menggunakan tikus Wistar yang diinduksi sukrosa terbagi ke dalam 9 kelompok yaitu kelompok kontrol normal, kontrol negatif sukrosa 5,625 g/kgBB, kontrol positif 1 kuersetin 40 mg/kgBB, kontrol positif 2 akarbosa 2,7 mg/200gBB, EAA 300mg/kgBB, dan masing-masing fraksi 75 mg/kgBB. Perlakuan selama 2 minggu dan pengambilan serta pengukuran kadar glukosa darah tikus dilakukan pada menit ke 0, 30, 60, dan 120. Analisis data statistik menggunakan SPSS dengan uji normalitas Shapiro-Wilk, uji homogenitas, uji One-Way ANOVA, dan uji lanjut post-hoc Scheffe.
Hasil ekstraksi didapatkan persentase rendemen ekstrak 76,51%, FNH 1,43%, FEA 9,96%, FNB 0,64%, dan FAA 12,27%. Identifikasi senyawa didapatkan senyawa utama adalah kuersetin. Hasil kadar flavonoid dan fenolik total tertinggi yaitu FEA sebesar 2579,07 mgQE/g esktrak dan 776,167 mgGAE/g ekstrak. Residu EAA sebesar 0,17% dan FEA 0,47%. Hasil uji in vitro menunjukkan persentase daya hambat terhadap enzim α-glukosidase serbuk aseton usus tikus dari EAA 250ppm adalah 56,21%, FNH, FEA, FNB, FAA 125ppm berturut-turut 66,30; 62,61; 48,70; 58,72% dan nilai IC50 berturut-turut 73,44; 24,59; 45,38; 99,36; 25,55 ppm. Hasil uji in vivo memberikan hasil persentase penurunan kadar glukosa darah dari EAA, FNH, FEA, FNB, FAA berturut-turut sebesar 27,44; 25,07; 36,58; 25,45; 25,41%. Berdasarkan uji statistik didapatkan hasil pengukuran data terdistribusi normal (p>0,05), homogen (p>0,05), dan terdapat perbedaan persentase penurunan kadar glukosa darah yang bermakna pada menit ke-30, 60, dan 120 (p -
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






