Detail Cantuman

Image of Raga Kayu, Jiwa Manusia: Wayang Golek Sunda

Text  

Raga Kayu, Jiwa Manusia: Wayang Golek Sunda


Wayang golek purwa kini sangat populer di Tanah Sunda, Jawa Barat, Indonesia. Praktik yang kompleks dalam dimensi sosial dan artistiknya ini ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    P00190S791.5 SAR rTersedia
  • Perpustakaan
    Fakultas Ilmu Budaya
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    791.5 SAR r
    Penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) : JAKARTA.,
    Deskripsi Fisik
    513 halaman; 16 x 24 cm.
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    978-602-424-766-9
    Klasifikasi
    791.5
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    Edisi I, Cetakan I
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    Buku ini merupakan buku terjemahan dari buku dengan judul asli "Corps de bois, souffle humain: Le theatre de marionnettes wayang golek de Java Quest"
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Wayang golek purwa kini sangat populer di Tanah Sunda, Jawa Barat, Indonesia. Praktik yang kompleks dalam dimensi sosial dan artistiknya ini diproklamasikan oleh UNESCO sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Takbenda Manusia yang merupakan bagian dari pencalonan umum "Wayang Indonesia", pada tahun 2003. Buku ini menguraikan dan membahas jalur yang dilalui suatu warisan keluarga hingga menjadi suatu warisan bersama, nasional, dan dunia. Analisis antropologi ini memadukan kajian politik budaya di tingkat-tingkat tersebut dengan kajian konsep-konsep global dan studi mendalam mengenai tahapan pencalonan pertama Indonesia pada warisan takbenda UNESCO, serta realitas etnografi wayang golek. Dari proses warisanisasi resmi (yaitu proses menjadi warisan) itu muncul banyak kepentingan, seperti pembentukan identitas dan budaya nasional, atau pula spektakularisasi dan folklorisasi wayang golek, perubahannya menjadi sebuah produk ekspor, suatu sumber daya untuk digerakkan dan didayagunakan. Warisan menjadi modal usaha untuk diputar terutama untuk tujuan ekonomi di suatu provinsi yang diterpa krisis moneter pada 1997 dan akhir 2008, dan di dalam proses demokratisasi yang kompleks setelah tiga dasawarsa berada di bawah rezim otoriter Orde Baru (1966-1998). Tak sekadar membatasi diri hanya menelaah jukstaposisi konsep internasional warisan takbenda dengan konteks lokal yang spesifik, karya ini memperlihatkan bagaimana, melalui praktik- praktik mereka, para praktisi wayang golek mengambil istilah baru ini. Kemudian, mereka memberikan unsur-unsur perenungan umum terhadap warisan dengan wayang golek yang berfungsi sebagai metawacana dalam masyarakat Sunda kontemporer.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi