Detail Cantuman

No image available for this title

Text  

D56- Aktivitas dan Mekanisme Antimelanogenesis Ekstrak Etanol Rimpang Kunyit (Curcuma longa L.) Melalui Penghambatan Tirosinase dan Microphthalmia Associated Transcription Factor Secara In Vitro Pada Lini Sel B16F10 dan Ex Vivo Pada Kulit Tikus Yang Diinduksi Ultraviolet (Deni Firmansyah, Prof. Dr. Jutti Levita, M.Si, Prof. Dr. Sri Adi Sumiwi, MS, Dr. Nyi Mekar Saptarini, M.Si)


Warna kulit manusia dipengaruhi oleh pigmen melanin di dalam sel-sel melanosit pada lapisan kulit epidermis. Melanogenesis merupakan reaksi kompleks ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    FFUP20230212D56Tersedia
  • Perpustakaan
    Fakultas Farmasi
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    D56
    Penerbit Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran : Jatinangor.,
    Deskripsi Fisik
    -
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    D56
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    -
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Warna kulit manusia dipengaruhi oleh pigmen melanin di dalam sel-sel melanosit pada lapisan kulit epidermis. Melanogenesis merupakan reaksi kompleks yang melibatkan banyak faktor salah satunya adalah peran penting tirosinase dan microphthalmia-associated transcription factor (MITF). Tirosinase dianggap sebagai target penting dari penghambat biosintesis melanin. Aktivitas tirosinase berlebihan akan menyebabkan pembentukan melanin abnormal berupa bercak hiperpigmentasi pada kulit manusia. MITF bekerja sebagai pengatur utama perkembangan dan fungsi sel-sel melanosit dengan memodulasi gen-gen yang berperan pada siklus sel tersebut. MITF juga dapat berfungsi sebagai onkogen, yaitu gen yang berpotensi memicu kanker kulit (melanoma). Rimpang Curcuma longa L. telah banyak diteliti aktivitas biologisnya. C. longa juga telah digunakan sebagai kosmetik pemutih tradisional Jawa. Rimpang C. longa mengandung fenolat kurkuminoid (kurkumin, demetoksikurkumin dan bisdemetoksikurkumin). Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas dan mekanisme antimelanogenesis ekstrak etanol rimpang C. longa (EECL) melalui penghambatan tirosinase dan MITF secara in vitro dan ex vivo. Selain itu, dilakukan pula simulasi penambatan molekul kurkuminoid dan turmeron terhadap tirosinase dan tyrosinase-related protein-1 (TRP-1).
    Penelitian ini diawali dengan mengekstraksi metabolit sekunder di dalam rimpang C. longa dari Desa Buniayu, Jalan Cagak, Subang, Jawa Barat, Indonesia secara maserasi menggunakan pelarut etanol 70% (1:10) selama 5 x 24 jam dan menghasilkan rendemen ekstrak sebesar 15,3% b/b. Penapisan fitokimia EECL menunjukkan adanya senyawa fenolik, tanin, flavonoid, saponin, triterpenoid dan alkaloid. Profil kromatografi lapis tipis (KLT) EECL dengan menggunakan fasa diam silika gel GF254 dengan fasa gerak pertama kloroform-metanol (95:5) dengan penampak bercak H2SO4 menghasilkan tiga spot dengan nilai faktor retensi (Rf) berturut-turut adalah 0,68; 0,56; dan 0,32 yang dididentifikasi sebagai bisdemetoksikurkumin, demetoksikurkumin dan kurkumin. Fasa gerak kedua toluene-etil asetat-asam format (5:4:1) penampak bercak H2SO4 hanya menghasilkan satu spot dengan nilai Rf yang sama dengan baku kurkumin yaitu 0,675. Fasa gerak ketiga methanol-asam asetat-asam format-air (3:1:1:0,5) penampak bercak H2SO4 10% menghasilkan satu spot dengan nilai Rf 0,925 pada EECL dan 0,9125 pada baku kurkumin.
    Analisis kualitatif menggunakan kromatografi cair kinerja tinggi dapat membuktikan bahwa kurkuminoid terkandung dalam EECL, melalui puncak triplet kromatogram pada pada Rt kurkumin 14,802 menit; demetoksikurkumin 13,675 menit; dan bisdemetoksikurkumin 12,646 menit. Analisis kuantitatif menunjukkan bahwa kadar bisdemetoksikurkumin adalah 63306,24 mg/kg (6,33%); demetoksikurkumin 31414,35 mg/kg (3,14%) dan kurkumin 83753 mg/kg (8,37%).
    Tahap penelitian selanjutnya adalah memprediksi interaksi antara kurkuminoid dan turmeron dengan tirosinase (PDB ID: 3NQ1) dan TRP-1 (PDB ID: 5M8M) dilakukan secara in silico menggunakan simulasi penambatan molekul. Hasil penambatan molekul menunjukkan bahwa kurkumin, demetoksikurkumin, bisdemetoksikurkumin, dan turmeron dapat membentuk ikatan hidrogen dengan Gly196 dan/atau Asn205 di dalam kantung ikatan tirosinase, serta berikatan hidrogen dengan Ser394 di dalam kantung ikatan TRP-1. Mode ikatan tersebut menyerupai asam kojat. Turmeron memiliki ikatan kuat dengan tirosinase, sedangkan bisdemetoksi kurkumin menunjukkan afinitas terkuat terhadap TRP-1.
    Tahap studi in vitro diawali dengan uji sitotoksisitas EECL, kurkumin, dan asam kojat terhadap lini sel melanoma B16F10. Baik EECL maupun asam kojat menunjukkan sitotoksisitas sedang dengan IC50 berturut-turut adalah 133,0 µg/mL dan 55,68 µg/mL. Senyawa kurkumin menunjukkan sitotoksisitas tinggi dengan IC50 = 23,92 µg/mL. Selanjutnya uji aktivitas penghambatan tirosinase secara in vitro menggunakan Tyrosinase Inhibitor Screening Kit membuktikan bahwa EECL dapat menghambat aktivitas tirosinase dengan nilai IC50 = 564,8 µg/mL. Kekuatan aktivitas penghambatan tirosinase oleh EECL adalah 0,098 kali lebih lemah dibandingkan dengan asam kojat dengan nilai IC50 = 55,70 µg/mL.
    Tahap terakhir penelitian ini adalah menguji aktivitas dan mekanisme antimelanogenesis EECL (konsentrasi 2, 4, dan 8%) secara ex vivo terhadap tikus Wistar yang diinduksi sinar UVB dengan kontrol positif asam kojat 1% dalam basis gel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa EECL memiliki aktivitas antimelanogenesis. Selain itu, pemberian EECL secara topikal dapat melindungi kulit dari penebalan epidermis akibat UVB dan mengurangi kerusakan kulit. EECL 2, 4, dan 8% secara signifikan dapat menghambat ekspresi MITF dengan metode imunohistokimia dengan bekurangnya warna coklat pada jaringan epidermis kulit akibat reaksi antara antigen dan antibodi dengan pewarna diaminobenzidin (DAB).
    Berdasarkan data yang dihasilkan pada penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa EECL dapat dijadikan sebagai alternatif dalam pengobatan dan dalam perancangan obat baru atau sediaan kosmetika, terutama dalam pengembangan produk pencegah hiperpigmentasi. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan guna memaksimalkan kemampuan EECL sebagai antimelanogenesis.
    Kata kunci: kurkumin, Curcuma longa, tirosinase, melanogenesis
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi