
Text
D55- Desain, Sintesis, Karakterisasi, dan Aplikasi Polimer Tercetak Molekul Alfa Mangostin Sebagai Sorben Ekstraksi Fase Padat Untuk Analisis Dalam Cairan Biologis (Winasih Rachmawati; Prof. Muchtaridi, Ph.D; Prof. Dr. Aliya Nur Hasanah, M.Si; Dr. Fauzan Zein Muttaqin, M.Si)
Kulit manggis diketahui mengandung senyawa α-mangostin yang memiliki banyak aktivitas farmakologi, sehingga dapat dimanfaatkan untuk pembuatan obat ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan FFUP20230210 D55 Tersedia -
Perpustakaan Fakultas FarmasiJudul Seri -No. Panggil D55Penerbit Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran : Jatinangor., 2023 Deskripsi Fisik -Bahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi D55Tipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek -Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab - -
Kulit manggis diketahui mengandung senyawa α-mangostin yang memiliki banyak aktivitas farmakologi, sehingga dapat dimanfaatkan untuk pembuatan obat herbal atau suplemen makanan. Pengujian ketersediaan hayati dari suatu obat perlu dilakukan untuk mengetahui jumlah serta kecepatan obat yang diabsorpsi sehingga dapat memenuhi standar efikasi, keamanan dan mutu yang dipersyaratkan. Kadar senyawa yang rendah dalam cairan biologis memerlukan preparasi sampel yang efektif untuk bisa menganalisisnya. Polimer tercetak molekul dapat berfungsi sebagai sorben pada ekstraksi fase padat, memungkinkan pemekatan dan ekstraksi α-mangostin dari matrik yang kompleks, seperti cairan biologis. Sampai saat ini belum pernah dibuat polimer tercetak molekul untuk analisis α-mangostin dalam cairan biologis oleh karena itu pada penelitian ini akan disintesis material Polimer Tercetak Molekul-Ekstraksi Fase Padat (PTM-EFP) untuk ekstraksi α-mangostin dari sampel biologis. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui jenis monomer fungsional yang menghasilkan afinitas pengikatan terbaik dengan α-mangostin menggunakan metode komputasi, 2) mendapatkan komposisi mol antara α-mangostin:monomer terpilih:pengikat silang yang dapat menghasilkan karakteristik PTM yang terbaik, 3) mempelajari gambaran interaksi komposisi PTM terbaik melalui simulasi dinamika molekular, 4) mempelajari metode pembuatan PTM-EFP α-mangostin yang menghasilkan kapasitas adsorpsi dan imprinting faktor terbaik, 5) mempelajari kemampuan selektivitas dan nilai perolehan kembali PTM-EFP α-mangostin yang dibuat dan dibandingkan dengan ekstraksi fase padat komersial.
Dalam upaya mencapai tujuan penelitian, dilakukan tahapan penelitian sebagai berikut: Tahap pertama dilakukan penentuan jenis monomer fungsional dan rasio antara molekul cetakan dan monomer fungsional dengan simulasi komputasi. Simulasi dimulai dengan perhitungan energi ikatan antara α-mangostin sebagai molekul cetakan dengan delapan monomer fungsional menggunakan pendekatan semiempiris PM3. Tahap kedua adalah penentuan konstanta asosiasi (Ka) antara molekul cetakan dan monomer fungsional dalam beberapa pelarut yang dilanjutkan dengan penentuan stoikiometri reaksi menggunakan metode Job plot untuk menentukan rasio antara molekul cetakan dan monomer fungsional. Setelah mendapatkan pelarut porogenik terbaik, tahapan selanjutnya adalah simulasi molekular dinamik untuk mengetahui interaksi yang terjadi antara molekul cetakan dengan komponen lain dalam campuran pra-polimerisasi menggunakan program AMBER 18. Tahap ketiga melakukan sintesis polimer tercetak molekul dengan menggunakan metode ruah dan suspensi berdasarkan rasio molekul cetakan:monomer fungsional: pengikat silang yang diperoleh dari simulasi komputasi dan Job plot. Tahapan keempat dilanjutkan dengan karakterisasi terhadap polimer yang telah disintesis meliputi karakterisasi fisik dengan Spektroskopi FTIR, Scanning Electron Microscope (SEM) dan analisis area permukaan Brunauer–Emmett–Teller (BET), perhitungan kemampuan adsorpsi dan kapasitas adsorpsi. Selanjutnya tahapan kelima penelitian dilakukan optimasi dan uji selektivitas serta aplikasi PTM-EFP untuk ekstraksi α-mangostin dari serum dengan dan tanpa adanya senyawa analog. Aplikasi juga dilakukan dengan membandingkan hasilnya terhadap ekstraksi α-mangostin dengan EFP komersial.
Perhitungan energi ikatan melalui pendekatan semiempiris PM3 terhadap delapan monomer fungsional menunjukkan monomer fungsional yang mempunyai ikatan terbaik dengan α-mangostin (AM) adalah akrilamid (AAM) yang membentuk empat ikatan hidrogen dengan energi ikatan sebesar -23,1938 Kkal/mol. Penentuan konstanta asosiasi (Ka) monomer fungsional-molekul cetakan menunjukkan konstanta asosiasi tertinggi AM dengan AAM dalam pelarut etil asetat-asetonitril (1:2) sebesar 634,57 M-1. Penentuan rasio molekul cetakan dan monomer fungsional dengan metode Job plot menghasilkan rasio AM dan AAM 1:1. Simulasi molekular dinamik terhadap campuran pra-polimerisasi menunjukkan bahwa PTM AM:AAM:EGDMA dengan rasio 1:4:20 (PTM4) dalam pelarut polimerisasi etil asetat-asetonitril (1:2) menunjukkan interaksi yang terkuat ditinjau dari jarak ikatan hidrogen antara 1,8-3,2 Å dan aspek fungsi distribusi radial (RDF).
Metode polimerisasi ruah dan metode polimerisasi suspensi digunakan untuk mensintesis PTM dengan komposisi AM:AAM:EGDMA 1:1:20 (PTM1) dan 1:4:20 (PTM4). Polimer tidak tercetak molekul (PTTM) dibuat dengan komposisi yang sama dengan PTM tanpa penambahan AM. Analisis FTIR terhadap polimer-polimer yang telah disintesis menunjukkan bentuk spektrum yang sama antara PTM dan PTTM dan tidak adanya puncak kembar pada daerah bilangan gelombang 900-1000 cm-1 menunjukkan tidak adanya gugus vinil serta adanya puncak di 1714 dan 11335 cm-1 yang sama dengan puncak di pengikat silang EGDMA menunjukkan proses polimerisasi telah selesai. Karakterisasi dengan SEM terhadap polimer tersebut diperoleh kondisi bahwa PTM memiliki morfologi yang lebih berongga daripada PTTM, PTM yang dihasilkan melalui metode suspensi memiliki ukuran partikel yang lebih kecil daripada PTM hasil metode ruah. Pengujian BET menunjukkan luas permukaan PTM metode suspensi lebih besar dari PTM yang diperoleh melalui metode ruah. Pemeriksaan kapasitas adsorpsi terhadap polimer-polimer tersebut menujukkan hasil bahwa sifat dan karakteristik adsorpsi AM terhadap PTM mengikuti model isoterm Langmuir. Adsorpsi PTM yang memiliki perbedaan tertinggi dengan PTTM ditunjukkan oleh PTM4-S dengan nilai afinitas sebesar 0,6142 mg/g dan nilai IF 4,39. Optimasi kondisi PTM-EFP menunjukkan kondisi optimum sebagai berikut: pelarut pengkondisian menggunakan metanol, pelarut pengumpan menggunakan asetonitril-air (1:1), pelarut pencucian menggunakan air dan toluen diakhiri dengan pelarut pengelusi campuran metanol:asam asetat (99:1). PTM-EFP yang digunakan untuk mengekstraksi AM dari serum yang terbaik adalah PTM4 metode suspensi dengan perolehan kembali sebesar 85,88±2,51% dibandingkan dengan perolehan kembali PTTM4 sebesar 47,02±4,69%. Sementara sorben EFP C18 komersial memberikan hasil perolehan kembali sebesar 24,19±1,47%. Hasil uji selektivitas terhadap AM dalam serum yang berada bersama dengan molekul struktur analognya yaitu β-mangostin (BM) dan γ-mangostin (GM) menunjukkan persen perolehan kembali AM, BM dan GM pada PTM4-S berturut-turut sebesar 83,82±0,93%, 18,53±3,31% dan 98,20±1,81%.
Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa PTM4-S dengan komposisi AM sebagai molekul cetakan, AAM sebagai monomer fungsional, dan EGDMA sebagai pengikat silang 1:4:20 yang disintesis dengan metode polimerisasi suspensi menunjukkan kemampuan pengenalan molekular yang baik terhadap senyawa target yaitu α-mangostin, dan dapat digunakan sebagai sorben pada ekstraksi fase padat yang selektif untuk menganalisis AM baik tunggal maupun dalam campuran dengan senyawa analognya dalam serum darah.
-
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






