
Text
D52- Aktivitas Penumbuh Rambut dan Anti Ketombe dari Kulit Batang Langir (Albizia saponaria Lour) dan Penelusuran Senyawa Bioaktif Secara In Silico Serta Formulasi Tonik Rambut (Himaniarwati; Prof. Dr. Resmi Mustarichie, M.Sc., Ph.D; Dr. Yasmiwar Susilawati, M.Si; Prof. Dr. Muhammad Arba, M.Si)
Suku Tolaki di Sulawesi Tenggara menggunakan kulit batang langir sebagai penumbuh rambut dan untuk menghilangkan ketombe. Secara empiris masyarakat ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan FFUP20230199 D52 Tersedia -
Perpustakaan Fakultas FarmasiJudul Seri -No. Panggil D52Penerbit Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran : Jatinangor., 2023 Deskripsi Fisik -Bahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi D52Tipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek -Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab - -
Suku Tolaki di Sulawesi Tenggara menggunakan kulit batang langir sebagai penumbuh rambut dan untuk menghilangkan ketombe. Secara empiris masyarakat menggunakan langir dengan cara sederhana yaitu digosokkan langsung pada bagian kepala saat keramas. Data ilmiah tumbuhan Langir (Albizia saponaria Lour.) sebagai penumbuh rambut dan anti ketombe serta kandungan kimianya belum pernah dilaporkan. Kandungan kimia utama dari genus Albizia diketahui adanya golongan saponin triterpenoid, flavonoid, lignanoid, alkaloid, fenolik dan glikosida. Penelitian ini bertujuan untuk (1) memperoleh informasi aktivitas ekstrak, fraksi dan subfraksi dari kulit batang langir sebagai penumbuh rambut dan anti ketombe, (2) mengetahui senyawa bioaktif yang diidentifikasi dalam subfraksi aktif kulit batang A. saponaria berdasarkan hasil LCMS/MS, (3) memprediksi interaksi yang terjadi antara senyawa bioaktif dari kulit batang A. saporia terhadap reseptor 5α reductase dan terhadap Lanosterol 14α-demethylasemelalui studi penambatan molekular, (4) menentukan stabilitas interaksi dan profil energi MM-PBSA senyawa terpilih terhadap reseptor 5α reductase dan lanosterol 14α-demethylase, (5) membuat formulasi sediaan tonik rambut dari fraksi etil asetat kulit batang A. saponaria dan uji stabilitasnya serta uji aktivitas sebagai penumbuh rambut dan anti ketombe.
Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan bioassay guided menggunakan serangkaian metode yaitu ekstraksi, standarisasi ekstrak, fraksinasi, kromatografi dan identifikasi senyawa aktif melalui LCMS/MS yang dipandu dengan uji aktivitas pertumbuhan rambut terhadap hewan coba kelinci menggunakan metode Tanaka dan uji aktivitas anti ketombe terhadap Malassezia furfur menggunakan metode difusi agar. Senyawa yang teridentifikasi dari LCMS/MS dilanjutkan dengan uji in silico penambatan molekul terhadap reseptor 5α-reductase dan reseptor lanosterol 14α-demethylase. Senyawa aktif terpilih dari hasil penambatan molekular kemudian dianalisis interaksinya dengan reseptor 5α reductase dan reseptor Lanosterol 14α-demethylasemelalui dinamika molekuler. Formulasi sediaan tonik rambut dari fraksi etil asetat kulit batang langir dibuat sebanyak 15 formulasi dengan memvariasikan etanol mulai dari 20% sampai 40% sebagai peningkat penetrasi (enhancer) dan propilen glikol 5% sampai 15% sebagai humektan dan kosolven. Sediaan tonik rambut dilakukan uji stabilitas meliputi organoleptik, pH, kejernihan dan viskositas selama 12 minggu. Dilanjutkan dengan uji aktivitas sediaan tonik rambut sebagai penumbuh rambut dan anti ketombe.
Ekstraksi kulit batang A. saponaria menghasilkan ekstrak kental coklat gelap, rendemen ekstrak 14,28%, rendemen fraksi n-hexan 13,57%, fraksi etil asetat 27,10%, dan fraksi air 40,15%. Skrining fitokimia ekstrak menunjukan adanya golongan senyawa, saponin, flavonoid, alkaloid, triterpenoid, fenol dan steroid. Kadar sari ekstrak larut air 12,45%, kadar sari larut etanol 16,33%, kadar air 9,58%, kadar abu total 3,12% dan kadar abu larut asam 0,78%.
Hasil uji aktivitas ekstrak terhadap pertumbuhan rambut dengan parameter panjang rambut dan bobot rambut adalah sebagai berikut; pada dosis 5% (0,35 cm dan 0,04 g), 10% (0,40 cm dan 0,05 g), 15% (0,42 cm dan 0,08 g), 20% (0,34 cm dan 0,06 g), minoxidil (0,52 cm dan 0,09 g) dan tanpa perlakuan (0,23 cm dan 0,04 g); sementara hasil uji aktivitas ekstrak sebagai anti ketombe dengan zona hambat pada konsentrasi 5% (14 mm), 10% (15,56 mm), 15% (16,00 mm) dan 20% (17,44 mm).
Uji aktivitas pertumbuhan rambut dan bobot rambut kelinci dari fraksi memperlihatkan nilai rata-rata untuk fraksi n-heksan (0,63 cm dan 0,06 g), fraksi etil asetat (0,67 cm dan 0,63 g), fraksi air (0,70 cm dan 0,08 g), minoxidil (0,71 cm dan 0,09 g), Na-CMC (0,34 cm dan 0,05 g) dan tanpa perlakuan (0,27 cm dan 0,04 g); untuk uji aktivitas fraksi sebagai anti ketombe kosentrasi 10%, 15% dan 20% memperlihatkan hasil berturut turut pada fraksi n-heksan (16,16 mm, 17,00 mm dan 17,89 mm), fraksi etil asetat (7,33 mm, 8,11 mm dan 13,67 mm) dan fraksi air (16,00 mm, 17,3 mm dan 18,67 mm), kontrol positif ketokonazol (13,67 mm) dan kontrol normal DMSO (0,00 mm). Fraksi etil asetat diketahui memiliki aktivitas penumbuh rambut dan anti ketombe yang paling baik, sehingga dipilih untuk dilakukan pemisahan lebih lanjut dengan kromatografi cair vakum.
Proses kromatografi cair vakum fraksi etil asetat menghasilkan 20 fraksi dan dianalisis pola pemisahan dengan kromatografi lapis tipis. Berdasarkan pola kromatogram dikelompokkan menjadi 7 subfraksi yaitu SFA, SFB, SFC, SFD, SFE, SFE, dan SFG. Kemudian dilakukan uji aktivitas pertumbuhan rambut dan anti ketombe terhadap 7 subfraksi tersebut. Hasil uji aktivitas pertumbuhan rambut menunjukan peningkatan panjang rambut dan bobot rambut sebagai berikut; SFA (0,65 cm, 1,70 g), SFB (0,60 cm, 1,83 g), SFC (1,40 cm dan 1,84 g), SFD (1,40 cm dan 1,74 g), SFE (1,10 cm dan 1,77 g), SFF (1,40 cm dan 1,72 g), SFG (1,80 cm dan 1,62 g), minoxidil (0,53 cm dan 1,43 g), tanpa perlakuan (0,40 cm dan 1,15 g). Hasil uji aktivitas anti ketombe memperlihatkan nilai zona hambat SFA (3,3 mm), SFB (2,5 mm), SFC (2,1 mm), SFD (6,8 mm), SFE (4,7 mm), SFF (7,4 mm), SFG (11,6 mm), ketokonazol (16,0 mm) kontrol normal (0,0 mm).
Berdasarkan hasil uji aktivitas pertumbuhan rambut dan anti ketombe subfraksi, 4 subfraksi dilanjutkan untuk analisis LCMS/MS yaitu: SFD, SFE, SFF, SFG untuk menentukan senyawa bioaktif dari kulit batang A. saponaria. Hasil analisis LCMS/MS subfraksi diperoleh 24 senyawa yang digolongkan menjadi 4 golongan utama yaitu (1) steroid (kansenon, spinasteron, Z-9,17-Octadecaldienal, androsta-4-ene-3,17-dione, bufotalinin, alisol 1, neotigogenin acetat, trametenolic acid), (2) terpenoid (neotigogenin, atratoglaucoside A, protodiosgenin, saurufuran B, dan copaene), (3) fenil propanoid (3,3-Dimethyldecyl)-benzene, 2-(p-Anisyl)-5-methyl-1-hexen, yakuchinone B, 1,3,7-trihydroxy-6-methyl-xanthone, sesaminone), (4) flavonoid (5,7,2',5'-tetrahydroxy-flavone).
Hasil uji in vivo dan in vitro yang telah dilakukan dikonfirmasi dengan uji in silico melalui parameter penambatan molekul dan dinamika molekul menggunakan senyawa hasil analisis LCMS/MS. Interaksi yang terjadi antara 24 senyawa A. saponaria dengan reseptor 5α reductase melalui penambatan molekul dikonfirmasi 14 senyawa memperlihatkan nilai energi ikatan (ΔG) lebih kecil dari senyawa pembanding finasteride dan minoxidil, 3 senyawa terpilih yang memperlihatkan nilai energi ikatan terbaik diantaranya kansenone sebesar -7.87 kkal/mol, neotagenin asetat sebesar -7.06 kkal/mol, neotagenin sebesar -6.68 kkal/mol. Hasil penambatan molekul untuk anti ketombe pada ligan uji terhadap reseptor lanosterol 14-alpha demethylase dikonfirmasi 10 senyawa memperlihatkan nilai lebih baik dari senyawa pembanding ketokenazol, satu senyawa terpilih memperlihatkan nilai energi ikatan terbaik yaitu alisol I (-8,29 kkal/mol) serta memiliki ikatan hidrogen.
Hasil interaksi 3 senyawa aktif A. saponaria dengan reseptor 5α reductase melalui simulasi dinamika molekular selama 100 ns, kansenon menunjukan energi ikatan (-71.195 kj/mol),) neotigogenin (-77.048 kJ/mol) dan neotigogenin asetat (-80.408 kJ/mol), finasterid -62.867 KJ/mol minoksidil (-51.810 kj/mol). Hasil simulasi dinamika molekular untuk anti ketombe pada senyawa bioaktif alisol 1 terhadap reseptor lanosterol 14-alpha demethylase menunjukkan energi ikatan (-139.746 kJ/mol) dan ketokonazol (66.032 kJ/mol).
Hasil pengamatan organoleptik sediaan tonik rambut selama 12 minggu, formula F1 - F3 berwarna coklat, F4-F15 berwarna coklat kehitaman. Pada semua formula F1-F15 berbau khas langir dan ada aroma menthol, berbentuk cair dan memperlihatkan pH 6, jernih, homogen dan viskositas memenuhi syarat.
Hasil uji aktivitas sediaan tonik rambut pada pertumbuhan rambut menunjukan nilai panjang rambut dan bobot rambut kelinci terbaik pada 4 formula yaitu F3 (1,48 cm dan 0,37 g), F8 (1,72 cm dan 0,52 g), F12 (2,11 cm dan 0,61 g) dan F15 (1,63 cm dan 0,47 g) minoxidil (2,25 cm dan 0,92 g), kontrol normal (0,85 cm dan 0,08 g). Hasil uji aktivitas sediaan tonik rambut sebagai anti ketombe memperlihatkan nilai zona hambat masing masing formula adalah F5 (7,88), F12 (8,88 mm), F13 (8,3 mm), F15 (8,88 mm) dan ketokonazol (20,00 mm) dan SF (0,00 mm).
Ekstrak, fraksi dan subfraksi kulit batang langir menunjukan aktivitas penumbuh rambut dan anti ketombe yang signifikan pada p -
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






