Detail Cantuman

No image available for this title

Text  

D046- Analisis dan Karakterisasi Senyawa Selenium Organik dari Tanaman Yang Mengandung Sulfur Serta Studi Efek Protektif Pada Jantung (Ayu Shalihat; Mutakin, M.Si., Ph.D; dr. Ronny Lesmana, M.Kes., AIFO., Ph.D; Prof. Dr. Aliya Nur Hasanah, M.Si)


Penyakit kardiovaskular (CVD) masih menjadi penyebab kematian terbesar didunia. Faktor risiko yang mempengaruhi CVD seperti kebiasaan makan tinggi ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    FFUP20230175D046Tersedia
  • Perpustakaan
    Fakultas Farmasi
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    D046
    Penerbit Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran : Jatinangor.,
    Deskripsi Fisik
    -
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    D046
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    -
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Penyakit kardiovaskular (CVD) masih menjadi penyebab kematian terbesar didunia. Faktor risiko yang mempengaruhi CVD seperti kebiasaan makan tinggi lemak dan obesitas dapat menyebabkan kerusakan dan kematian sel jantung. Faktor risiko yang berhubungan dengan asupan makanan lainnya adalah defisiensi selenium. Kurangnya asupan selenium dapat menyebabkan kerusakan sel jantung. Beberapa penelitian menunjukan selenium memiliki efek proteksi terhadap jantung dengan mempengaruhi apoptosis, inflamasi, dan autofagi. Suplemen selenium sering diberikan dalam bentuk organik karena memiliki penyerapan lebih baik. Selenium organik umum terdapat pada tanaman dengan kandungan sulfur karena hubungan kemiripan sifat kimia dan jalur transportnya.
    Pada penelitian ini dilakukan analisis kandungan selenium pada tanaman mengandung sulfur yaitu bawang putih (Allium sativum), jengkol (Archidendron jiringa) dan petai (Parkia speciosa) di Jawa Barat dengan metode fluorometri pembentukan kompleks dengan 2,3-diaminonapthalene (DAN). Selanjutnya, karakterisasi selenium organik pada sampel dengan selenium tinggi dengan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi–UV (KCKT-UV) dan Kromatografi Cair Spektrometri Massa (KC-SM). Studi in-silico terhadap reseptor yang mempengaruhi efek kardioproteksi yaitu peroxisome proliferator-activated receptor-γ (PPAR-γ), phosphoinositide 3-kinase (AKT/PI3K) dan nuclear factor kappa B (NF-κB). Pengujian efek protektif terhadap jantung secara in-vitro pada sel H9C2 yang diinduksi asam palmitat dan metode in-vivo pada tikus Wistar yang diinduksi diet tinggi lemak.
    Hasil penentuan kandungan selenium P. speciosa, A. jiringa dan A. sativum berturut-turut 24,2 – 257,9 (ng/g), 27,3–498 (ng/g) dan 1,38-69,20 (ng/g). Kandungan selenium dalam A. jiringa lebih tinggi daripada di A. sativum dan P. speciose, sehingga A. jiringa dipilih untuk karakterisasi dan pengujian efek protektif terhadap jantung. Senyawa selenium organik pada A. jiringa diekstraksi dengan kloroform. Metode KCKT-UV fase terbalik dengan kolom C18 (4,6 mm x 150 mm, 5 µm) fase gerak gradien elusi (ACN: Air) 5-95% selama 40 menit dideteksi pada 210-400 nm. Hasil pemisahan dengan KCKT-UV ditampung setiap 10 menit dan diidentifikasi dengan fluorometri. Hasil pemisahan menit ke 10-20 disebut fraksi A memiliki konsentrasi selenium tinggi. Karakterisasi dengan KC-SM terhadap fraksi A diprediksi memiliki 3 selenium organik dengan berat molekul yaitu selenometionin (mz/198), gamma-glutamil metil selenosistein (mz/ 313) dan senyawa Se-S konjugat selenoglutation (mz/475).
    Penambatan molekul pada PPAR-γ dan PI3K/AKT didapatkan kompleks dengan gamma-glutamil metil selenosistein memiliki afinitas dan interaksi paling baik dibandingkan 2 senyawa lainnya. Kompleks reseptor NF-κB dan Se-S konjugat selenoglutation memiliki energi ikatan lebih rendah dan interaksi lebih baik dibanding 2 senyawa lainnya. Setelah itu 3 kompleks tersebut dilanjutkan untuk molekular dinamika. Hasilnya ketiga kompleks tersebut memiliki afinitas yang lebih baik dari ligan alami berdasarkan parameter MM-PSBA.
    Efek proteksi A. jiringa secara in vitro ditentukan dengan sel viabilitas pada sel H9C2 yang induksi asam palmitat. Pemberian ekstrak A. jiringa pada konsentrasi 0,01 – 0,1 ppm mengurangi kerusakan sel H9C2 yang diinduksi asam palmitat. Secara in vivo, pengujian efek proteksi dilakukan terhadap hewan tikus yang dibagi 4 kelompok yaitu kontrol normal (NCD), kontrol negatif diinduksi diet tinggi lemak (HFD), kelompok pakan standar dan jengkol (NCD-JK) dan kelompok diinduksi diet tinggi lemak yang ditambah jengkol (HFD-JK). Pakan diberikan setiap hari sesuai kelompok dilakukan selama 12 minggu. Pengambilan darah pada minggu ke-4, 6, 8 dan 12 dari ekor dan diukur nilai LDL (Low-Density Lipoprotein), trigilsesida dan kolesterol. Kelompok HFD-JK lebih rendah dibandingkan dengan kelompok HFD menunjukan A. jiringa dmempengaruhi profil lipid darah dengan menurunkan kadar kolesterol, LDL dan trigliserida. Pemeriksaan histologi miokardium dan endotelium menunjukkan A. jiringa mampu memperbaiki kerusakan akibat induksi HFD. Ekspresi caspase-3 diuji dengan western blot dan Real-time PCR. Hasil menunjukkan A. jiringa mampu menurunkan ekspresi protein caspase-3 dan mRNA caspase-3 pada jantung tikus yang diinduksi HFD. A. jiringa dengan kandungan selenium tinggi yang di prediksi mengandung selenium organik memiliki efek protektif terhadap jantung dengan mempengaruhi apoptosis.

    Kata Kunci: Selenium, fluorometri, Archidendron jiringa, Kardiovaskular, Sel H9C2, apoptosis, High-fat-diet
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi