Detail Cantuman

No image available for this title

Text  

D40- Senyawa Bakteriosin dari Bakteri Asam Laktat Yang Diisolasi dari Wadi Ikan Papuyu (Anabas testudineus Bloch.) Asal Kalimantan Tengah (Yulistia Budianti Soemarie; Dr. Tiana Milanda, M.Si; Prof. Dr. Med.Sc. Melisa Intan Barliana)


Wadi merupakan hasil fermentasi ikan yang banyak diminati oleh masyarakat Kalimantan Tengah. Wadi merupakan produk fermentasi yang berasal dari ikan ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    FFUP20230081D40Tersedia
  • Perpustakaan
    Fakultas Farmasi
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    D40
    Penerbit Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran : Jatinangor.,
    Deskripsi Fisik
    -
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    D40
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    -
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Wadi merupakan hasil fermentasi ikan yang banyak diminati oleh masyarakat Kalimantan Tengah. Wadi merupakan produk fermentasi yang berasal dari ikan utuh semi basah yang diolah dengan penambahan garam dan samu/lamu(beras yang disangrai dan dibalurkan ke ikan yang difermentasi). Wadi mengandung isolat bakteri yang memiliki senyawa metabolit sekunder sebagai antimikroba. Salah satu senyawa antimikroba yang dimiliki oleh isolat bakteri asal wadi adalah bakteriosin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengisolasi, mengidentifikasi, menganalisis serta mengkarakterisasi isolat bakteri dan senyawa bakteriosin yang dihasilkan dari hasil isolasi wadi ikan papuyu (Anabas testudineus Bloch.) asal Kalimantan Tengah. Tahapan penelitian meliputi : pengumpulan ikan papuyu, determinasi, pembuatan wadi, isolasi bakteri dari wadi ikan papuyu, pengamatan morfologi dari isolat bakteri, identifikasi isolat bakteri dengan metode 16s dan 18s rDNA-sekuensing, karakterisasi isolat bakeri secara in vitro, pembuatan kurva pertumbuhan bakteri,
    produksi isolat bakteri, pemurnian bakteriosin, pengukuran protein total dengan analisis BCA, pengukuran berat molekul dengan Trisin SDS-PAGE serta karakterisasi isolat bakteri hasil isolasi wadi ikan papuyu. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif.
    Hasil determinasi menunjukkan bahwa ikan yang digunakan adalah papuyu (Anabas testudineus Bloch). Dari hasil isolasi yang diperoleh terdapat 5 jumlah koloni yaitu 3 koloni pada media MRS agar (de Man Rogosa Sharpe) sedangkan pada MHA (Mueller Hinton Agar) terdapat 2 koloni, dimana koloni yang tumbuh berwarna putih dan kuning dengan kode MHA KK (koloni kuning), MHA KP (koloni putih), MRS AKP (koloni putih), MRS AKK (koloni kuning) dan MRS BKP (koloni putih). Hasil pengamatan koloni dan pengamatan mikroskopis menunjukkan bahwa kelima mikroba tersebut merupakan bakteri Gram positif yang berbentuk coccus (bulat) dan bacili (batang). MHA KK dan MRS AKK memiliki pola penataan yang sama yaitu anggur, sedangkan MHA KP dan MRS BKP pola penataannya batang tapi ukuran berbeda dan MRS AKP memiliki pola penataan seperti sel ragi. Hasil identifikasi menggunakan PCR-sekuensing diperoleh 3 bakteri dan 1 yeast, yaitu Lactococcus garvieae, Bacillus altitudinis, Staphylococcus equorum, dan Candida orthosilopsis. Dari hasil identifikasi menggunakan PCR-sekuensing diketahui bahwa dari 5 koloni yang di isolasi sebelumya terdapat satu koloni yang teridentifikasi sama dengan koloni lainnya yaitu koloni dengan kode isolat MRS AKK. Uji daya hidup isolat bakteri L. garvieae dan S. equorum menunjukkan bahwa kedua isolat bakteri dengan pengenceran 10-4 memiliki jumlah ˃ 300 isolat bakteri CFU/ml pada hari ke 3 (72 jam), sedangkan pengenceran 10-8 pada kedua isolat memperlihatkan pertumbuhan bakteri < 30 isolat bakteri CFU/ml. Hasil uji pertumbuhan bakteri pada pH rendah menunjukkan tidak terjadi peningkatan absorbansi selama 48 jam inkubasi pada kedua isolat bakteri. Hasil uji menggunakan garam empedu menunjukkan bahwa S. equorum tidak memiliki kemampuan hidup dibawah pengaruh garam empedu. Uji pertumbuhan isolat menunjukkan nilai absorbansi kedua isolat bakteri memiliki laju pertumbuhan paling lambat pada suhu 5C, namun meningkat secara signifikan pada suhu 30C dan 37C. Uji autoagregasi menunjukkan bahwa kedua bakteri memperoleh hasil < 10% yang artinya non-autoagregasi. Hasil uji koagregasi yang diperoleh dari isolat bakteri L. garvieae memiliki persen koagregasi yang paling besar terhadap Salmonella sp sebesar 93,2% dan terhadap E.coli sebesar 81,3%. Uji aktivitas antimikroba diperoleh hasil bahwa S. equorum dan L. garvieae memiliki zona hambat yang paling besar terhadap Salmonella sp yaitu sebesar 31,2 mm dan 24,1 mm. Selain Salmonella Sp, kedua isolat bakteri memiliki zona hambat besar terhadap Eschericia coli.
    Kurva pertumbuhan bakteri memperlihatkan fase eksponensial dari L. garvieae pada rentang jam ke-7 hingga jam ke-13 dan untuk fase stationer pada rentang jam ke 14 hingga jam ke 19. Fase eksponensial dari S. equorum terjadi pada rentang jam ke 4 hingga jam ke 20 dan fase stationer dimulai pada rentang jam ke 21 dan terus berlangsung hingga jam ke 24 tanpa menunjukkan waktu kematian. Uji aktivitas antimikroba setelah produksi isolat bakteri S.equorum dan L. garvieae tidak mampu menghambat E. coli. Isolat bakteri S.equorum memberikan zona hambat rata-rata sebesar 7,38 mm dan L. garvieae memberikan zona hambat rata-rata sebesar 7,34 mm terhadap S. aureus. Pemurnian bakteriosin dilakukan menggunakan 3 tahapan, yaitu dengan pengendapan ammonium sulfat, HPLC semi-preparatif dan HPLC analitik. Pemurnian yang dilakukan terhadap isolat L. garvieae memperoleh 7 fraksi, dimana fraksi no 4 menghasilkan luas area paling besar pada waktu retensi 23,927 menit (762784). Isolat dari fraksi S. equorum juga memperoleh 7 fraksi, dimana fraksi no 5 menghasilkan luas area paling besar dengan waktu retensi 36,448 menit (3381813). Nilai konsentrasi total protein yang paling besar terdapat pada fraksi isolat ke-7 dari bakteri L. garvieae yaitu sebesar 131,75 mg/dL dan fraksi isolat ke-7 dari S. equorum sebesar 70,00 mg/dL.
    Perhitungan berat molekul fraksi bakteriosin dari kedua isolat di uji menggunakan Trisin SDS-PAGE. Senyawa bakteriosin dari fraksi isolat ke-7 L. garvieae memiliki berat molekul protein sebesar 6,644 kDa dan senyawa diduga bakteriosin dari fraksi isolat ke-7 S. equorum memiliki berat molekul protein sebesar 5,931 kDa. Karakteristik dari kedua senyawa diduga bakteriosin dari fraksi isolat L. garvieae dan S. equroum dilakukan beberapa pengujian menggunakan dua bakteri patogen yaitu S. aureus dan E. coli. Hasil dari uji karakteristik menunjukkan bahwa kedua bakteriosin dari fraksi isolat S. equroum
    dan L. garvieae stabil pada suhu rentang 50C - 121C, stabil pada pH 2, stabil pada penyimpanan suhu terhadap bakteri S. aureus dan E.coli, memiliki aktivitas antimikroba yang paling baik terhadap S. aureus dan tidak terpengaruh oleh sinar UV.
    Kata kunci : Fermentasi, wadi; Anabas testudineus Bloch., bakteriosin
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi