Detail Cantuman

No image available for this title

Text  

D38- Aktivitas Antidiabetes Isolat Daun Pacar Kuku (Lawsonia anermis L.) Secara In Vivo, In Silico dan In Vitro Melalui Penghambatan Enzim Alfa Amilase dan Alfa Glukosidase (Mus Ifaya; Dr. Ida Musfiroh, M.Si; Prof. Dr. I. Sahidin, M.Si)


Diabetes melitus (DM) merupakan kondisi serius jangka panjang (kronis) yang disebabkan oleh peningkatan kadar glukosa dalam darah dimana tubuh tidak ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    FFUP20230079D38Tersedia
  • Perpustakaan
    Fakultas Farmasi
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    D38
    Penerbit Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran : Jatinangor.,
    Deskripsi Fisik
    -
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    D38
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    -
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Diabetes melitus (DM) merupakan kondisi serius jangka panjang (kronis) yang disebabkan oleh peningkatan kadar glukosa dalam darah dimana tubuh tidak dapat menghasilkan atau menggunakan hormon insulin secara efektif. Prevalensi DM di dunia menunjukkan bahwa jumlah orang hidup dengan diabetes diperkirakan akan meningkat dari 643 juta jiwa pada tahun 2030 menjadi 783 juta jiwa pada tahun 2045. Pada tahun 2021, Indonesia merupakan negara yang menduduki peringkat ke-5 di dunia setelah Cina, India, Pakistan dan Amerika Serikat. Permasalahan ini akan bertambah besar jika tidak ada upaya dalam hal pengobatan dan pencegahannya. Meskipun banyak obat tersedia secara komersial untuk terapi penyakit DM, namun masih sulit mengontrol kadar glukosa pasien akibat penurunan fungsi sel beta yang progresif dengan beberapa efek samping akibat penggunaan banyak obat dalam jangka panjang seperti interaksi obat serta ketidakpatuhan pasien meningkat. Akibatnya, banyak pasien yang kemudian mencari alternatif pengobatan lainnya dengan menggunakan tumbuhan obat. Secara tradisional daun pacar kuku (Lawsonia inermis L.) digunakan untuk menurunkan kadar glukosa darah. Daun ini memiliki kandungan utama senyawa aktif seperti flavonoid, fenol, alkaloid, glikosida, saponin, tanin, dan minyak atsiri. Fenol dan flavonoid merupakan senyawa aktif yang paling banyak ditemukan.
    Penelitian sebelumnya dilakukan pada ekstrak terpurifikasi daun pacar kuku mempunyai aktivitas antioksidan sangat kuat dengan nilai IC50 39,07 mg/L. Kadar total flavonoid sebesar 3,29 % dan pada uji aktivitas antidiabetes ekstrak terpurifikasi dengan dosis 400, 600 dan 800 mg/kgBB memiliki persen penurunan kadar glukosa darah berturut-turut sebesar 39,9; 40,33 dan 54,61%. Oleh karena itu perlu dilakukan penelusuran senyawa aktif antidiabetes pada daun pacar kuku. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan fraksi dan sub fraksi dari daun pacar kuku yang memiliki aktivitas antidiabetes dengan metode induksi aloksan, mendapatkan struktur senyawa aktif antidiabetes, mengetahui interaksi ikatan molekul senyawa aktif senyawa aktif secara in silico dan mengetahui aktivitas penghambatan enzim α- amylase dan α-glukosidase dari senyawa aktif daun pacar kuku (L.inermis).
    Pada penelitian ini dilakukan pengujian aktivitas antidiabetes dari tahap pemisahan ekstrak
    L. inermis dengan metode kromatografi cair vakum diperoleh 7 fraksi aktif yaitu fraksi A- G yang dilakukan dengan metode uji aktivitas antidiabetes melalui induksi aloksan. Aktivitas antidiabetes tujuh fraksi tersebut menunjukkan penurunan kadar gula darah mencit pada hari ke-15 berturut-turut adalah 64; 75; 73; 73; 57; 45 dan 67%. Senyawa yang teridentifikasi dari masing-masing fraksi adalah golongan ester yaitu 12-hidroksi- metil abietat, asam 9,12-oktadekadienoat (Z,Z)-(2,2-dimetil-1,3-dioxolan-4-yl) metil ester, dehydromorroniaglycone, dan (E)-heksadesil-ferulat; kelompok steroid yaitu asam siraitic E; golongan fenilpropanoid yaitu umbelliferon dan bletilol C, serta golongan alkaloid yaitu moupinamida dan valin. Hasil penelitian menujukkan 3 fraksi terbaik yaitu fraksi B (75%), fraksi C (73%), dan fraksi D (73%). Dilanjutkan untuk dilakukan pemurnian sehingga didapatkan 15 sub fraksi yaitu sub fraksi B(B1-B6), sub fraksi C (C1-C4) dan sub fraksi D (D1-D5). Lima belas kelompok sub fraksi tersebut diujikan aktivitas antidiabetesnya pada hewan uji mencit dengan metode induksi aloksan dan diperoleh sub fraksi D5 dengan persen penurunan kadar gula darah sebesar 72% ditunjukkan dengan perbaikan struktur pada histopatologi pankreas bagian sel langerhans. Sub fraksi teraktif (D5) selanjutnya dilakukan pemurnian. Hasil dari isolasi diperoleh 2 isolat yaitu D5.3 dan D5.4.1. Isolat dikarakterisasi struktur senyawa dilakukan dengan metode spektroskopi NMR (Nuclear Magnetic Resonance) 1-D (satu dimensi) dan 2 - D (dua dimensi) serta LCMS/MS dan dibandingkan dengan data spektroskopi dari literatur. Berdasarkan data tersebut, senyawa hasil isolasi (D5.4.1) adalah luteolin.
    Tahap penelitian berikutnya dilanjutkan dengan penambatan molekul menggunakan reseptor α- amilase dan α-glukosidase pada senyawa luteolin dibandingkan dengan ligan alami. Hasil simulasi docking terhadap senyawa luteolin pada reseptor α-amilase (kode PDB : 4UAC) diperoleh energi ikatan -8,03 Kkal/mol dan ligan alami acarbose diperoleh energi ikatan -8,95 Kkal/mol sedangkan hasil simulasi docking terhadap senyawa luteolin pada reseptor α-glukosidase (kode PDB:5NN8) diperoleh energi ikatan -6,78 Kkal/mol dan ligan alami acarbose diperoleh energi ikatan -8,47 Kkal/mol. Hal ini menunjukkan bahwa senyawa luteolin memiliki energi ikatan yang hampir sama dibandingkan dengan ligan alami acarbose sebagai senyawa pembanding pada reseptor α-amilase sedangkan pada reseptor α-glukosidase senyawa luteolin memiliki energi ikatan yang lebih rendah dibandingkan dengan acarbose sebagai senyawa pembanding. sehingga senyawa luteolin memiliki aktivitas penghambatan yang baik terhadap reseptor α-amilase.
    Selanjutnya dilakukan pengujian ketahap in vitro pada penghambatan enzim α-amilase dan α-glukosidase. Pada pengujian senyawa luteolin menunjukkan aktivitas penghambatan enzim α-amilase dengan nilai IC50 46,80 ± 0,28 µg/mL sedangkan nilai IC50 acarbose sebagai kontrol positif 18,90±0,12 µg/mL. Pada pengujian senyawa luteolin menunjukkan aktivitas penghambatan enzim α-glukosidase dengan IC50 sebesar 39,34±0,27 µg/mL sedangkan nilai IC50 acarbose sebagai kontrol positif 2,27±0,00 µg/mL dengan kategori aktif.
    Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa daun pacar kuku (L. Inermis L) mengandung flavonoid dan memiliki aktivitas antioksidan kuat. Fraksi dan sub fraksi daun pacar kuku (L. inermis L) memiliki aktivitas dalam menurunkan kadar gula darah. senyawa luteolin memiliki aktivitas penghambatan yang baik terhadap reseptor α- amilase. isolat daun pacar kuku memiliki aktivitas penghambatan yang baik pada enzim α- amilase dan α-glukosidase. Keberadaan senyawa luteolin berkontribusi pada aktivitas antidiabetes.
    Kata Kunci : Lawsonia inermis L, senyawa aktif, antiabetes, α- amilase, α-glukosidase
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi