Detail Cantuman

No image available for this title

Text  

D37- Karakterisasi Senyawa Aktif dan Aktivitas Anti Alopecia dan Anti Dandruff dari Daun Balandete (Merremia peltata) Secara In Silico, In Vitro dan In Vivo (Syawal Abdurrahman; Prof. Dr. Resmi Mutarichie, M.Sc; Prof. Dr. Aliya Nur Hasanah, M.Si; Prof. Dr. Ruslin, M.Si)


Alopecia dan dandruff terjadi pada rambut yang mengalami kehilangan fungsi dan kelainan pada kepala serta terjadi pada beberapa atau semua area ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    FFUP20230078D37Tersedia
  • Perpustakaan
    Fakultas Farmasi
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    D37
    Penerbit Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran : Jatinangor.,
    Deskripsi Fisik
    -
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    D37
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    -
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Alopecia dan dandruff terjadi pada rambut yang mengalami kehilangan fungsi dan kelainan pada kepala serta terjadi pada beberapa atau semua area tubuh. Salah satu upaya pencegahan alopecia adalah dengan cara menginhibisi enzim 5-α- reduktase dengan menggunakan obat sintetis seperti finasterid, akan tetapi konsumsi obat secara terus menerus dapat mengakibatkan efek samping yaitu menghilangkan libido, sedangkan dandruff dapat dicegah dengan cara menginhibisi enzim lipase. Namun beberapa senyawa anti dandruff dapat menimbulkan efek samping seperti dermatitis, rontok, rambut patah, dan alergi. Salah satu tumbuhan obat yang digunakan sebagai anti alopecia, dan anti dandruff yang belum diketahui kandungan kimianya adalah Merremia peltata. M. peltata terdistribusi di daerah tropis dan subtropis. Merremia peltata telah banyak dikenal oleh masyarakat sebagai obat alami. Di daerah Sulawesi dan Ambon, daunnya dimanfaatkan sebagai pencuci rambut, anti dandruff, dan pencegah rambut rontok. Kandungan metabolit sekunder yang terdapat pada daun M. peltata diantaranya, adalah golongan terpenoid, steroid, saponin, alkaloid dan flavonoid. Sampai saat ini, kajian fitokimia dan bioaktivitas terhadap senyawa metabolit sekunder yang berperan aktif sebagai anti alopecia, dan anti dandruff secara in silico, in vitro, dan in vivo dari spesies M. peltata belum pernah dilaporkan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas anti alopecia, dan anti dandruff dari ekstrak daun M. peltata, menentukan struktur senyawa yang berperan aktif dalam aktivitas anti alopecia, dan anti dandruff dari ekstrak daun
    M. peltata dan mempelajari interaksi yang terjadi antara senyawa aktif yang berperan sebagai anti alopecia, dan anti dandruff dengan reseptor androgen 4K7A melalui studi secara in silico.
    Tahapan dari penelitian ini meliputi serangkaian metode pemisahan berupa maserasi menggunakan etanol, kemudian standarisasi ekstrak menggunakan parameter spesifik dan non spesifik yang dilanjutkan dengan skrining fitokimia terhadap ekstrak etanol, selanjutnya dilakukan uji in vivo dari ekstrak etanol sebagai anti alopecia menggunakan kelinci galur New Zealand White dengan konsentrasi 10, 20, dan 30% yang kemudian dilakukan proses purifikasi ekstrak etanol menggunakan campuran etanol:air (1:1) dan memisahkan endapan yang terbentuk. Filtrat selanjutnya dilakukan di fraksinasi dengan teknik ekstraksi cair- cari menggunakan pelarut etil asetat, dan n-heksana, kemudian di evaporasi sehingga diperoleh fraksi etil asetat, dan fraksi n-heksana. Hasil fraksinasi terhadap ekstrak etanol, fraksi etil asetat, fraksi n-heksana, dan fraksi air dilakukan kembali uji in vivo terhadap fraksi etil asetat, n-heksana, dan air sebagai anti alopecia menggunakan kelinci galur New Zealand White pada konsentrasi 30%. Kemudian, dilakukan proses isolasi metabolit sekunder dari fraksi etil asetat
    M. peltata yang diawali dengan tahap pemisahan dan pemurnian dengan teknik kromatografi cair vakum (KCV) yang selanjutnya hasil fraksi hasil KCV dilakukan uji aktivitas anti alopecia menggunakan kelinci galur New Zealand White serta analisis kandungan senyawa dari fraksi KCV menggunakan LC- MS/MS. Hasil LCMS/MS kemudian diuji secara in silico melalui tahapan simulasi penambatan molekul, dinamika molekular, dan ADME-Tox. Isolat yang diperoleh dari tahap isolasi dilakukan kembali uji in vivo sebagai anti alopecia menggunakan kelinci galur New Zealand White. Terhadap isolat aktif anti alopecia dilakukan karakterisasi dengan menggunakan data spektroskopi IR, LCMS, dan NMR (1H ,13C, HSQC, dan HMBC) yang selanjutnya senyawa hasil karakterisasi di uji in silico melalui simulasi penambatan molekul, dinamika molekular, dan ADME-tox meliputi absorption, distribution, metabolism, and toxicity.
    Tahapan penelitian yang telah dilakukan yaitu ekstraksi terhadap sampel daun Merremia peltata yang sebelumnya dilakukan proses pengambilan sampel di daerah Taman Nasional Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara. Proses preparasi sampel dilakukan dengan membersihkan sampel dari kotoran yang kemudian dikeringkan sampel menggunakan oven pada suhu 40-50oC untuk menghilangkan kandungan air di dalam sampel. Sampel dihancurkan dan diperoleh berat sampel kering 2730 g. Proses ekstraksi dilakukan dengan teknik maserasi menggunakan pelarut etanol 96% yang telah didestilasi selama 3x24 jam. Filtrat yang telah disaring kemudian dipekatkan dengan evaporator dan diperoleh ekstrak etanol daun
    M. peltata sebanyak 285 gram.
    Tahap selanjutnya dilakukan standarisasi ekstrak etanol dengan parameter spesifik dan nonspesifik, hasil standarisasi ekstrak yang diperoleh pada parameter spesifik organoleptiknya yaitu bentuk ekstrak kental, warna ekstrak coklat kehijauan, bau spesifik dan memiliki rasa pahit. Kadar sari larut dalam air 12,70% dan kadar sari larut dalam etanol 16,92%. Analisis parameter non spesifik yang dilakukan diantaranya yaitu analisis kadar air sebesar 9,25%, analisis kadar abu total yaitu 3,26%, analisis kadar abu yang tidak larut asam 0,62%, analisis bobot jenis 1.0076 g/ml, susut pengeringan yang diperoleh 16,82 %, cemaran mikroba sebanyak 0,55x103 Cfu/g, cemaran kapang/khamir sebanyak 0,611x103 Cfu/g serta analisis logam berat pada Cd, Pb, dan As diperoleh nilai berturut-turut yaitu 0,12 mg/kg, 0,08 mg/kg dan tidak terdeteksi. Hasil skrining fitokimia terhadap ekstrak etanol daun M. peltata menunjukkan terdapat senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, kuinon, terpenoid, dan steroid.
    Tahap selanjutnya yang dilakukan adalah uji aktivitas anti alopecia dari ekstrak etanol daun M. peltata dengan konsentrasi 10%, 20%, dan 30% dengan menggunakan kontrol normal, kontrol positif minoxidil 5%, dan kontrol negatif Na-CMC, metode yang digunakan dalam analisis pengujian aktivitas ekstrak sebagai anti alopecia yaitu pengamatan pertumbuhan rambut dan bobot rambut dari kelinci galur New Zealand White selama 21 hari. Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, pada pertumbuhan rambut diperoleh hasil yang baik pada konsentrasi ekstrak etanol daun M. peltata 30% dengan diameter ukuran panjang rambut 1,3±0,2 mm sedangkan untuk bobot rambut selama 21 hari diperoleh pada konsentrasi 30% dengan berat rambut 0,289 gram. Proses purifikasi dan fraksinasi dilakukan terhadap 285 gram ekstrak etanol. Terhadap filtrat ekstrak etanol dilakukan fraksinasi dengan metode ekstraksi cair-cair menggunakan pelarut n-heksana kemudian hasil pemisahan diperoleh filtrat n-heksana yang kemudian dipekatkan dan diperoleh 23,3 gram fraksi n-heksana. Selanjutnya proses purifikasi menggunakan campuran etanol air (1:1) terhadap filtrat ekstrak etanol yang selanjutnya dilakukan proses fraksinasi dengan metode ekstraksi cair-cair menggunakan pelarut etil asetat sehingga diperoleh filtrat etil asetat yang kemudian dipekatkan dengan rotary vacuum evaporatory dan diperoleh fraksi etil asetat sebesar 60,7 gram. Selanjutnya, dilakukan uji aktivitas anti dandruff terhadap ekstrak etanol, fraksi etil asetat dan n-heksana menggunakan konsentrasi 10, 20, dan 30% serta kontrol positif ketokonazol 2% yang selama pengamatan selama 3 hari tidak dihasil zona hambat pada masing-masing konsentrasi dari ekstrak etanol, fraksi etil asetat, dan n-heksana, sedangkan kontrol positif menghasilkan daya hambat 28,88 mm.
    Tahap selanjutnya yang dilakukan adalah uji aktivitas anti alopecia dari fraksi etil asetat, n- heksana, dan air dari daun M. peltata menggunakan konsentrasi 30% dengan menggunakan kontrol normal, kontrol positif minoxidil 5%, dan kontrol negatif Na-CMC, metode yang digunakan dalam analisis pengujian aktivitas ekstrak sebagai anti alopecia yaitu pengamatan pertumbuhan rambut dan bobot rambut dari kelinci galur New Zealand White selama 21 hari. Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan pada pertumbuhan rambut diperoleh hasil yang baik pada fraksi etil asetat 30% dengan diameter ukuran panjang rambut 1,1±0,19 mm sedangkan untuk bobot rambut selama 21 hari diperoleh dengan berat rambut 0.288 gram. Selanjutnya yang dilakukan adalah proses kromatografi cair vakum (KCV) sebanyak tiga kali terhadap fraksi etil asetat M. peltata sebanyak 60 g dan diperoleh lima fraksi gabungan A (3,68 gram), B (3,86 gram), C (9,80 gram), D (11,66 gram) dan E (14,08 gram). Tahap selanjutnya, dilakukan pembacaan terhadap kandungan hasil KCV fraksi etil asetat menggunakan alat LC-MS/MS. Senyawa hasil analisis yang diperoleh terdapat pada fraksi A yaitu (E)-hexadecyl-ferulate, bufotalinin, cerevisterol, stigmastan-3,6-dione, dan kandidat masa C35H66O6, selanjutnya fraksi B terdapat senyawa 3-Tert-butyl-4-methoxyphenol, erythrocentaurin, trans-Ferulaldehyde, kandidat masa C54H78O10, dan kandidat masa C54H78O11, fraksi C terdapat senyawa digiprolactone, kushenol M, shanciol B, kandidat masa C26H48O14, dan kandidat masa C26H46O15, fraksi D terdapat senyawa 5,7,2',5'-tetrahydroxy-flavone, 7-hydroxy-5-methoxycoumarin, kushenol M, methyl gallate, dan kandidat masa C30H32O7, dan fraksi E terdapat senyawa 5,7,2',5'-Tetrahydroxy-flavone, epigallocatechin(4β,8)-gallocatechin, kaempferol- 3-O-β-D-glucopyranosid, kaempferol-7-O-α-L-rhamnoside, dan tiliroside.
    Tahap selanjutnya dilakukan uji aktivitas anti alopecia pada fraksi hasil KCV fraksi etil asetat daun M. peltata dengan menggunakan konsentrasi 30% pada fraksi (A-F) menggunakan kontrol normal, kontrol positif minoxidil 5%, dan kontrol negatif Na-CMC, metode yang digunakan dalam analisis pengujian aktivitas fraksi hasil KCV sebagai anti alopecia yaitu pengamatan pertumbuhan rambut dan bobot rambut kelinci galur New Zealand White selama 21 hari. Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan pada pertumbuhan rambut diperoleh hasil yang baik pada fraksi B, C dan D dengan diameter ukuran rambut masing-masing 1,87±0,32, 1,86±0,48, dan 1,86±0,42 mm sedangkan untuk bobot rambut selama 21 hari yang diperoleh pada fraksi B, C, dan D dengan berat rambut masing-masing 1,83, 1,83 dan 1,82 gram. Serta uji in silico dilakukan menggunakan reseptor androgen (Kode PDB: 4K7A) terhadap senyawa hasil kromatografi cair vakum yang diukur dengan LC-MS/MC yang menunjukkan hasil terhadap senyawa bufotalinin dengan hasil penambatan molekul pada energi ikatan -5,99 kkal/mol dengan analisis parameter RMSD, RMSF, SASA, dan PCA serta hasil analisis ADMe-Tox yang cukup baik.
    Tahap selanjutnya diperoleh senyawa hasil isolasi yang berasal dari fraksi C dan D melalui proses pemisahan dan pemurnian dengan teknik kromatografi radial (KR) serta uji kemurnian menggunakan dua sistem eluen yang berbeda dan diperoleh isolat C5c1d (2.33 gram) dan isolat De4c (2,17 gram). Selanjutnya uji aktivitas anti alopecia pada isolat C5c1d dan De4c dengan konsentrasi 30% menggunakan kontrol normal, kontrol positif minoxidil 5%, dan kontrol negatif Na-CMC serta pengamatan terhadap pertumbuhan rambut dan bobot rambut kelinci selama 17 hari. Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan pada pertumbuhan rambut diperoleh hasil yang baik pada isolat C5c1d 0,48±0,07 mm dan isolat De4c 0,47±0,03 mm dengan berat rambut masing-masing isolat 0,287 dan 0,258 gram.
    Hasil karakterisasi dengan IR, NMR dan LC-MS/MS diperoleh senyawa dengan rumus molekul terhadap isolat C5c1d (C16H18O9) dengan nama scopolin dan rumus molekul isolat De4c (C10H8O4) dengan nama scopoletin yang masing-masing memiliki nilai DEB untuk scopolin sebanyak delapan dan scopoletin sebanyak tujuh. Serta uji in silico dilakukan menggunakan reseptor androgen (Kode PDB: 4K7A) terhadap isolat C5c1d dan De4c yang menunjukkan hasil penambatan molekuk pada energi ikatan masing-masing -4,51 dan -4,65 kkal/mol dengan analisis parameter RMSD, RMSF, SASA, PCA dan MM-PBSA serta hasil analisis ADMe-Tox yang cukup baik untuk kedua isolat C5c1d dan De4c.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi