
Text
T271- Pengetahuan, Sikap, dan Praktik Apoteker di Puskesmas Terhadap Manajemen Terapi Pengobatan (Farida Rendrayani; Sofa Dewi Alfian, S.Farm., M.K.M., Ph.D; Wawan Wahyudin, S.Si., M.M)
Latar Belakang dan Tujuan: Manajemen Terapi Pengobatan (MTP) merupakan metode yang terbukti dapat mengurangi kesalahan pengobatan, yang berdampak ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan FFUP20230058 T271 Tersedia -
Perpustakaan Fakultas FarmasiJudul Seri -No. Panggil T271Penerbit Fakultas Fasrmasi Universitas Padjadjaran : Jatinangor., 2023 Deskripsi Fisik -Bahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi T271Tipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek -Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab - -
Latar Belakang dan Tujuan: Manajemen Terapi Pengobatan (MTP) merupakan metode yang terbukti dapat mengurangi kesalahan pengobatan, yang berdampak positif pada hasil klinis, ekonomi, dan humanistik. Meskipun demikian, keberhasilan layanan MTP sangat bergantung pada apoteker sebagai penyedia layanan, terutama di fasilitas kesehatan tingkat pertama yaitu, Puskesmas. Oleh sebab itu, memahami pengetahuan, sikap, dan praktik (PSP) apoteker di Puskesmas terhadap MTP sangat penting bagi strategi implementasi program MTP di Indonesia. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang tingkat PSP mengenai MTP pada apoteker yang bekerja di Puskesmas serta untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkaitan dengan tingkat PSP tersebut. Tujuan sekundernya adalah untuk menganalisis korelasi di antara variabel KAP dan mengidentifikasi berbagai faktor yang dapat menjadi peluang dan hambatan dalam penerapan MTP di masa mendatang berdasarkan persepsi apoteker.
Metode: Studi cross-sectional berupa survei daring dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang valid dan reliabel yang diadaptasi dari penelitian sebelumnya. Responden adalah apoteker yang bekerja di Puskesmas di 28 provinsi di Indonesia dan setuju untuk berpartisipasi, direkrut dengan teknik convenience sampling. Responden yang tidak menyelesaikan pengisian kuesioner dieksklusi dari penelitian. Tingkat PSP mengenai MTP menjadi variabel dependen, sedangkan karakteristik sosiodemografi responden merupakan variabel independen. Statistik deskriptif digunakan untuk menyajikan frekuensi setiap variabel. Perbedaan pada karakteristik responden ditentukan menggunakan uji Chi-square dan Kruskal-Wallis, sementara asosiasi diidentifikasi menggunakan regresi ordinal multivariabel untuk pengetahuan dan regresi logistik multivariabel untuk sikap dan praktik. Analisis korelasi dilakukan menggunakan uji Spearman’s Rank. Hasil analisis kemudian dibobotkan terhadap variabel provinsi. Peluang dan hambatan MTP ditentukan berdasarkan frekuensi kode dan kategori yang dihasilkan dari analisis terhadap respon apoteker pada pertanyaan terbuka.
Hasil: Dari 1.132 apoteker yang berpartisipasi, 74,9% memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi, 53,6% memiliki sikap positif, dan 57,9% memiliki praktik positif terhadap
v
MTP. Jenis kelamin, tempat praktik, provinsi tempat praktik, lama praktik, dan pengalaman memberikan layanan MTP merupakan faktor yang berasosiasi dengan tingkat PSP apoteker terhadap MTP. Studi ini menemukan korelasi yang signifikan antara pengetahuan dan sikap (rs = 0,113) dan antara sikap dan praktik (rs = 0,125). Responden memiliki persepsi bahwa kondisi penyakit kronis di Indonesia, fitur layanan MTP, dan praktik terkini merupakan peluang penerapan MTP. Masalah kolaborasi antarprofesi, keterbatasan jumlah staf, kurangnya pengetahuan apoteker, rendahnya kerja sama pasien, keterbatasan fasilitas/stok obat/sistem dokumentasi, minimnya dukungan stakeholder, dan rendahnya kepatuhan pasien merupakan hambatan yang paling umum bagi penerapan MTP di masa mendatang.
Simpulan: Sebagian besar responden pada studi ini memiliki pengetahuan yang tinggi tentang MTP, tetapi hanya sekitar setengahnya yang memiliki sikap dan praktik positif terhadap layanan tersebut. Informasi tentang faktor-faktor yang terkait dengan tingkat PSP menunjukkan bahwa keterlibatan langsung sangat penting untuk meningkatkan pemahaman dan pandangan apoteker tentang MTP. Apoteker juga mempersepsikan hambatan terhadap penyediaan MTP di masa depan, seperti hubungan interprofesional dan hubungan apoteker-pasien. Oleh sebab itu, program pelatihan diperlukan untuk meningkatkan tingkat PSP mengenai MTP serta mengembangkan keterampilan dalam berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya dan berkomunikasi dengan pasien. Penelitian kualitatif dan analisis jalur dapat membantu meningkatkan pemahaman mengenai PSP tentang MTP pada apoteker di Puskesmas secara lebih komprehensif.
Kata kunci: manajemen terapi pengobatan, pengetahuan, sikap, praktik, apoteker, Puskesmas, Indonesia -
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






