Detail Cantuman

No image available for this title

Text  

4389- Persepsi Apoteker Mengenai Praktik Pembuangan Obat Kadaluarsa dan Obat Yang Tidak Digunakan Pada Skala Rumah Tangga di Indonesia (Annisa Maulida Azzahra; Sofa Dewi Alfian, M.K.M., Ph.D; Irma Melyani Puspitasari, M.T., Ph.D)


Limbah kefarmasian di lingkungan telah menjadi isu yang menjadi perhatian karena semakin meningkatnya pembuangan limbah kefarmasian yang tidak tepat. ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    FFUP202300574389Tersedia
  • Perpustakaan
    Fakultas Farmasi
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    4389
    Penerbit Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran : Jatinangor.,
    Deskripsi Fisik
    -
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    4389
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    -
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Limbah kefarmasian di lingkungan telah menjadi isu yang menjadi perhatian karena semakin meningkatnya pembuangan limbah kefarmasian yang tidak tepat. Praktik pembuangan obat yang tidak tepat oleh masyarakat dapat mengancam ekosistem. Pada penelitian ini dilakukan analisis mengenai persepsi apoteker mengenai cara membuang obat kadaluarsa dan hambatan yang di alami Apoteker untuk merumuskan intervensi yang tepat agar masyarakat dapat membuang obat kadaluarsa dan sisa obat secara tepat. Penelitian kualitatif dengan pengambilan data dilakukan dengan Focus Group Discussion (FGD) pada Apoteker terpilih yang bekerja di Puskesmas di Indonesia. Seluruh hasil perekaman FGD ditranskripsi dan dianalisis menggunakan bantuan software Atlas.ti 9. FGD dilakukan pada 9 partisipan Apoteker dan diidentifikasi adanya 5 sub-tema persepsi Apoteker mengenai praktik pembuangan obat yang diklasifikasikan dalam tiga tema utama (Kesadaran, Keyakinan, dan Praktik) serta diidentifikasi lima solusi yang bisa dilakukan sebagai intervensi untuk masyarakat agar dapat membuang obat secara tepat adalah advokasi dengan lintas sektor, kerja sama dengan program kerja di Puskesmas, edukasi pemusnahan obat secara mandiri, sistem dropping, dan kerja sama dengan stakeholder (fasilitas kesehatan lainnya) serta diidentifikasi 4 hambatan adalah adanya daerah yang minim fasilitas kesehatan, minim nya alat insinerator, hambatan letak geografis, dan kendala finansial. Solusi dan hambatan yang telah diidentifikasi dapat digunakan sebagai informasi dan panduan awal untuk melakukan intervensi lanjutan yang tepat agar masyarakat dapat membuang obat secara tepat.
    Kata kunci: Limbah farmasi, Pembuangan Obat, Apoteker, Obat Kadaluarsa dan Obat Rusak, Kualitatif, FGD.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi