
Text
D23- Aktivitas Antihiperglikemia Ekstrak Etanol, Fraksi, Subfraksi Etil Asetat Pisang Klutuk (Musa Balbisiana Colla) Secara In Vivo Serta Uji In Silico dan In Vitro Isolat Triterpenoid Terhadap Aldosa Reduktase (Tita Nofianti; Prof. Dr. Sri Adi Sumiwi, MS; Prof. Dr. Irda Fidrianny, M.Si)
Prevalensi diabetes mellitus (DM) di dunia berdasarkan International Diabetes Federation (IDF) pada tahun 2021 sekitar 537 juta orang dewasa (20-79 ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan FFUP20220136 D23 Tersedia -
Perpustakaan Fakultas FarmasiJudul Seri -No. Panggil D23Penerbit Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran : Jatinangor., 2022 Deskripsi Fisik -Bahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi D23Tipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek -Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab - -
Prevalensi diabetes mellitus (DM) di dunia berdasarkan International Diabetes Federation (IDF) pada tahun 2021 sekitar 537 juta orang dewasa (20-79 tahun) hidup dengan diabetes. Adapun kejadian DM berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di Indonesia terjadi peningkatan dari 6,9% pada tahun 2013 menjadi 8,5% pada tahun 2018. DM adalah penyakit kronis yang terjadi baik ketika pankreas tidak menghasilkan cukup insulin atau ketika tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan insulin yang dihasilkannya. Tujuan pengobatan untuk DM adalah mengembalikan kadar glukosa darah menjadi normal. Terapi obat antihiperglikemik oral pada penderita DM diantaranya golongan biguanid, inhibitor DPP4 (dipeptidil peptidase 4); TZD (thiazolidindion); SU (sulfonilurea); GLP-1RA (glucagon like peptida 1 reseptor agonist); inhibitor SGLT2 (sodium glukosa kotransporter 2); inhibitor alfa glukosidase; PPARG (peroxisome proliferator aktivasi reseptor gamma); Glinid; dan inhibitor AR(aldosa reduktase). Indonesia kaya akan sumber bahan obat alam, yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat di Indonesia secara turun temurun. Budaya kembali ke alam atau lebih dikenal dengan istilah back to nature saat ini tengah menjadi trend di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Hal ini terlihat sangat menonjol pada penggunaan bahan
alam untuk tujuan penyembuhan berbagai macam penyakit salah satunya untuk membantu menurunkan kadar gula darah. Berdasarkan beberapa penelitian bahwa tanaman pisang memiliki aktivitas antihiperglikemia. Salah satu jenis pisang adalah klutuk (Musa balbisiana Colla). Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas ekstrak, fraksi, subfraksi dan isolat pisang klutuk sebagai antihiperglikemia. Penelitian ini dimulai dengan penapisan aktivitas antihiperglikemia ekstrak etanol
bagian buah (daging buah, kulit buah dan biji) dan bunga pisang klutuk. Ekstrak etanol bagian terpilih, kemudian difraksinasi secara ekstraksi cair-cair, dengan n-heksana dan v etil asetat sebagai pelarut. Fraksi terpilih disubfraksinasi dengan kromatografi cair vakum secara gradien dengan fase gerak n-heksana- etil asetat dan metanol. Pada setiap tahap dilakukan berdasarkan panduan uji aktivitas antihiperglikemia secara in vivo terhadap mencit yang diinduksi glukosa dan aloksan. Subfraksi terpilih dilakukan isolasi secara kromatografi kolom klasik. Selanjutnya isolat dikarakterisasi dan diidentifikasi, kemudian dilakukan studi secara in silico dan in vitro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas terbaik bagian pisang klutuk adalah ekstrak etanol kulit buah pisang klutuk dengan dosis 350 mg/kg bb dengan aktivitas penurunan glukosa darah rata-rata selama 120 menit (35,12%) dengan metode test toleransi glukosa (TTGO), sedangkan aktivitas penurunan glukosa darah rata-rata selama 14 hari (64,12%) dengan metode aloksan, dibandingkan dengan kontrol negatif. Berdasarkan hasil tersebut maka ekstrak kulit buah pisang klutuk dilanjutkan ke tahap fraksinasi. Hasil uji aktivitas antihiperglikemia secara in vivo menunjukkan bahwa aktivitas terbaik ditunjukkan oleh fraksi etil asetat dosis 14,5 mg/kg bb dengan persentase penurunan glukosa darah rata-rata selama 120 menit (31, 01%) dengan metode TTGO dan persentase penurunan glukosa darah rata-rata selama 14 hari (64,92%) dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif. Fraksi dengan aktivitas terbaik yaitu fraksi etil asetat dilanjutkan untuk disubfraksinasi. Subfraksi yang mempunyai pola noda yang sama pada kromatografi lapis tipis digabungkan dan diperoleh 5 subfraksinasi gabungan dan dilakukan pengujian aktivitas antihiperglikemia secara in vivo. Hasil uji in vivo subfraksi gabungan menunjukkan bahwa subfraksi gabungan 1 dengan dosis kecil sudah memiliki aktivitas antihiperglikemia dengan persentase penurunan kadar glukosa darah selama 120 menit sebesar 30,36% (metode TTGO) dan persentase penurunan glukosa darah rata-rata selama 14 hari sebesar 62,66% (metode induksi aloksan). Selanjutnya subfraksi gabungan 1 dilakukan isolasi untuk mendapatkan senyawa aktif. Hasil isolasi subfraksi gabungan 1 diperoleh 2 senyawa triterpenoid golongan sikloartan yaitu senyawa siklolaudenon dan 28-norsiklolaudenon. Senyawa siklolaudenon dan 28- norsiklolaudenon kemudian dilakukan uji secara in silico dan in vitro terhadap reseptor antihiperglikemia. Hasil validasi metode penambatan molekul terhadap enam reseptor target memenuhi kriteria validitas dengan nilai RMSD < 2Ȧ, serta memiliki nilai energi bebas pada rentang -10 kkal/mol sampai dengan -11 kkal/mol, antara lain insulin reseptor (1IR3), PPARG (4Y29), alfa amilase (4GQR), aldosa reduktase (1Z89), SIRT (4ZZJ), dan dipeptidil peptidase-4 (2IIT). Hasil peninjauan ulang menunjukkan bahwa aldose reduktase (1Z89) memiliki nilai RMSD paling kecil (0,57 Ȧ) daripada enam reseptor lain. Selanjutnya kedua senyawa tersebut dibandingkan dengan senyawa kuersetin dan epalrestat yang memiliki aktivitas antihiperglikemia dengan mekanisme kerja dapat menghambat enzim aldosa reduktase. Hasil kalkulasi energi ikatan total siklolaudenondan 28-norsiklolaudenon terhadap aldosa reduktase yang dibandingkan dengan kuersetin dan epalrestat (sebagai kontrol positif), diperoleh nilai siklolaudenon memiliki total energi bebas ikatan (ΔG) lebih rendah (-28,8977 kkal/mol,) daripada 28- vinorsiklolaudenon (1,5352 kkal/mol), kuersetin (-0,1673 kkal/mol) dan epalrestat (-8,9151 kkal/mol). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat afinitas siklolaudenon terhadap aldosa reduktase lebih stabil. Untuk memperkuat prediksi tersebut, selanjutnya dilakukan pengujian secara in vitro menggunakan metode nanoSPR 8 (Surface Plasmon Resonance) terhadap enzim aldosa reduktase. Hasil pengujian aktivitas secara in vitro diperoleh bahwa siklolaudenon memiliki aktivitas sebagai inhibitor aldose reduktase. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa pisang klutuk memiliki aktivitas antihiperglikemia dan didapatkan senyawa siklolaudenon yang berperan dalam penghambatan enzim aldosa reduktase pada diabetes mellitus dengan komplikasi.
Kata kunci: Musa balbisiana Colla, Antihiperglikemia, In vivo, In silico, In vitro.
-
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






