
Text
D22- Pengaruh Konseling Apoteker Terhadap Efektivitas Biaya dan Kualitas Hidup Pasien Prolanis Hipertensi di Puskesmas Kabupaten Pandeglang (Yusransyah; Dr. Eli Halimah, MS; Auliya A. Suwantika, MBA., Ph.D)
Prevalensi penyakit hipertensi di Indonesia semakin tahun semakin meningkat, tak terkecuali di beberapa daerah perifer termasuk Kabupaten Pandeglang, ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan FFUP20220081 D22 Tersedia -
Perpustakaan Fakultas FarmasiJudul Seri -No. Panggil D22Penerbit Fakultas Fasrmasi Universitas Padjadjaran : Jatinangor., 2020 Deskripsi Fisik -Bahasa IndonesiaISBN/ISSN -Klasifikasi D22Tipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek -Info Detil Spesifik -Pernyataan Tanggungjawab - -
Prevalensi penyakit hipertensi di Indonesia semakin tahun semakin meningkat, tak terkecuali di beberapa daerah perifer termasuk Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Pemerintah melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS Kesehatan) mencanangkan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) untuk mencapai kesehatan masyarakat yang optimal dan kualitas hidup yang baik pada penyakit hipertensi. Studi ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konseling apoteker terhadap efektivitas biaya dan kualitas hidup pasien prolanis hipertensi di puskesmas Kabupaten Pandeglang.
Langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan analisis monitoring dan evaluasi penggunaan obat (drug utilization) antihipertensi di Kabupaten Pandeglang. Dengan menggunakan metode CMA (Cost Minimization Analysis), hasil analisis menunjukkan bahwa nilai cost/DDD (DU 90%) dari tahun 2014, 2015 sampai 2016 secara berurutan adalah Rp.57,6, Rp.195,4 dan Rp.67,9, sehingga bisa disimpulkan bahwa tahun 2014 adalah yang paling minim biayanya untuk pengelolaan obat-obat antihipertensi.
Langkah kedua adalah mengadakan pelatihan apoteker. Pelatihan pertama tentang Communication Skill dan pelatihan kedua tentang Tata Laksana Terapi Antihipertensi dengan menggunakan pedoman dari Kementerian Kesehatan. Dilihat dari hasil pretest dan posttest, dapat disimpulkan bahwa pengetahuan apoteker tentang konseling dan terapi antihipertensi meningkat setelah mengikuti pelatihan, serta kemampuan apoteker menjadi seragam dan terstandar.
Langkah ketiga adalah mengukur tingkat kepatuhan, tekanan darah sistol, dan kualitas hidup pasien prolanis di puskesmas menggunakan instrumen MARS (Medication Adherence Report Scale) yang sudah tervalidasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konseling oleh apoteker menyebabkan kepatuhan pasien meningkat pada setiap pertemuan dan tekanan darah sistolik pasien menurun pada setiap pertemuan pada kelompok intervensi. Rata-rata nilai utility kelompok pasien intervensi mengalami peningkatan yang signifikan di tiap pertemuannya, sedangkan pada kelompok pasien kontrol mengalami peningkatan yang lebih kecil dibandingkan kelompok intervensi, bahkan terjadi penurunan di pertemuan terakhir.
Langkah keempat adalah melakukan analisis efektivitas biaya dengan pendekatan 2 (dua) perspektif, yaitu Patient dan Payer perspektif (BPJS), dengan 9 (Sembilan) skenario. Dengan perhitungan CEA (Cost Effectiveness Analysis), skenario yang masuk kategori sangat cost effective adalah skenario 1 sampai skenario 6, yaitu adanya penambahan biaya jasa konseling apoteker yang nominalnya bervariasi, mulai dari Rp. 2.000;/konseling/pasien hingga setara dengan gaji sesuai UMK tertinggi di Provinsi Banten, yaitu Rp. 28.307;/konseling/pasien. Skenario 7, 8 dan 9 tergolong alternatif yang cost effective, dimana dengan adanya penambahan satu tenaga apoteker di Puskesmas, dengan gaji sesuai UMK, masih masuk sebagai pilihan yang cost effective bagi pengambil keputusan, untuk mendapatkan hasil yang lebih baik pula dalam hal efektivitas tata laksana terapi antihipertensi di Puskesmas Kabupaten Pandeglang.
Langkah kelima (terakhir) dalam riset ini adalah melakukan analisis sensitivitas. Hasil uji sensitivitas menunjukkan bahwa skor utilitas dan biaya konseling adalah faktor paling berpengaruh pada efektivitas biaya dari intervensi konseling apoteker. Implikasi dari keseluruhan hasil riset ini ini adalah bahwa konseling apoteker merupakan intervensi yang highly cost-effective dan cost-effective pada beberapa skenario dan membuat pengobatan hipertensi menjadi lebih baik dilihat dari efektivitas dan juga biaya.
Kata kunci: Konseling Apoteker, Pelatihan Apoteker, Analisis Farmakoekonomi, Puskesmas.
-
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






