Detail Cantuman

No image available for this title

Text  

3804- Peningkatan Kelarutan dan Laju Disolusi Glibenklamida Dengan Pendekatan Kokristal Menggunakan Koformer Asam Askorbat dan Sakarin Metode Solvent Evaporation (Putri Raraswati; Arif Budiman, M.Si; Dr. Sandra Megantara, M.Farm)


Glibenklamida adalah senyawa antidiabetik oral yang tergolong kedalam Biopharmaceutical Classification System (BCS) kelas II yakni memiliki ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    FFUP201803013804Tersedia
  • Perpustakaan
    Fakultas Farmasi
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    3804
    Penerbit Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran : Jatinangor.,
    Deskripsi Fisik
    -
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    3804
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    -
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Glibenklamida adalah senyawa antidiabetik oral yang tergolong kedalam Biopharmaceutical Classification System (BCS) kelas II yakni memiliki permeabilitas yang tinggi namun kelarutannya rendah sehingga perlu dilakukan suatu modifikasi terhadap sifat kelarutannya. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan kelarutan adalah kokristalisasi. Proses kokristalisasi glibenklamida dilakukan dengan penambahan koformer asam askorbat dan sakarin perbandingan 1:1 dan 1:2 equimolar menggunakan metode solvent evaporation. Kokristal dengan perbandingan 1:2 dari masing-masing koformer menghasilkan kenaikan kelarutan yang cukup tinggi dibandingkan dengan glibenklamid murni yaitu 30,42 kali untuk kokristal glibenklamida-sakarin dan 24,32 kali untuk kokristal glibenklamida-asam askorbat. Peningkatan kelarutan ini berpengaruh pula pada laju disolusinya, yakni terjadi peningkatan dari glibenklamid murni 46,838% menjadi 63.248% untuk kokristal glibenklamida-asam askorbat dan 77.655% kokristal glibenklamida-sakarin pada waktu 60 menit. Selanjutnya dilakukan karakterisasi dengan spektrofotometri IR, Differential Scanning Calorimetry (DSC) dan Difraksi Sinar-X (PXRD). Hasil karakterisasi spektrofotometri IR mengindikasikan tidak terbentuknya reaksi kimia pada proses kokristalisasi, hasil karakterisasi difraksi sinar x menunjukan terbentuknya puncak baru yang mengindikasikan terbentuknya kokristal dan hasil karakterisasi dengan Differential Scanning Calorimetry (DSC) menunjukan penurunan titik leleh yang mengindikasikan terbentuknya kokristal pada proses kokristalisasi.
    Kata Kunci :Kokristal, Koformer, Kelarutan, Laju Disolusi, Karakterisasi.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi