
Skripsi
[SKRIPSI] PEMAKNAAN PENGALAMAN PERCEIVED EMOTIONAL INTIMACY SAAT MELAKUKAN SELF-DISCLOSURE KE CHATGPT: STUDI FENOMENOLOGI
Perkembangan artificial intelligence (AI), khususnya ChatGPT, telah
mengubah pola interaksi manusia dengan teknologi. ChatGPT tidak lagi
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan 19012026S4246 S4246 Yus p Perpustakaan Fakultas Psikologi UNPAD (Skripsi) Tersedia -
Perpustakaan Fakultas PsikologiJudul Seri -No. Panggil S4246 Yus pPenerbit Fakultas Psikologi UNPAD : Jatinangor., 2026 Deskripsi Fisik xiv,; 21 x 29,5 cm 304 hlmBahasa IndonesiaISBN/ISSN 190110220145Klasifikasi S4246 Yus pTipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek Info Detil Spesifik [SKRIPSI]Pernyataan Tanggungjawab Yusuf Emir Faisal -
Perkembangan artificial intelligence (AI), khususnya ChatGPT, telah
mengubah pola interaksi manusia dengan teknologi. ChatGPT tidak lagi
dimanfaatkan semata sebagai alat bantu akademik atau pencarian informasi, tetapi
juga menjadi media bagi individu untuk melakukan self-disclosure dan memperoleh
dukungan emosional. Fenomena tersebut memunculkan pengalaman perceived
emotional intimacy, yaitu pengalaman subjektif merasa dipahami, diterima, dan
terhubung secara emosional meskipun interaksi terjadi dengan sistem kecerdasan
buatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam pemaknaan
pengalaman perceived emotional intimacy pada individu young adulthood ketika
melakukan self-disclosure kepada ChatGPT. Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif fenomenologis dengan rancangan Interpretative
Phenomenological Analysis (IPA) untuk memahami bagaimana individu memaknai
pengalaman kedekatan emosional yang terbentuk melalui interaksi dengan AI
chatbot. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap 3
partisipan perempuan berusia 20–22 tahun yang aktif menggunakan ChatGPT
sebagai media self-disclosure dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling.
Berdasarkan analisis data, ditemukan lima Group Experiential Themes (GET)
dalam penelitian ini, yaitu 1) The Gradual Transformation of Intent, 2) Intimacy
with ChatGPT as a Response to Unmet Relational Needs, 3) ChatGPT as a Second
Room of Thought, 4) Opening Up to ChatGPT through the Sense of Being Safe and
Unjudged, dan 5) Ambivalence in Emotional Intimacy with ChatGPT. Hasil temuan
penelitian ini memberikan kontribusi empiris baru mengenai bagaimana interaksi
dengan AI chatbot dapat membentuk pengalaman perceived emotional intimacy
melalui proses self-disclosure, sekaligus menunjukkan bahwa ChatGPT dapat
dipersepsikan sebagai ruang aman untuk memperoleh validasi emosional dan
refleksi diri, meskipun pengguna tetap menyadari bahwa interaksi tersebut terjadi
dengan kecerdasan buatan. Penelitian ini juga memberikan wawasan bagi praktisi
psikologi mengenai dinamika relasi manusia–AI serta implikasinya terhadap
pemenuhan kebutuhan emosional pada individu young adulthood. -
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






