
Skripsi
[SKRIPSI] Ayah Telah Tiada: Pengalaman Fatherless Emerging Adulthood dalam Memaknai Film Miracle in Cell No. 7
Kematian sosok ayah di masa muda memicu fenomena fatherless yang
membawa dampak psikologis mendalam dan traumatis bagi anak, termasuk saat
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan 19012026S4245 S4245 Nig p Perpustakaan Fakultas Psikologi UNPAD (Skripsi) Tersedia -
Perpustakaan Fakultas PsikologiJudul Seri -No. Panggil S4245 Nig pPenerbit Fakultas Psikologi UNPAD : Jatinangor., 2026 Deskripsi Fisik xvi,; 21 x 29,5 cm 152 hlmBahasa IndonesiaISBN/ISSN 190110220050Klasifikasi S4245 Nig pTipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek Info Detil Spesifik [SKRIPSI]Pernyataan Tanggungjawab Nigelio Andhera Wungkur -
Kematian sosok ayah di masa muda memicu fenomena fatherless yang
membawa dampak psikologis mendalam dan traumatis bagi anak, termasuk saat
mereka memasuki fase emerging adulthood. Di era modern, media massa seperti
film sering kali menjadi stimulus emosional yang merefleksikan realitas personal
penontonnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam
pengalaman individu emerging adulthood yang mengalami fatherless akibat
kematian ayah dalam memaknai film Miracle in Cell No. 7—sebuah film yang
mengeksplorasi secara intens hubungan emosional serta perpisahan tragis antara
ayah dan anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis
dengan rancangan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) untuk
menangkap pandangan orang dalam (insider perspective) mengenai bagaimana
sebuah karya sinema mengonfrontasi luka batin dan proses pengolahan duka
(grief) mereka. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara mendalam
terhadap 3 partisipan yang merupakan fatherless berusia emerging adulthood yang
dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Berdasarkan analisis data,
ditemukan lima Group Experiential Themes (GET) dalam penelitian ini, yaitu 1)
Ayah : Antara Kehadiran, Jarak, dan Luka yang Berdampingan, 2) Ketika Tubuh
dan Pikiran Menolak Percaya…Kok Bisa?, 3) Layar Sebagai Cermin Duka:
Tempat Dimana Kesedihan Dinegosiasikan, Diproyeksikan, Bahkan Ditolak, 4)
Force Adulting: Dipaksa dewasa, dipaksa bangkit, dipaksa bergerak maju, 5)
Berdamai: Keinginan yang tidak lagi ‘mungkin’. Hasil temuan studi ini
memberikan kontribusi empiris baru mengenai bagaimana media sinema dapat
berfungsi sebagai alat bantu terapeutik sekaligus pemicu (trigger) emosional
dalam proses grief work pada individu fatherless. Studi ini juga memberikan
wawasan bagi praktisi kesehatan mental mengenai dinamika psikologis populasi
emerging adulthood yang mengalami bereavement.
-
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






