Detail Cantuman

No image available for this title

Skripsi  

[SKRIPSI] Studi Kasus Pengalaman Tekanan Sosial pada Individu Childfree yang Sudah Menikah di Indonesia


Di tengah kuatnya norma pronatalis dalam masyarakat Indonesia, keputusan
untuk menjalani kehidupan childfree setelah menikah masih dapat ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    19012026S4227S4227 Rhe sPerpustakaan Fakultas Psikologi UNPAD (Skripsi)Tersedia
  • Perpustakaan
    Fakultas Psikologi
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    S4227 Rhe s
    Penerbit Fakultas Psikologi UNPAD : Jatinangor.,
    Deskripsi Fisik
    xviii,; 29 x 21 cm , 314 hlm,
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    190110220075
    Klasifikasi
    S4227 Rhe s
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    [SKRIPSI]
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Di tengah kuatnya norma pronatalis dalam masyarakat Indonesia, keputusan
    untuk menjalani kehidupan childfree setelah menikah masih dapat memunculkan
    respons tertentu dari lingkungan sekitar. Respons-respons sosial tersebut menjadi
    relevan untuk dikaji karena keputusan reproduksi dalam konteks pernikahan tidak
    hanya berkaitan dengan preferensi personal, tetapi juga berhadapan dengan
    ekspektasi sosial, nilai budaya, dan keyakinan religius mengenai keluarga dan
    reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman tekanan sosial
    pada individu childfree yang telah menikah di Indonesia. Penelitian menggunakan
    pendekatan kualitatif dengan desain case study. Partisipan terdiri atas empat
    individu perempuan yang telah menikah dan secara sukarela memilih untuk
    menjalani kehidupan childfree. Data dikumpulkan melalui wawancara semiterstruktur yang didukung oleh dokumen digital yang relevan, kemudian dianalisis
    menggunakan thematic analysis. Hasil penelitian menunjukkan tujuh tema utama.
    Pertama, childfree dipersepsikan sebagai keputusan yang bertanggung jawab, yang
    dibangun melalui pertimbangan mengenai kesiapan menjadi orang tua, kondisi
    kehidupan, serta kualitas hidup yang ingin diwujudkan. Kedua, keputusan
    reproduksi dibangun melalui diskusi berkelanjutan bersama pasangan dengan
    mempertimbangkan nilai, tujuan hidup, kenyamanan, dan kondisi masing-masing.
    Ketiga, tekanan sosial muncul dalam bentuk pertanyaan, komentar, saran, dan
    tuntutan yang mengarahkan partisipan untuk mengikuti norma bahwa memiliki
    anak merupakan bagian yang sewajarnya ada dalam pernikahan. Selain didominasi
    oleh keluarga dan kerabat dekat sebagai tokoh yang berkontribusi pada pengalaman,
    tekanan sosial juga muncul dalam konteks religius melalui nasihat dan tuntutan
    keagamaan serta pemaknaan religius mengenai kemuliaan menjadi orang tua.
    Keempat, tekanan sosial dipersepsikan sebagai pelanggaran terhadap batas privat
    pasangan, terutama ketika pertanyaan atau komentar disampaikan secara berulang
    meskipun partisipan telah memberikan penjelasan mengenai keputusan mereka.
    Kelima, meskipun menghadapi tekanan sosial yang berulang, seluruh partisipan
    tetap mempertahankan keputusan childfree. Keenam, keputusan tersebut dipertahankan melalui internalisasi nilai, refleksi terhadap kondisi dan tujuan hidup,
    kesepakatan bersama pasangan, serta dukungan relasional dalam menghadapi
    lingkungan sosial. Ketujuh, partisipan juga menunjukkan berbagai respons terhadap
    tekanan, seperti memberikan penjelasan dan edukasi, menggunakan humor, hingga
    membatasi interaksi. Temuan ini menunjukkan bahwa tekanan sosial tidak selalu
    menghasilkan konformitas terhadap norma pronatalis. Individu tetap memiliki
    kapasitas untuk mengevaluasi dan memaknai tuntutan sosial berdasarkan nilai serta
    tujuan hidupnya, sehingga dapat mempertahankan keputusan reproduksi yang telah
    dibangun secara personal dan relasional.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi