
Skripsi
[SKRIPSI] Hubungan Environmental Identity dengan Sikap terhadap Fast Fashion pada Generasi Z di Kota Bandung
Fenomena fast fashion yang berkembang pesat diketahui memberikan dampak
negatif terhadap lingkungan, termasuk peningkatan limbah tekstil, ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan 19012026S4165 S4165 Put h Perpustakaan Fakultas Psikologi UNPAD (Skripsi) Tersedia -
Perpustakaan Fakultas PsikologiJudul Seri -No. Panggil S4165 Put hPenerbit Fakultas Psikologi UNPAD : Jatinangor., 2026 Deskripsi Fisik xv,; 21 x 29,5 cm 113 hlmBahasa IndonesiaISBN/ISSN 190110220091Klasifikasi S4165 Put hTipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek Info Detil Spesifik [SKRIPSI]Pernyataan Tanggungjawab Putri Rinjani Ramdan -
Fenomena fast fashion yang berkembang pesat diketahui memberikan dampak
negatif terhadap lingkungan, termasuk peningkatan limbah tekstil, pencemaran air,
dan pola konsumsi yang tidak berkelanjutan. Di sisi lain, Generasi Z menunjukkan
paradoks psikologis: kelompok ini sekaligus merupakan konsumen fast fashion
yang intens dan generasi yang semakin sadar terhadap isu lingkungan. Kesenjangan
antara kesadaran dan perilaku aktual ini dikenal sebagai value–action gap.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara environmental identity
dan sikap terhadap fast fashion pada Generasi Z di Kota Bandung. Penelitian
menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional noneksperimental yang bersifat eksploratif. Partisipan berjumlah 195 Generasi Z
berusia 17–29 tahun yang berdomisili di Kota Bandung, diambil melalui teknik
convenience sampling. Environmental identity diukur menggunakan Revised
Environmental Identity Scale (EID; Clayton et al., 2021; adaptasi Maharani, 2025),
sedangkan sikap terhadap fast fashion diukur menggunakan skala yang
dikembangkan peneliti berdasarkan model tripartite Ajzen (2005). Analisis data
menggunakan uji korelasi Spearman's rho. Hasil penelitian menunjukkan terdapat
hubungan positif signifikan antara environmental identity dan sikap terhadap fast
fashion (rs = 0,385; p < 0,001) dengan kekuatan hubungan yang tergolong sedang
dan koefisien determinasi sebesar 14,8%. Analisis per dimensi mengungkap pola
yang berbeda-beda: environmental identity berkorelasi paling kuat dengan dimensi
kognitif (rs = 0,405; p < 0,001), diikuti dimensi afektif (rs = 0,261; p < 0,001),
sementara dimensi konatif tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (rs = -
0,017; p = 0,815). Temuan ini menunjukkan bahwa environmental identity
beroperasi terutama pada level keyakinan dan perasaan, namun belum cukup kuat
untuk menggerakkan kecenderungan tindakan nyata, konsisten dengan
kompleksitas psikologis value–action gap dan prinsip kompatibilitas dalam konteks
konsumsi fast fashion pada Generasi Z.
-
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






