
Tesis
[TESIS] PERAN PARENT-CHILD RELATIONSHIP DAN TEACHER-STUDENT RELATIONSHIP TERHADAP STUDENT ENGAGEMENT PADA REMAJA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DI JATINANGOR
Student engagement merupakan keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran
yang mencakup aspek behavioral, emotional, cognitive, dan ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan 19042026T1020 T1020 Des p Perpustakaan Fakultas Psikologi UNPAD (Tesisi) Tersedia -
Perpustakaan Fakultas PsikologiJudul Seri -No. Panggil T1020 Des pPenerbit Fakultas Psikologi UNPAD : Jatinangor., 2026 Deskripsi Fisik xvii.; 29x21 cm109 hlmBahasa IndonesiaISBN/ISSN 190120240015Klasifikasi T1020 Des pTipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek Info Detil Spesifik [TESIS]Pernyataan Tanggungjawab Destriday Ifriana -
Student engagement merupakan keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran
yang mencakup aspek behavioral, emotional, cognitive, dan agentic engagement.
Keterlibatan belajar pada remaja menjadi penting karena berkaitan dengan
partisipasi akademik, motivasi belajar, serta keberhasilan siswa di sekolah. Namun,
berbagai penelitian menunjukkan bahwa student engagement pada remaja
cenderung mengalami penurunan selama masa sekolah menengah pertama. Dalam
konteks perkembangan remaja, kualitas hubungan dengan figur dewasa yang
signifikan, terutama orang tua dan guru, dipandang sebagai faktor penting yang
dapat mendukung keterlibatan belajar siswa. Berdasarkan attachment theory,
hubungan yang hangat, responsif, dan suportif dengan figur lekat dapat membantu
remaja merasa aman secara psikologis sehingga lebih mampu terlibat aktif dalam
pembelajaran. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan
parent-child relationship (PCR) dan teacher-student relationship (TSR) dengan
student engagement pada remaja sekolah menengah pertama di Jatinangor, serta
membandingkan kontribusi keduanya terhadap student engagement. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Penelitian ini
berlokasi di sub-urban Jatinangor dengan karakteristik sosial-ekonomi masyarakat
menengah ke bawah. Status Sosial Ekonomi (SES) dari gabungan tingkat
pendidikan dan pekerjaan orang tua diposisikan sebagai variabel kontrol. Partisipan
penelitian berjumlah 271 siswa sekolah menengah pertama di Jatinangor yang
dipilih menggunakan teknik stratified random sampling berdasarkan tingkat kelas
VII, VIII, dan IX. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner
secara langsung di 3 sekolah. Student engagement diukur menggunakan Student
Engagement Scale (SES) versi Bahasa Indonesia adaptasi Pratama dan Guspa
(2022) berdasarkan Reeve dan Tseng (2011). Parent-child relationship diukur
menggunakan Skala Parent-Child Relationship (IPPA) versi Bahasa Indonesia
adaptasi Safaria et al. (2024) berdasarkan Armsden dan Greenberg (1987). Teacherstudent relationship diukur menggunakan The Inventory of Teacher–Student
Relationship (IT-SR) versi Bahasa Indonesia yang diadaptasi oleh Ifriana et al.
(2026) berdasarkan Murray dan Zvoch (2011). Analisis data dilakukan
menggunakan analisis korelasi Pearson dan regresi linear berganda dengan bantuan
program SPSS versi 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parent-child
relationship dan teacher-student relationship berhubungan positif secara signifikan
dengan student engagement pada remaja sekolah menengah pertama di Jatinangor.
Semakin positif hubungan remaja dengan orang tua maupun guru, maka semakin
tinggi tingkat student engagement yang dimiliki. Selain itu, tidak ditemukan
perbedaan kontribusi yang signifikan antara PCR dan TSR terhadap student
engagement, sehingga keduanya memiliki peran yang relatif setara dalam
mendukung keterlibatan belajar remaja. Analisis korelasi antar dimensi
menunjukkan bahwa dimensi trust pada PCR memiliki hubungan paling kuat
dengan emotional engagement, sedangkan dimensi communication pada TSR
memiliki hubungan dengan seluruh bentuk engagement. Temuan ini menunjukkan
bahwa hubungan yang ditandai dengan kepercayaan, komunikasi yang positf dan
rendahnya perasaan keterasingan dapat membantu remaja merasa lebih aman,
vi
nyaman, dan aktif dalam proses pembelajaran. Selain itu, variabel kontrol SES
terbukti tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap keterlibatan belajar
remaja. Penelitian ini memberikan implikasi bahwa upaya meningkatkan student
engagement pada remaja tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga
perlu memperhatikan kualitas hubungan remaja dengan orang tua dan guru sebagai
figur dewasa signifikan dalam kehidupan mereka.
-
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






