
Skripsi
[SKRIPSI] PEMAKNAAN PENGALAMAN IDENTITAS BUDAYA PADA MAHASISWA ETNIS TIONGHOA: Studi Interpretative Phenomenological Analysis pada Mahasiswa etnis Tionghoa Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran
Etnis Tionghoa di Indonesia dikenal sebagai kelompok minoritas yang memiliki sejarah panjang dan kekayaan budaya yang khas, namun juga menghadapi ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan 19012025S4126 S4126 Mic p Perpustakaan Fakultas Psikologi UNPAD (Rak.Skripsi) Tersedia -
Perpustakaan Fakultas PsikologiJudul Seri -No. Panggil S4126 Mic pPenerbit Fakultas Psikologi UNPAD : Jatinangor., 2025 Deskripsi Fisik xii; 164 hlm; 30 cmBahasa IndonesiaISBN/ISSN 190110210030Klasifikasi S4126 Mic pTipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek Info Detil Spesifik SKRIPSIPernyataan Tanggungjawab Michelle Carmenthy -
Etnis Tionghoa di Indonesia dikenal sebagai kelompok minoritas yang memiliki sejarah panjang dan kekayaan budaya yang khas, namun juga menghadapi tantangan dalam mempertahankan identitas budayanya di tengah lingkungan sosial yang didominasi oleh budaya mayoritas. Fenomena ini juga tampak pada mahasiswa etnis Tionghoa Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran yang hidup di lingkungan kampus multikultural. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pemaknaan pengalaman identitas budaya pada mahasiswa etnis Tionghoa dengan menggunakan pendekatan kualitatif interpretative phenomenological analysis (IPA) agar diperoleh pemahaman yang mendalam terhadap pengalaman empat partisipan. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan empat group experiential themes, yaitu (1) XJMJ, Ft 1- F (duìa, wă
shi hudyi = Yeah, I'm Chinese; (2) 时光流逝,它悄然消失(shi guang liishi, ta
giào rán xiào shì) = It slipped away while life went on; (3) KIEHIH, RMILE Tĩ Gia zài zhòng jiàn, găn jué hèn fù zá) = Living in between, and it's complicated; dan (4) FM H 0H TLT (you xiè shì réng xù vào líú xià) = Some things are meant to stay. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas budaya mahasiswa etnis Tionghoa bersifat dinamis dan selektif. Sebagian partisipan mengalami penurunan kemampuan berbahasa dialek Tionghoa serta mulai meninggalkan praktik tradisi seperti sembahyang leluhur atau festival budaya tertentu, namun tetap mempertahankan nilai-nilai seperti kebersamaan keluarga, kerja keras, dan penghormatan terhadap orang tua. Partisipan juga menunjukkan ambivalensi identitas, yakni merasa bangga terhadap asal-usul Tionghoa namun sekaligus berupaya menyesuaikan diri agar diterima oleh lingkungan mayoritas.
Temuan ini mencerminkan bahwa identitas budaya mahasiswa etnis Tionghoa tidak sepenuhnya memudar, melainkan berkembang melalui proses akulturasi, yaitu unsur budaya Tionghoa dan budaya mayoritas berpadu membentuk identitas baru yang lebih adaptif terhadap kehidupan sosial masa kini. -
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






