
Skripsi
[SKRIPSI] PENGEMBANGAN NORMA ALAT UKUR FEAR OF HAPPINESS SCALE PADA POPULASI INDONESIA
Ketakutan terhadap kebahagiaan (fear of happiness) merupakan fenomena
psikologis yang banyak diteliti dalam konteks budaya kolektivistik, ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan 19012025S4110 S4110 Raj p Perpustakaan Fakultas Psikologi UNPAD (Rak.Skripsi) Tersedia -
Perpustakaan Fakultas PsikologiJudul Seri -No. Panggil S4110 Raj pPenerbit Fakultas Psikologi UNPAD : Jatinangor., 2025 Deskripsi Fisik xiii,; 105 hlm, 30 cmBahasa IndonesiaISBN/ISSN 190110210001Klasifikasi S4110 Raj pTipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek Info Detil Spesifik [SKRIPSI]Pernyataan Tanggungjawab Rajendra Akmal Maulana Firsta -
Ketakutan terhadap kebahagiaan (fear of happiness) merupakan fenomena
psikologis yang banyak diteliti dalam konteks budaya kolektivistik, termasuk
Indonesia, karena dinilai berkaitan erat dengan nilai-nilai budaya yang
menekankan harmoni sosial dan penghindaran konflik emosional. Namun,
meskipun Indonesia merupakan salah satu negara kolektivis, masih minim
penelitian yang secara khusus menggambarkan tingkat ketakutan terhadap
kebahagiaan dalam populasi Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengembangkan
norma alat ukur Fear of Happiness Scale (FHS) di Indonesia dengan melibatkan
3.372 partisipan dari berbagai latar belakang demografis. Norma dibentuk
menggunakan metode persentil dan dikategorikan menjadi tiga tingkat: rendah
(≤19), sedang (20–25), dan tinggi (≥26). Norma ini kemudian diaplikasikan pada
populasi spesifik, yaitu mahasiswa Universitas Padjadjaran (N = 344) yang berada
dalam tahap perkembangan remaja akhir dan dewasa awal. Hasil menunjukkan
bahwa data mendekati berdistribusi normal dan terdapat perbedaan signifikan
berdasarkan tahap perkembangan serta jenis pekerjaan. Skor tertinggi ditemukan
pada remaja awal (M = 30,5) dan pelajar (M = 23,11), sementara skor terendah
terdapat pada dewasa pertengahan (M = 20,54) dan PNS (M = 19,91). Nilai eta
squared (η2) menunjukkan efek kecil pada seluruh kelompok dengan skor terbesar
(η2 = 0.035). Perbedaan ini belum cukup kuat untuk membentuk norma
sub-kelompok. Norma nasional tetap digunakan, dengan mempertimbangkan
konteks perkembangan dan budaya dalam interpretasi. Penelitian selanjutnya
disarankan mengeksplorasi faktor budaya, perkembangan psikososial, serta
pengalaman hidup yang memengaruhi fear of happiness. Partisipan juga dapat
dikelompokkan ke dalam kategori etnik yang lebih luas (seperti Jawa, Melayu,
Sunda, Papua) agar dapat dianalisis secara lintas budaya secara lebih mendalam. -
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






