Skripsi
[SKRIPSI] PENGALAMAN REMAJA MENGGUNAKAN INSTAGRAM TERHADAP SELF-CONCEPT CLARITY : STUDI KUALITATIF
Instagram adalah salah satu media sosial yang paling sering diakses oleh
masyarakat Indonesia dengan didominasi oleh individu usia remaja ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan 19012025S4093 S4093 Mus p Perpustakaan Fakultas Psikologi UNPAD (Rak.Skripsi) Tersedia -
Perpustakaan Fakultas PsikologiJudul Seri -No. Panggil S4093 Mus pPenerbit Fakultas Psikologi UNPAD : Jatinangor., 2025 Deskripsi Fisik xii; 165 hlm; 30 cmBahasa IndonesiaISBN/ISSN 190110210098Klasifikasi S4093 Mus pTipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek Info Detil Spesifik SkripsiPernyataan Tanggungjawab Musfirah Qisthi Tardauna -
Instagram adalah salah satu media sosial yang paling sering diakses oleh
masyarakat Indonesia dengan didominasi oleh individu usia remaja hingga dewasa
awal karena banyaknya fitur-fitur yang bisa digunakan. Namun penggunaan
Instagram oleh remaja perlu mendapatkan perhatian yang lebih. Berdasarkan
penelitian, ada perbedaan dampak yang diperoleh remaja dari penggunaan media
sosial terhadap self-concept clarity (SCC), yaitu self-concept unity hypothesis dan
self-concept fragmentation hypothesis. Adanya kedua hipotesis tersebut
memunculkan satu pertanyaan penting: bagaimana sebenarnya pengalaman remaja
dalam menggunakan Instagram, sehingga media sosial ini bisa memunculkan dua
dampak yang bertolak belakang terhadap SCC. Penelitian ini menggunakan metode
kualitatif dengan rancangan Interpretative Phenomenology Analysis (IPA) pada 3
orang remaja. Data dikumpulkan melalui wawancara secara langsung. Ketiga
partisipan menunjukkan pengalaman menggunakan Instagram yang berbeda,
tergantung pada kebutuhan psikologis yang tengah mereka alami. Ada yang
menggunakannya sebagai sarana validasi, eksplorasi diri, hiburan, atau untuk
pemenuhan kebutuhan akan hubungan sosial. Perbedaan ini menunjukkan bahwa
fungsi media sosial menyesuaikan dengan tingkat kebutuhan dalam diri seseorang,
selaras dengan teori hierarki kebutuhan Maslow. Dalam segi konten, pengalaman
yang dirasakan oleh partisipan adalah pengalaman yang positif dibandingkan
pengalaman negatif. Dalam konteks pembentukan SCC, dijelaskan sebagaimana
terdapat dua faktor penting yang berperan yaitu self-confirmation, dan anxiety dan
uncertainty. Ketika aktivitas di media sosial mendapatkan respons yang selaras
dengan citra diri, maka hal itu memperkuat pemahaman dan keyakinan terhadap diri.
Sebaliknya, pengalaman negatif yang tidak terkonfirmasi oleh lingkungan sosial
dapat memicu kecemasan, ketidakpastian, dan keraguan identitas. Terdapat faktor
personal yang menjadi pengecualian dimana individu yang telah memiliki nilai,
prinsip, dan kepercayaan diri yang tinggi tidak terlalu terpengaruh oleh pengalaman
negatif. -
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






