
Text
[Skripsi] HUBUNGAN REGULASI EMOSI DAN SOCIAL MEDIA ADDICTION PADA REMAJA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) DI SMP NEGERI 2 JATINANGOR
Dalam era digitalisasi di Indonesia, penggunaan media sosial telah menjadi
fenomena umum, terutama di kalangan remaja. Meskipun media sosial ...
-
Code CallNo Lokasi Ketersediaan 19012024S3951 S3951 Aje h Perpustakaan Fakultas Psikologi UNPAD (Rak.Skripsi) Tersedia -
Perpustakaan Fakultas PsikologiJudul Seri -No. Panggil S3951 Aje hPenerbit Fakultas Psikologi UNPAD : Jatinangor., 2024 Deskripsi Fisik xii., 86 hlm.: ill,; 30 cm.Bahasa IndonesiaISBN/ISSN 190110200022Klasifikasi S3951 Aje hTipe Isi -Tipe Media -Tipe Pembawa -Edisi -Subyek Info Detil Spesifik SkripsiPernyataan Tanggungjawab AJENG NURANTI SYAFITRI -
Dalam era digitalisasi di Indonesia, penggunaan media sosial telah menjadi
fenomena umum, terutama di kalangan remaja. Meskipun media sosial berguna dalam
akses informasi dan komunikasi, tetapi media sosial juga dapat menimbulkan masalah
seperti social media addiction. Secara umum, regulasi emosi berperan dalam kemunculan
masalah tersebut. Bentuk regulasi emosi yang berbeda diprediksi dapat menimbulkan
adiksi media sosial yang berbeda. Salah satu kelompok yang rentan mengalami adiksi
media sosial ialah remaja SMP. Penelitian ini akan melihat bagaimana bentuk regulasi
emosi pada remaja SMP berkorelasi dengan social media addiction, serta perbedaan
kedua variabel berdasarkan jenis kelamin dan jenis pengguna media sosial. Dengan
melibatkan 115 siswa SMP, pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner. Hasil
penelitian menemukan bahwa regulasi emosi yang melibatkan upaya menyembunyikan
ekspresi (expressive suppression) berperan dalam kemunculan social media addiction.
Namun, bentuk regulasi emosi yang melibatkan penilaian kognitif (cognitive reappraisal)
tidak berkorelasi dengan social media addiction. Jenis kelamin dan jenis pengguna media
sosial pun dapat menimbulkan perbedaan pada derajat social media addiction. Tetapi,
tidak ditemukan perbedaan yang signifikan pada regulasi emosi baik berdasarkan jenis
kelamin maupun jenis pengguna media sosial. Oleh karena itu, penting bagi pihak
bimbingan konseling untuk lebih meningkatkan kesadaran para siswa terhadap dampak
buruk dari penggunaan media sosial secara berlebihan. -
Tidak tersedia versi lain
-
Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.
//






