Detail Cantuman

No image available for this title

Text  

[TESIS] KONTRIBUSI HOME LEARNING ENVIRONMENT DAN PRESCHOOL ACTIVITIES TERHADAP PENINGKATAN RECEPTIVE VOCABULARY PADA ANAK USIA PRASEKOLAH


"Sejumlah penelitian di berbagai negara melaporkan interaksi dua
lingkungan belajar anak, yaitu home learning environment dan preschool ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    19012024T0865T0865 Hid fPerpustakaan Fakultas Psikologi UNPAD (Rak Tesis)Tersedia
  • Perpustakaan
    Fakultas Psikologi
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    T0865 Hid f
    Penerbit Fakultas Psikologi UNPAD : Jatinangor.,
    Deskripsi Fisik
    xiv., 113 hlm.: ill.; 30 cm.
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    190120220001
    Klasifikasi
    T0865 Hid f
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    TESIS
    Pernyataan Tanggungjawab
  • "Sejumlah penelitian di berbagai negara melaporkan interaksi dua
    lingkungan belajar anak, yaitu home learning environment dan preschool activities
    dapat menjadi prediktor penting dalam perkembangan receptive vocabulary anak.
    Penelitian di lembaga prasekolah kecamatan Jatinangor juga mengkonfirmasi
    dampak dari kedua lingkungan belajar tersebut terhadap kemampuan berhitung dan
    kosakata anak. Berangkat dari latar belakang ini, penelitian pun dilakukan dengan
    tujuan menganalisis peningkatan receptive vocabulary anak usia prasekolah dalam
    dua waktu pengambilan data dan mengkaji kontribusi dari kedua lingkungan
    mikrosistem tersebut terhadap peningkatan receptive vocabulary anak, mengingat
    penelitian sejenis masih jarang ditemukan di Indonesia. Penelitian ini termasuk
    bagian dari penelitian payung dengan desain longitudinal. Pendekatan penelitian
    yang digunakan adalah kuantitatif dengan teknik pengumpulan data merujuk pada
    penelitian terdahulu yaitu random sampling dengan melibatkan sembilan lembaga
    prasekolah yang ada di kecamatan Jatinangor. Pada penelitian ini, faktor
    demografis juga dilibatkan sebagai kovariat. Teknik analisis data menggunakan uji
    wilcoxon untuk mendapatkan hasil peningkatan receptive vocabulary pada
    hipotesis pertama, dan uji regresi linear berganda untuk mengetahui kontribusi dari
    dua lingkungan mikrosistem tersebut terhadap peningkatan receptive vocabulary
    pada hipotesis kedua.
    Hasil penelitian menunjukkan hipotesis pertama diterima, artinya dalam
    rentang waktu 5,5 bulan, anak usia prasekolah mengalami peningkatan receptive
    vocabulary yang signifikan. Diantaranya terdapat 49 orang mengalami peningkatan
    dan 17 orang lainnya mengalami penurunan. Lima hal yang dapat menjelaskan
    variasi ini yaitu: 1) tingkat keterpaparan anak terhadap kosakata baru; 2) strategi
    pengenalan kosakata yang berhubungan dengan fungsi atau konsep tertentu; 3)
    intensitas interaksi anak dengan orang di lingkungan sekitarnya; 4) pengaruh
    penggunaan bahasa dalam interaksi di rumah; dan 5) kematangan bahasa pada anak.
    Selanjutnya, hipotesis kedua tidak dapat dikonfirmasi karena hasil menunjukkan
    tidak adanya kontribusi yang signifikan dari home learning environment dan
    preschool activities terhadap peningkatan receptive vocabulary anak. Empat
    kemungkinan yang bisa menjelaskan temuan tersebut yaitu: 1) sebagian besar anak
    yang berpartisipasi dalam penelitian berasal dari status sosial ekonomi yang rendah;
    2) keterlibatan orang lain selain orang tua dalam memberikan input bahasa terhadap
    anak; 3) keyakinan terkait pendidikan yang dipegang oleh guru dan orang tua
    kemungkinan berbeda; dan 4) keikutsertaan anak dalam kegiatan ekstra calistung.
    Meski demikian, perlu diperhatikan bahwa penelitian ini hanya satu aspek dari
    kompleksitas perkembangan anak.
    Meskipun tidak ada kontribusi langsung yang tidak signifikan, HLE dan
    preschool activities masih dapat memberikan kontribusi positif terhadap
    perkembangan anak secara holistik. Perlu dipertimbangkan bahwa setiap anak
    merupakan individu yang unik dan mungkin merespon lingkungan belajar baik di
    rumah ataupun lembaga prasekolah dengan cara yang berbeda. Selain itu, hasil
    penelitian ini bersifat dinamis sehingga jika terdapat penelitian lebih lanjut atau
    perubahan kontekstual, hubungan antara HLE, preschool activities dan receptive
    vocabulary anak dapat berubah. Dari penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa
    usia prasekolah merupakan fase yang sensitif terhadap dua lingkungan belajar baik
    di rumah ataupun lembaga prasekolah, sehingga orang tua maupun guru prasekolah
    perlu mengoptimalkan kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang perkembangan
    anak. "
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi