Detail Cantuman

Image of Studi ekologi lanskap pada penggunaan sumberdaya lanskap hasil modifikasi manusia oleh burung pemangsa langka dan terancap punah di Panaruban dan Telaga Warna

 

Studi ekologi lanskap pada penggunaan sumberdaya lanskap hasil modifikasi manusia oleh burung pemangsa langka dan terancap punah di Panaruban dan Telaga Warna


ABSTRAK

Burung pemangsa merupakan spesies yang penting secara biologis,
sensitif terhadap lingkungan dan dapat dipergunakan ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001120100291572 Wit s/R.14.50Perpustakaan Pusat (REF.14.50)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    572 Wit s/R.14.50
    Penerbit Program Pasca Sarjana : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xviii,;216 hlm,;29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    572
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • ABSTRAK

    Burung pemangsa merupakan spesies yang penting secara biologis,
    sensitif terhadap lingkungan dan dapat dipergunakan sebagai indikator sehatnya
    lingkungan. Musim berkembang biak merupakan fase kritis bagi burung-burung
    pemangsa yang saat ini dikategorikan sebagai spesies langka dan terancam punah.
    Pemilihan sarang memberikan konsekuensi yang penting bagi keberhasilan
    perkembangbiakan burung pemangsa. Berkaitan dengan hal tersebut telah
    dilakukan analisis spasial mengenai keberadaan sarang burung pemangsa langka
    dan terancam punah dalam kaitannya dengan struktur lanskap di lanskap hasil
    modifikasi manusia di Panaruban dan Telaga Wama, Jawa Barat. Tujuan dari
    penelitian ini adalah untuk mengkaji berbagai struktur lanskap yang digunakan
    -oleh burung pemangsa dalam menentukan tempat bersarang pada lanskap hasil
    modifikasi manusia di Panaruban dan Telaga Wama. Penelitian dilakukan dengan
    menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif dan kuantitatif dengan
    menggunakan Fragstat versi 2.0. Penelitian ini menggunakan empat radius pada
    jarak 250 m, 500 m, 750 m dan 1000 m sekitar sarang untuk menganalisis
    hubungan antara keberadaan sarang burung pemangsa dan struktur lanskap. Hasil
    penelitian menunjukkan bahwa lanskap Panaruban merupakan mosaik yang
    terdiri dari kombinasi elemen-elemen lanskap yang ditutupi vegetasi alami dan
    binaan yang berbeda apabila dibandingkan dengan lanskap Telaga Wama.
    Pembagian dalam dimensi ruang dan waktu merupakan salah satu strategi burung
    pemangsa dalam mengurangi tingkat kompetisi pada masa perkembangbiakan di
    lanskap Panaruban. Kompetisi intra dan interspesifik pada tiga jenis elang di
    Telaga Wama dapat dilihat dari letak sarang yang ditempatkan oleh masing­
    masing jenis elang.

    Keempat jenis burung elang yaitu elang jawa (Spizaetus bartelsi), elang
    brontok tSpizaetus cirrhatus), elang ular (Spilomis cheela) dan elang hitam
    (Ictinaetus malayensis) cenderung memilih tempat bersarang pada lanskap yang
    derajat kekontrasannya tidak mencolok pada radius 250 m. Dari segi kompleksitas
    lanskap di sekitar tempat bersarang keempat jenis elang, tidak menunjukkan
    perbedaan yang besar pada radius 250 m. Kerapatan daerah tepi sarang elang
    hitam lebih tinggi apabila dibandingkan dengan elang jawa dan elang brontok
    pada radius 250 m-I 000 m. Kelimpahan mangsa di lanskap Panaruban dan
    Telaga Wama cukup tinggi dan tersebar di lima lokasi berburu untuk di
    Panaruban dan tujuh lokasi berburu di Telaga Wama. Perbedaan karakteristik
    dalam pemilihan sarang dipengaruhi oleh struktur lanskap pada skala yang
    berbeda di sekitar sarang. Beberapa strategi pengelolaan perlu dilakukan secara
    bertahap untuk menjaga keberlangsungan burung pemangsa tanpa mengurangi
    pemanfaatannya oleh penduduk yang hidup pada lanskap hasil modifikasi
    manusia di Panaruban dan Telaga Wama.

  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi