Detail Cantuman

Image of Biokonversi limbah padat prapengolahan bioetanol dari singkong oleh saccharomyces cereviae, trichoderma viride, aspergillus niger, dsn konsorsiumnya menjadi pakan domba

 

Biokonversi limbah padat prapengolahan bioetanol dari singkong oleh saccharomyces cereviae, trichoderma viride, aspergillus niger, dsn konsorsiumnya menjadi pakan domba


Biokonversi Limbah Padat Prapengolahan Bioetanol dari Singkong oleh
Saccharomyces cerevisiae, Trichoderrna viride, Aspergillus niger dan

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001140100053570 Sur B/R14.43Perpustakaan Pusat (REF.14.43)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    570 Sur B/R14.43
    Penerbit Program Pascasarjana Unpad : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xvi,;227 hlm,;29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    570
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Biokonversi Limbah Padat Prapengolahan Bioetanol dari Singkong oleh
    Saccharomyces cerevisiae, Trichoderrna viride, Aspergillus niger dan
    Konsorsiumnya menjadi Pakan Domba
    Oleh:
    Yani Suryani
    Tim Promotor:
    Prof.Dr. Hj. Poniah Andayaningsih, M.S.
    Prof. Dr. Wawang Suratno, M.S.(Alm)
    Orin H. Iman Hernaman, M.Si.
    ABSTRAK
    Produktivitas domba Priangan terhambat oleh kurangnya ketersediaan pakan yang bernutrisi. Limbah padat prapengolahan bioetanol dari singkong berpotensi sebagai pakan domba, namun masih mengandung HCN 16,11 mg/kg dan kandungan protein 2,47% sehingga kualitas gizinya masih rendah. Dalam upaya memenuhi kebutuhan pakan tersebut, maka dilakukan penelitian mengenai biokonversi terhadap limbah menjadi pakan bernutrisi tinggi melalui fermentasi dengan melibatkan Saccharomyces cerevisiae, Trichoderma viride, Aspergillus niger, dan konsorsiumnya. Penelitian ini meliputi empat tahap secara eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap.Tahap satu: fermentasi dengan pola faktorial 3 kali ulangan, meliputi 3 faktor yaitu waktu fermentasi 4 dan 8 hari, dosis inokulum 2%, 3%, dan 4%; serta 7 variasi mikroba uji secara tunggal maupun konsorsium.Tahap dua: penambahan nitrogen dan sulfur terhadap hasil terbaik tahap 1, pola faktorial 3 kali ulangan meliputi 2 faktor yaitu suplementasi sumber nitrogen, n1=0,0%; n2=1,5%; n3=3,0% dan sumber sulfur, s1=0,00%; s2=0,02%; s3= 0,04%.Tahap tiga: aplikasi biologis secara in vitro terhadap hasil terbaik tahap dua dengan 4 perlakuan, diulang 5 kali, serta tahap empat merupakan aplikasi biologis secara in vivo dengan menggunakan 20 ekor domba. Data dianalisis dengan Sidik Ragam dan dilanjutkan Uji Barak Berganda Duncan. Hasil penelitian tahap satu yaitu pada dosis inokulum 4% dan fermentasi 8 hari merupakan perlakuan terbaik dimana Trichoderma viride mampu menurunlcan HCN menjadi 0 mg/kg, Trichoderma viride dan Saccharomyces cerevisiae dapat meningkatkan kandungan protein menjadi 4,16%. Konsorsium Aspergillus niger, Trichoderma viride, dan Saccharomyces cerevisiae berhasil menurunkan serat kasar menjadi 1,15%.Tahap dua, penambahan 1,5% urea dan 0,02% sulfur merupakan dosis optimum, yang berpengaruh terhadap kandungan bahan kering yaitu 77,77% dan bahan organik 75,75%, sedangkan kandungan protein kasar tertinggi yaitu 13,03% diperoleh dari dosis optimum 1,5% urea dan 0% sulfur. Tahap tiga suplementasi 25% produk fermentasi merupakan dosis optimum yang berpengaruh terhadap kecernaan terbaik bahan kering 77,06% dan bahan organik 49,59%.Tahap empat penambahan 25% produk fermentasi merupakan dosis optimum yang menghasilkan konversi pakan terbaik dengan nilai kecernaan bahan kering 77,60%. Penambahan konsentrat 50% tidak berbeda nyata dengan penambahan produk fermentasi 25% terhadap income over feed cost.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi