Detail Cantuman

Image of Kajian Sintesis Senyawa Kompleks Besi (II) dengan Basa Schiff Difenilkarbazon-p-Toluidin dan Penggunaannya untuk Katalis dalam Oksidasi Olefin

 

Kajian Sintesis Senyawa Kompleks Besi (II) dengan Basa Schiff Difenilkarbazon-p-Toluidin dan Penggunaannya untuk Katalis dalam Oksidasi Olefin


ABSTRAK
Dalam penelitian ini telah disintesis suatu ligan basa Schiff barn (disebut ligan basa Schiff DPCO-p-T), yaw mengandung suatu gugus ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001150100123540 Sem k/R.14.9Perpustakaan Pusat (REF.14.9)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    540 Sem k/R.14.9
    Penerbit Program Pasca Sarjana : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xix,;105 hlm,;29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    540
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • ABSTRAK
    Dalam penelitian ini telah disintesis suatu ligan basa Schiff barn (disebut ligan basa Schiff DPCO-p-T), yaw mengandung suatu gugus azometin, azo, dan senyawa kompleks besi(II) dari ligan tersebut. Telah juga diuji penggunaan senyawa kompleks yang diperoleh, sebagai suatu katalis dalam reaksi oksidasi suatu senyawa olefin, yang dipilih sebagai contoh. Ligan basa Schiff disintesis dengan menggunakan metode kondensasi, sedangkan sintesis senyawa kompleks besi(II) dari ligan tersebut dilakukan dengan menggunakan metode Variasi Kontinu dari Job. Berdasarkan kepada hasil identifikasi dan karakterisasi, maka ligan dan senyawa kompleks hasil sintesis (secara berturut-turut dengan perolehan 73,16 dan 77,7 %), keduanya merupakan senyawa murni, dan mempunyai titik leleh (secara berturut-turut) 157-158 dan 167-168 C. Produk kristal ligan basa Schiff berwarna jingga tua dan bersifar polar. Seangkan senyawa kompleks basil sintesis yang berupa kristal berwarna coklat muda yang terbentuk dari perbandingan mol (logam terhadap ligan) 1 : 3, dan mempunyai nilai momen magnet efektif (Olen) sebesar 5,56 BM. Analisis data yang dihasilkan menunjukkan bahwa senyawa kompleks mempunyai hibridisasi sp3d2, bersifat paramagnetik dan mempunyai geometri oktahedral. Informasi struktur molekul ligan dan senyawa kompleks yang disintesis telah diperoleh dari data spektroskopi yang dihasilkan. Spektrum absorpsi UV-Visible menunjukkan bahwa ligan basa Schiff DPCO-p-T yang disintesis mempunyai pita absorpsi pada daerah 284 nm, yang berasal dari transisi 7r—>ir* dari gugus azometin. Sementara itu, pergeseran kinaks .dari 516 ke 569 nm lebih disebabkan oleh perpanjangan konyugasi dalam cincin segi lima dari senyawa kompleks itu. Lebih lanjut, spektra infra merah dari senyawa kompleks yang dihasilkan menunjukkan adanya absorpsi pada: 3309,85 cm-1 untuk vibrasi
    ulur dari gugus amin, u(N-H); 879,54 cm-1 untuk vibrasi kibas, y(N-H); 1496,76 -1
    cm untuk gugus azo, u(N=N); 1658,72 cm-[ untuk azometin u(C=N), dan 447,49
    cm 1 untuk ikatan koordinasi dalam gugus, Dengan demikian, semua
    data spektroskopi meyakinkan adanya gugus azometin, azo baik dalam ligan maupun dalam senyawa kompleks yang disintesis. Data TGA-DTA dari senyawa kompleks yang diperoleh menunjukkan adanya peruraian awal senyawa tersebut pada suhu160,82 C yang disertai,, oleh suatu reaksi endotermik. Ini kemudian diikuti oleh peruraian pada 240,2 C, dan pada 295 C, yang disertai oleh suatu reaksi eksotermik. Bersasarkan data pengujian senyawa kompleks yang dgunakan sebagai katalis oksidasi pada sikloheksena, sebagai sampel yang dipilih, menunjukkan bahwa katalis berfungsi mengubah sikloheksena menjadi siklokeksanon.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi