Detail Cantuman

Image of Kehumasan Politik Komisi Pemilihan Umum pada Pemilu Legislatif 2009 (Studi Kasus pada KPU di Wilayah Jawa Barat

 

Kehumasan Politik Komisi Pemilihan Umum pada Pemilu Legislatif 2009 (Studi Kasus pada KPU di Wilayah Jawa Barat


Penelitian dengan judul KEHUMASAN POLITIK KOMISI PEMILIHAN
UMUM PADA PEMILU LEGISLATIF 2009, Studi Kasus pada KPU di wilayah Jawa

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001110100121659.28 Dew K/R.17.513Perpustakaan Pusat (REF.17.513)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    659.28 Dew K/R.17.513
    Penerbit Program Pascasarjana Unpad : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    xxii,;443 hlm,;29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    659.28 Dew K
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Penelitian dengan judul KEHUMASAN POLITIK KOMISI PEMILIHAN
    UMUM PADA PEMILU LEGISLATIF 2009, Studi Kasus pada KPU di wilayah Jawa
    Barat ini dilatarbelakangi oleh beberapa keunikan yang ada pada Pemilu Legislatif 2009
    dan juga keunikan pada lembaga KPD. Keunikan tersebut antara lain terletak pad a sistem
    pemilu yang mengalami beberapa perbedaan substansial pada Pileg 2009 seperti penerapan
    sistem suara terbanyak, perubahan tata cara menandai dari coblos ke contreng serta sangat
    banyaknya jumlah peserta pemilu (38 Parpol dan ribuan Caleg). di sisi lain, terdapat
    kekhasan organisasi KPU sendiri yang terdiri atas dua ranah yakni ranah komisioner (yang
    dipilih melalui seleksi dari masyarakat) sebagai konseptor dan pengambil kebijakan serta
    ranah sekretariat yang merupakan PNS (yang , diperbantukari oleh pemerintah daerah)
    sebagai eksekutor teknis operasional pemilu. Kondisi ini membuat KPU dituntut untuk
    mampu mengelola penyampaian pesan-pesan pemilu yang begitu banyak dan dibatasi oleh
    waktu tahapan yang ketat kepada beragam publiknya. Demokrasi sendiri memiliki tujuan
    yang selaras dengan tujuan humas, yakni membangun saling penegrtian melalui komunikasi
    dua arah secara timbal balik. Maka mengkaji lebih dalam tentang kehumasan politik sebagai
    strategi komunikasi politik yang digunakan KPU dalam menyampaikan pesan-pesan
    politiknya pada Pi leg 2009, menjadi sebuah keniscayaan.

    Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pemaknaan anggota KPU atas
    konsep pemilu legislatif 2009, untuk mengetahui motif yang mendorong perumusan
    kehumasan politik sebagai strategi komunikasi politik KPU di wilayah Jawa Barat pada
    Pi leg 2009, untuk mengetahui penerapan strategi serta untuk mengetahui efektifitas
    penerapan strategi komunikasi politik tersebut.

    Menggunakan paradigma kualitatif dan strategi riset Studi Kasus, peneliti
    menetapkan subjek penelitian sebanyak 12 orang anggota KPU di wilayah Jawa Barat yang
    ditentukan secara purposive. Teknik pengumpulan data terutama dilakukan dengan cara
    wawancara mendalam, observasi partisipan dan studi dokumentasi.

    Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa KPU di wilayah Jawa Barat menggunakan
    konteks komunikasi organisasi dan komunikasi antar persona dalam melaksanakan
    komunikasi politik pada pemilu legislatif 2009. Penerapan strategi ini didasarkan pada
    konstruksi makna konsep pemilu legislatif 2009 secara berbeda sesuai dengan pengalaman
    dan pandangan subjektif masing-masing. Hasil penelitian menunjukkan terdapat lima
    kategori makna ten tang konsep pemilu legislatif yaitu makna integritas penyelenggara,
    makna azas pemilu, makna teknis pemilu, makna sistem pemilu dan makna instrument
    politik & nilai demokrasi. Konstruksi makna ini melahirkan motif yang mendorong anggota
    KPU di wilayah Jawa Barat dalam merumuskan strategi komunikasi politik tertentu selama
    pemilu legislatif berlangsung. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga motif yang muncul
    yaitu motif yang berorientasi ke masa depan, yaitu motif agar pemilih cerdas politik
    sehingga mau menggunakan hak pilihnya dan angka partisipasi pemilih meningkat serta
    pemilu berlangsung dengan kondusif, aman dan lancar. Motif lainnya adalah motif yang
    berorientasi pada pengalarnan masa lalu sehingga diarahkan pada terbangunnya
    kesepahaman bersama antara KPU dengan publiknya. Selain itu KPU di wilayah Jawa Barat
    juga menerapkan beragam konteks komunikasi sebagai strategi kehumasan politik yaitu
    konteks komunikasi massa, komunikasi publik, komunikasi kelompok kecil dan komunikasi
    antar persona. KPU juga menerapkan konteks komunikasi ini dalarn beberapa model
    komunikasi public relations yaitu model komunikasi satu arah public information, dan
    model dua arah two-way asymmetrical serta two-way symmetrical.

    Disarankan agar KPU pada pemilu yang akan datang dapat mengoptimalkan
    penggunaan kehumasan politik sebagai strategi komunikasi politik dengan mengembangkan
    model komunikasi politik dua arah secara simetris.
  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi