<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="14686">
 <titleInfo>
  <title>Formulasi Kebijakan Penertiban Tanah Terlantar Dan Pendayagunaan Tanah Negara Bekas Tanah Terlantar Skala Besar Di Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>BENNY</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Bandung</placeTerm>
   <publisher>Program Pascasarjana Unpad</publisher>
   <dateIssued>2013</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd"></form>
  <extent>xi,;237 hlm,; 29 cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Formulasi kebijakan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 11 &#13;
Tahun 2010 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar dilakukan &#13;
karena banyaknya penelantaran tanah di pedesaan dan perkotaan, selain &#13;
merupakan tindakan yang tidak bijaksana, tidak ekonomis (hilangnya peluang &#13;
untuk mewujudnyatakan potensi ekonomi tanah), dan tidak berkeadilan, serta juga &#13;
merupakan pelanggaran terhadap kewajiban yang hams dijalankan para Pemegang &#13;
Hak atau pihak yang telah memperoleh dasar penguasaan tanah. Dalam formulasi &#13;
kebijakan Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar ini masih terdapat &#13;
masalah yang berkaitan dengan maksud sebelumnya untuk menata kembali tanah­ &#13;
tanah yang diterlantarkan oleh pemegang haknya, dan memasukannya kembali ke &#13;
dalam sistem sosial, ekonomi dan politik pengelolaan aset. Formulasi kebijakan &#13;
Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar ini masih belum dapat &#13;
mengakomodasi masyarakat dan untuk merespon secara cepat program strategis &#13;
negara seperti pangan, energi, infrastruktur, dan perumahan rakyat. &#13;
&#13;
Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif, dikarenakan di dalam &#13;
proses pengumpulan data lebih menekankan penggunaan wawancara, observasi, &#13;
dan analisis non-statistikal. Metode kualitatif memposisikan teori sebagai inspirasi &#13;
dan komparasi, maka fungsi teori akan dimaksimalkan dalam mengembangkan &#13;
aktivitas interpretasi dan konstruksi pada saat wawancara dan observasi. Dengan &#13;
desain induktif kualitatif mampu menghasilkan uraian yang mendalam berkaitan &#13;
dengan ucapan, tulisan, dan atau perilaku tertentu secara komprehensif dalam &#13;
penelitian formulasi kebijakan penertiban tanah terlantar dan pendayagunaan &#13;
tanah negara bekas tanah terlantar skala besar dilakukan pada Badan Pertanahan &#13;
Nasional Republik Indonesia. &#13;
&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi kebijakan penertiban tanah &#13;
terlantar dan pendayagunaan tanah negara bekas tanah terlantar di Indonesia &#13;
belum sepenuhnya memenuhi kriteria fleksibilitas, kriteria kebijakan, niat baik &#13;
para pembuat kebijakan, rasionalitas, partisipasi, efisiensi, dan penetapan dan &#13;
kemampuan menyesuaikan diri. Formulasi kebijakan penertiban tanah terlantar &#13;
dan pendayagunaan tanah negara bekas tanah terlantar di Indonesia didasari oleh &#13;
masalah yang nyata pada saat ini bahwa penelantaran tanah makin menimbulkan &#13;
kesenjangan sosial, ekonomi, dan kesejahteraan rakyat serta menurunkan kualitas &#13;
lingkungan, sehingga perlu pengaturan kembali penertiban dan pendayagunaan &#13;
tanah terlantar. Namun demikian penelitian yang penulis lakukan ini memberikan &#13;
suatu konsep barn, yaitu bahwa formulasi kebijakan penertiban tanah terlantar dan &#13;
pendayagunaan tanah negara bekas tanah terlantar skala besar dilakukan pada &#13;
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia hams memenuhi pula kriteria &#13;
formulasi kebijakan yang menyeluruh (komprehensif), sehingga kebijakan &#13;
penertiban tanah terlantar dan pendayagunaan tanah negara bekas tanah terlantar &#13;
skala besar tersebut tidak memberikan lagi kesempatan untuk berbagai pihak yang &#13;
memanfaatkan adanya kekosongan dalam proses implementasinya. &#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility">Benny</note>
 <subject authority="">
  <topic>Formulasi Kebijakan, Penertiban Tanah Terlantar, P</topic>
 </subject>
 <classification>351 Ben f</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>Perpustakaan Universitas Padjadjaran Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi</physicalLocation>
  <shelfLocator>351 Ben f / 17.287</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">01001130100105</numerationAndChronology>
    <sublocation>Perpustakaan Pusat (REF.17.287)</sublocation>
    <shelfLocator>351 Ben f / 17.287</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>scan0001.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>14686</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2017-04-01 16:18:36</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2017-08-08 08:48:45</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>