<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="14650">
 <titleInfo>
  <title>Desentralisasi Pemberian Izin Pertambangan Batubara Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah Di kabupaten Kutai Timur Provinsi Kalimantan  Timur</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Noor, H. Isran</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Bandung</placeTerm>
   <publisher>Program Pascasarjana Unpad</publisher>
   <dateIssued>2014</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd"></form>
  <extent>xvi,;344 hlm,;29 cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Pennasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah terkait dengan &#13;
desentralisasi pemberian izin. pertambangan batubara dalam penyelenggaraan &#13;
otonomi daerah di Kabupaten Kutai Timur Provinsi Kalimantan Timur. Sejauh ini &#13;
penyelenggaraan pertambangan batubara tampaknya belum secara efektif &#13;
menghasilkan kesejahteraan bagi masyarakat. Sebaliknya kenyataan yang &#13;
dihadapi adalah kondisi lingkungan yang menimbulkan pencemaran udara dan &#13;
berdampak negatif terhadap kesehatan masyarakat. Pada saat yang sama faktor &#13;
hubungan interorganisasional belum kondusif dan karakteristik aparatur &#13;
pemerintah daerah masih menampilkan kurangnya koordinasi dalam &#13;
penyelenggaraan urusan pemerintahan. &#13;
&#13;
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan &#13;
pendekatan kualitatif. Penggunaaan metode deskriptif dan pendekatan kualitatif &#13;
dimaksudkan untuk menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik &#13;
objek dan subjek dari pengamatan empiris yang dilakukan secara tepat dengan &#13;
memperhitungkan variasi pennasalahan yang terkait dengan desentralisasi &#13;
pemberian izin pertambangan batubara dalam penyelenggaraan otonomi daerah di &#13;
Kabupaten Kutai Timur Provinsi Kalimantan Timur. &#13;
&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa desentralisasi pemberian izin &#13;
pertambangan batubara dalam penyelenggaraan otonomi daerah di Kabupaten &#13;
Kutai Timur belum bisa terlaksana secara optimal dalam meningkatkan devisa &#13;
daerah pada taraf yang diharapkan. Walaupun secara faktual kontribusi dari hasil &#13;
pertambangan batubara cukup besar dalam penerimaan APBD dan meningkatkan &#13;
pendapatan serta memperbaiki tingkat kesejahteraan masyarakat. Sektor ini &#13;
pengaruhnya bisa lebih besar lagi sumbangannya seandainya Pemerintah Daerah &#13;
memiliki kewenangan yang luas dalam pengelolaan kawasan hutan dan &#13;
perkebunan yang dalam kenyataan seringkali tumpang tindih. Desentralisasi &#13;
pemberian ijin pertambangan batubara ditentukan oleh faktor: kondisi lingkungan; &#13;
hubungan interorganisasional; sumber daya dan faktor karakteristik instansi &#13;
pelaksana. Selain itu temuan barn dalam penelitian ini adalah percepatan proses &#13;
pelaksanaan desentralisasi pemberian izin pertambangan batubara bagi para &#13;
investor perusahaan tambang batubara juga ditentukan oleh faktor : pertama, &#13;
budaya pelayanan (services culture) yang dilakukan oleh aparatur pemerintah &#13;
daerah yang mengedepankan cara-cara pelayanan yang manusiawi. Model budaya &#13;
pelayanan yang prima dan dilakukan dengan hati ini telah secara langsung atau &#13;
tidak langsung mendorong peningkatan. investasi pertambangan batubara di &#13;
Kabupaten Kutai Timur. Kedua, pola hubungan yang belum hannonis antar &#13;
susunan pemerintahan (govermental relationship) yaitu antara pemerintah pusat, &#13;
pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupatenlkota dalam &#13;
melaksanakan urusan pemerintahan yang bersifat konkuren, khususnya dalam &#13;
urusan energi dan sumber daya mnineral. &#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility">Noor, H. Isran</note>
 <subject authority="">
  <topic>Desentralisasi, Izin Pertambangan Batubara, dan Ot</topic>
 </subject>
 <classification>320 Noo D</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>Perpustakaan Universitas Padjadjaran Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi</physicalLocation>
  <shelfLocator>320 Noo D/R.17.219</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">01001140100173</numerationAndChronology>
    <sublocation>Perpustakaan Pusat (REF.17.219)</sublocation>
    <shelfLocator>320 Noo D/R.17.219</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>scan0001.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>14650</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2017-04-01 16:18:35</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2017-08-03 08:07:36</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>