Detail Cantuman

Image of Komunikasi Narapidana Pada Subkultur Penjara

 

Komunikasi Narapidana Pada Subkultur Penjara


Satriawan; L3G050 141; Komunikasi Narapidana Pada Subkultur Penjara (Studi
Kasus Di Lapas Kelas I Sukamiskin Bandung Dalam Tinjauan ...

  • CodeCallNoLokasiKetersediaan
    01001100100251302.359 823 31 Sat k/R.17.172Perpustakaan Pusat (REF.17.172)Tersedia
  • Perpustakaan
    Perpustakaan Pusat
    Judul Seri
    -
    No. Panggil
    302.359 823 31 Sat k/R.17.172
    Penerbit Program Pascasarjana Unpad : Bandung.,
    Deskripsi Fisik
    331 hlm,;29 cm
    Bahasa
    Indonesia
    ISBN/ISSN
    -
    Klasifikasi
    302.359 823 31 Sat k
    Tipe Isi
    -
    Tipe Media
    -
    Tipe Pembawa
    -
    Edisi
    -
    Subyek
    Info Detil Spesifik
    -
    Pernyataan Tanggungjawab
  • Satriawan; L3G050 141; Komunikasi Narapidana Pada Subkultur Penjara (Studi
    Kasus Di Lapas Kelas I Sukamiskin Bandung Dalam Tinjauan Fenomenologi);
    Program Pascasarjana UNPAD, 2010; promotor Prof. H. Deddy Mulyana, M.A.,
    Ph.D.; Prof. Dr. H. Juhaya S. Praja, M.A.; Prof. Dr. H. Suryana Sumantri, MSIE.

    Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji komunikasi narapidana yang
    baru pertama kali menjalani hukuman penjara untuk tindak pidana umum.
    Penelitian kualitatif dalam tinjauan fenomenologi dengan kajian kasus dari 13
    orang narapidana yang mengalami pemenjaraan pertama kali yang khusus terlibat
    kasus pidana umum (kriminal murni) pada Lembaga Pemasyarakatan Kelas I
    Sukamiskin Bandung sebagai informan. Data diperoleh melalui kegiatan
    wawancara mendalam, pengamatan, dan studi dokumentasi, kemudian data
    dianalisis secara deskriptif kualitatif.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa; pertama, Pandangan narapidana
    terhadap tindak pidana krirninal dan proses awal pengadilan, hingga
    pemenjaraannya lebih didominasi oleh rasa penyesalan mendalam yang
    menghantarkan dirinya ke dalam penjara, sehingga terabaikannya pengabdian
    terhadap orangtua dan kewajibannya terhadap anak-anak mereka; kedua, Po la
    transformasi identitas narapidana yang mengalami pemenjaraan untuk pertama
    kali merniliki tendensi gegar penjara yang nyaris sama pada tahap awal, dan mulai
    bervariasi ketika memasuki tahap adaptasi, dan tahap unifikasi ke arah
    penerimaan identitas total sebagai narapidana; ketiga, Upaya strategis narapidana
    untuk mempertahankan diri dalam penjara cenderung dilakukan dalam konteks
    tindakan komunikatif yang bertumpu pada tiga bentuk interaksi meliputi
    penyingkapan diri, bergaul selektif dan menutup diri dari kemungkinan implikasi
    maupun kontaminasi unsur budaya yang rentan beresiko dalam kehidupan
    subkultur penjara; keempat, Pemaknaan perilaku simbolik narapidana dalam
    memandang dirinya dan komunitas lingkungan penjara sangat dipengaruhi oleh
    kejadian traumatik yang menjadi pencetus tindak pidana yang menghantarkan
    pelaku dalam kondisi terpenjara; kelima, Konstruksi sosial realitas narapidana
    selama menjalani masa hukuman di dalam penjara didasarkan atas 'motif karena',
    'motif antara', dan 'motif untuk' yang bertumpu pada mempertahankan diri dan
    rasa aman dalam rangka melanggengkan "berkelakuan baik" untuk mempercepat
    pencapaian kebebasannya, serta sikap dan pandangannya menghadapi berbagai
    kemungkinan setelah bebas; keenam, Pengelolaan kesan narapidana dalam
    berkomunikasi dengan sesama warga binaan pemasyarakatan, petugas dan orang
    lain mengacu pada simbol verbal, sirnbol nonverbal, dan sirnbol objektika yang
    kadang dirnainkan bergantian sebagai panggung belakang maupun depan yang
    cenderung menjadi panggung dualistik (panggung ganda).

  • Tidak tersedia versi lain

  • Silakan login dahulu untuk melihat atau memberi komentar.


//

Informasi